MUQODDIMAH
إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله
أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار
Sesungguhnya segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan pada-Nya, dan kita memohon pengampunan dari-Nya serta kita berlindung dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan kejahatan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maka tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tiada seorangpun yang dapat menunjukinya. Sesungguhnya kami bersaksi bahwa tiada Ilah yang haq untuk disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Adapun setelah itu, sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petujuk adalah petunjuk nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam sedang suburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan tiap bid’ah itu adalah sesat dan tiap kesesatan itu tempatnya adalah neraka.
Amma Ba’du :Sesunguhnya Allah SubhanaHu wa Ta’ala mengutus nabi-Nya dengan agama yang Haq, yang akan dimenangkan dari agama-agama lainnya dengan kelapangan syariat dan jaminan bagi manusia untuk hidup dengan mulia lagi suci sebagai Rahmatan lil ‘alamin.
Berfirman Allah SubhanaHu wa Ta’ala :
“Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar ia memenangkannya di atas segala agama walaupun orang-orang musyrik benci.” (QS. Ash-Shaff 61:9).
Demikian pula Allah SubhanaHu wa Ta’ala berfirman dalam QS Al-Anbiyaa’ 21:107 :
“Dan tidaklah kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat semesta alam”
Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’an Al-Karim untuk seluruh manusia dan jin, yang menunjukkan keuniversalitasan islam yang tak tersekat-sekat oleh waktu dan tempat. Berfirman Allah SubhanaHu wa Ta’ala :
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Fuqaan 25:1)
Demikian pula Allah Ta’ala mengutus rasul-Nya kepada seluruh manusia seluruhnya, yang menjadi pembeda dengan agama samawi lainnya yang hanya diturunkan untuk suatu kaum atau suatu bangsa, berfirman Allah SubhanaHu wa Ta’ala :
“Tiadalah kami mengutusmu kecuali bagi seluruh manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pembawa peringatan, tapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ 34:28)
RasuluLlah menjelaskan pula hal ini dalam sebuah haditsnya yang Shahih: “Setiap Nabi dikirim khusus kepada bangsanya, tetapi saya dikirim kepada bangsa berkulit merah maupun hitam.”
Keuniversalitasan islam tampak pada ciri kerisalahannya sebagai berikut :
1. Tidak dijumpai di dalamnya hal-hal yang sukar diamalkan atau kesulitan-kesulitan. Bahkan islam menghendaki kemudahan-kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan dan kesukaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Allah tiada membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah 2:286) lihat pula Surat Al-Baqarah 2:185, dan Al-Hajj 22:78). Hal ini dijelaskan pula oleh Nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Abi Said Maqburi RadhiaLlahu ‘anhu, bersabda RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya agam ini mudah dan tak ada seorangpun yang mempersulitnya kecuali ia akan kalah.” Juga sabdanya ; “Agama yang dicintai oleh Allah adalah agama yang murni dan tidak sulit.”
2. Islam adalah konsep hidup yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari masalah-masalah yang sederhana seperti adab makan, istinja’ hingga ke permasalahan yang lebih kompleks seperti politik, ekonomi, dan seterusnya. Termasuk pula permasalahan perang, jihad, apalagi pembunuhan dan semacamnya.
3. Islam adalah agama yang rahmat bagi seluruh semesta alam, yang tidak mengajarkan kepada kerusakan, bahkan salah satu tujuan dan hikmah syariah adalah untuk menolak kerusakan dan bahaya. Maka tak heran para fuqoha’ membuat suatu qoidah dalam islam yang berbunyi : “Daf’ul mafaasid muqoddamun ‘ala jalbil mashaalih” (Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.”
4. Islam adalah agama pertengahan yang selaras dengan fithrah, tidak mengajarkan kehidupan kependetaan yang mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dan juga tidak bersifat hedonisme yang menabrak koridor-koridor yang diharamkan.
JIHAD : Syariat islam tertinggi yang sering disalahartikan.
Bersabda nabi yang mulia ‘alaihi Sholaatu wa Salaam : “Urusan terpenting adalah islam, tiangnya adalah sholat dan puncaknya adalah Jihad fi sabiliLlah.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah.)
Setelah kita mengetahui bahwa islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yang tidak menghendaki kerusakan, nilai universalisme yang dimilikinya tak ada bandingannya oleh agama-agama manapun. Maka pengetahuan tentang konsep pemeliharaan syariat islam adalah suatu keniscayaan dalam pelanggengan kehidupan islam. Namun hal ini tak akan dapat dicapai kecuali dengan dua hal, yaitu : DA’WAH (amar ma’ruf nahi munkar) dan JIHAD.
Dua amalan inilah yang akan membawa islam kepada kelanggengan kehidupan syariatnya, namun kedua amalan ini memiliki fundamen, kaidah, dan koridor-koridor ilmiyah yang harus difahami. Mispersepsi tentang implementasi kedua hal ini akan berimplikasi kepada kerusakan yang lebih besar, sebagaimana telah terjadi kini…
JIHAD : Konsepsi utama dalam realisasi syariat islam
Jihad merupakan syariat islam tertinggi dalam islam, ia merupakan kekuatan kaum muslimin yang menjadi sebab penyelamat dari berbagai bencana, bala’ dan kesedihan. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :”Barangsiapa mati sedangkan ia tak pernah berjihad, ataupun ada keinginan untuk berjihad, maka matinya dala keadaan diantara cabang kemunafikan.” (HR. Ahmad)
Saat ini… tatkala jihad mulai dilalaikan dan kaum muslimin diliputi kehinaan, kesengsaraan dan kesedihan senantiasa datang bertubi-tubi silih berganti, tak satupun di bumi timur maupun di bumi barat, di ujung utara maupun di ujung selatan. Melainkan ummat ini dalam keadaan sakit, lemah dan tak memiliki izzah. Mereka menjadi bulan-bulanan kaum kafir, menjadi korban kebiadaban kaum musyrikin sedangkan mereka tak mampu bangkit, karena kekuatan mereka telah musnah seiring dengan dilalaikannya ilmu dan aqidah mereka yang telah menjadi rusak…
Di saat itu pula bangkit sebagian ummat islam dari keterlalaiannya, bangun dari tidur dan keterpurukannya, mereka tersontak dan tersedarkan, bahwa mereka saat ini dalam keadaan yang diliputi kehinaan, sembari mereka berdiri dan berteriak : “wahai ummat islam, sadarlah dan bangkitlah, kita saat ini dalam keadaan dijajah, diinjak-injak… bangkitlah!!!” dan saat itu pula mereka terpekik JIHAD… JIHAD…!!! Pekik ini kini membahana di mana-mana, bumi yang terluka Afghanistan, bumi yang menangis Palestina, hingga bumi-bumi Allah lainnya yang ternodai seperti di Kashmir, Chehchnya, dan hampir di seluruh penjuru dunia. Kalimat ini menjadi kekuatan mereka, dan senjata ampuh mereka, karena dengan kalimat ini, mereka tersemangati untuk HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID…!!!
Namun, dibalik pekikan-pekikan Jihad yang membahana di bumi Allah ini, dibalik kalimat yang mulia ini… dibalik semangat yang perlu disyukuri ini, ternyata diadopsi secara serampangan oleh beberapa kelompok islam yang berangkat dari ketertindasan dan keteraniayaan, dengan implementasi jihad secara serampangan, tanpa dilandasi atas dasar ilmu, dan hanya dibayang-bayangi oleh semangat dan perasaan belaka…. Saat itulah musibah dan bencana baru melanda… dengan atas nama jihad, mereka melakukan pembunuhan massal terhadap orang kafir (bahkan tak mustahil ummat islam menjadi korbannya), mulai dari pengeboman pusat-pusat perdagangan, keramaian hingga penculikan dan pembajakan…!!! Jihad mengalami distorsi makna dan syariah, terorisme menjadi jihad dalam anggapan mereka… Wallahul muwaafiq…!!!
Karena ulah mereka ini, kerusakan-kerusakan dan madharat yang menimpa ummat islam semakin bertubi-tubi, islam yang telah terpuruk menjadi semakin terpuruk, karena ulah mereka, dakwah perbaikan ummat jadi terhambat, dan utopia opini publik terhadap islam kaafah yang sunnah menjadi fobia dan sindrom masyarakat, sikap apatis dan apriori terhadap sunnah semakin merebak… gerakan da’wah islam semakin terhambat dan islam semakin terpuruk oleh hantaman fitnah ini.
Yang pasti pula, bahwa tindakan pengeboman, penghancuran fasilitas dan tempat-tempat umum, serta pembunuhan walaupun terhadap orang kafir (bukan harbi), adalah haram menurut islam, dan pelakunya dianggap melakukan tindakan yang menyelisihi syariat islam dari segala sisi. Jika pelaku mengatasnamakan tindakannya dengan jihad, maka sungguh ia telah menfitnah syariat islam yang murni ini untuk melegitimasi nafsu dan keinginannya. Berikut ini hukum-hukum, adab-adab dalam jihad yang menyelisihi tindakan pengeboman dan terorisme atas nama islam.
HUKUM JIHAD
Secara umum jihad hukumnya adalah Fardhu Kifayah. Namun dapat berubah menjadi fardhu ‘ain dalam keadaan :
- Apabila musuh menyerang negeri kaum muslimin, dan hukumnya adalah fardhu ‘ain bagi kaum muslimin yang muqim di daerah trsebut, dan fardhu kifayah bagi muslim yang berada di luar wilayah.
- Saat khalifah/imam mengumandangkan jihad.
- Saat berhadapan dengan musuh dalam kancah peperangan atau jika dua pasukan telah berhadapan, maka hukumnya adalah fardhu ‘ain dan diharamkan untuk mundur dari kancah peperangan, kecuali jika untuk melancarkan strategi.
Para ulama’ juga menjelaskan bahwa jihad itu ada 2 macam, yakni :
1. Jihad Al-Fath (ofensif/ekspansi), hukumnya fardhu ‘ain jika diperintah kholifah. Jihad ini memiliki syarat-syarat :
- Ada Imam/.Khalifah kaum muslimin.
- Ada Daulah Islamiyyah yang dhahir/nampak/nyata.
- Ada liwa’/panji-panji islam.
- Ada istitho’ah/kemampuan berupa kekuatan baik kekuatan ruhani (aqidah islamiyyah yang benar) dan kekuatan fisik (berupa alat-alat dan perlengkapan perang).
2. Jihad Ad-Difa’ (Defensif/memepertahankan diri), yakni jika suatu wilayah kaum muslimin diserang oleh pasukan musuh, maka hukumnya adalah fardhu ‘ain bagi orang yang tingal di wilayah tersebut.
Maka, dari bentuk jihad di atas, termasuk jihad manakah aktivitas pengeboman dan penghancuran serta pembunuhan massal kaum kafir?
Jika mereka menjawab termasuk jihad al-Fath (ofensif), maka kita jawab, apakah syarat-syarat jihad fath sekarang sudah terpenuhi? Sudah adakah imam sekarang? Sudah adakah daulah khilafah islamiyyah sekarang? Manakah liwa’ (panji) daulah tersebut? Dan apakah kekuatan kaum muslimin sudah memadai? Lantas jika belum ada, darimanakah mereka bisa mengatakan bahwa tindakan mereka itu adalah jihad fath…????
Jika mereka mengatakan jihad difa’, maka kita kataan, apakah menghancurkan (baca:mengebom) tempat-tempat keramaian termasuk membela diri? Apakah membunuh aparat keamanan termasuk jihad difa’? Apakah membunuhi manusia yang tak dalam keadaan perang disebut membela diri? difa’ (pembelaan) seperti apakah yang dimaksudkan?
Maka, aktivitas-aktivitas mereka tersebut tidaklah termasuk jihad baik jihad fath maupun jihad difa’. Lantas, darimanakah mereka bisa mengambil kata jihad ini kemudian mereka sematkan kepada tindakan mereka??? waLlahul Musta’an.
ADAB-ADAB JIHAD
SubhanaLlah, maha suci Allah yang menurunkan syariat-Nya yang sempurna ini… sungguh islam adalah agama yang menjunjung tinggi adab-adab kemanusiaan yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Dalam segala aspek islam mengatur akan adab-adabnya, apalagi dalam masalah perang, islam mengajarkan adab-adab berperang yang mulia. Diantara adab-adab berperang di dalam islam tersebut adalah :
- Menyeru orang kafir sebelum menyerang mereka kepada islam atau bersedia tunduk dengan hukum islam. Jika mereka menolaknya baru diperangi.
- Tidak boleh membakar musuh dengan api, sebagaimana dalam sabda nabi ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam : “Jika kalian menemukan musuh kalian maka bunuhlah, namun janganlah kalian membakarnya dengan api, sebab tidak boleh membunuh dengan api kecuali pemilik api neraka.” (HR. BUkhari).
- Tidak boleh menyayat, memotong-motong, ataupun mencincang tubuh orang yang terbunuh. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain, beliau RadhiaLlahu ‘anhu berkata : “RasuluLlah memerintahka kita bersedekah dan melarang memotong-motong tubuh orang yang terbunuh.” (HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih)
- Tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, orang sakit, orang tua/jompo, hamba sahaya/budak dan orang yang tidak turut berperang.
- Tidak boleh merusak bangunan, membunuh hewan, merusak tanaman, mencemari sumber air.
- Tidak boleh menghabisi orang yang terluka, mengejar orang yang lari dari medan perang.
- Tidak boleh membunuh orang yang meminta ampun, ataupun yang telah bersahadat masuk islam.
Dan masih banyak lagi adab-adab jihad yang diajarkan oleh RasuluLlah dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya, sehingga islam menjadi agama yang tangguh namun beradab, islam menjadi agama yang kuat namun menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Lantas, dimanakah letak adab jihad tersebut dengan tindakan-tindakan pengeboman dan pembunuhan massal baik terhadap kaum kafir maupun muslim yang menjadi korban dengan atas nama jihad??? Tidakkah mereka membunuhi manusia-manusia pada saat keadaan aman (perang tidak dikumandangkan)??? Bukankah mereka juga membunuh orang yang bermacam-macam di sana, baik wanita, anak-anak, orang tua??? Maka jihad apakah yang mereka tegakkan dan mereka seru??? Maka sungguh merupakan suatu bencana tatkala tindakan terorisme dianggap dengan jihad islami.
FATWA SYAIKH ABUL HASAN MUSTHOFA AL-MISHRI
Ditanya beliau hafidhahuLlah tentang tindak peledakan bangunan dengan dalih jihad pada Jumadil ‘Ula, sebagai berikut :
Tanya : Kami mendapati beberapa orang yang mengaku aktivis islam melakukan tindakan penculikan sejumlah tokoh atau melakukan tindak peledakan terhadap gedung-gedung perkantoran dan pertokoan. Apabila ditegur mereka membantah dengan berkata, “Perbuatan seperti ini telah dilakukan oleh para sahabat dengan seizin RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu pada peristiwa terbunuhnya Kaab bin Asyraf, seorang thaghut Yahudi.” Apakah perbuatan seperti itu benar dan tepat sesuai dengan metode ahlus sunnah wal jama’ah? Dan apakah cara seperti itu dapat menolong agama islam? Kemudian apa nasehat Anda kepada mereka?
Jawab : Alhamdulillah, semua orang sudah mengetahui sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaah terhadap masalah ini. Terutama orang orang yang telah mengenal dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, baik melalui buku-buku, kaset-kaset dakwah, atau yang lainnya. Barangsiapa yang mau berhenti sejenak untuk merenungkan hal itu, maka akan tampak jelas baginya bahwa cara-cara seperti itu adalah fitnah (menimbulkan malapetaka) dan dapat menghalangi orang untuk beragama islam. BAHAYANYA LEBIH BESAR DARI MANFAATNYA. Walaupun pelakunya melakukan hal itu dengan niat ikhlas semata-mata untuk membela agama, namun keadaan mereka sama seperti yang dilantunkan dalam sebuah syair :
Sa’ad menggiring onta-ontanya sambil berselimut.
(maka dia pun ditegur). Wahai Sa’ad bukan begitu cara menggiring onta!
Para tokoh ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah abad ini telah memberi peringatan akan bahaya cara-cara seperti itu. Diantara mereka adalah Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, muhadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dan ahli fiqih dan ushul Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, serta ulama lain yang sejalan dengan mereka. Akan tetapi, dilain pihak banyak pemuda belia yang dangkal ilmunya dan kurang pengalamannya tidak peduli dengan keterangan para ulama tersebut. Akibatnya, fitnah dan kerusakan tersebar di segala penjuru bumi. Sungguh sangat memilukan.
Betapa banyak orang-orang yang tak bersalah ikut terbunuh! Betapa banyak umat islam yang menjadi korban kezaliman karena telah dianggap kafir Semua itu dilakukan tanpa ada rasa takut ataupun segan sama sekali. Betapa banyak anak-anak dan wanita yang tidak tahu menahu ikut menjadi korban akibat ucapan-ucapan yang tidak bertanggung jawab lagi tidak dikenal Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam memahami dalil.
Perlu diketahui, kisah tewasnya Ka’ab bin Al-Asyraf tidak dapat dijadikan dalil tindakan mereka, dengan alasan sebagai berikut. :
1. Ka’ab bin Al-Asyraf –semoga Allah melaknatnya- sudah jelas kekafirannya. Adapun pemuda-pemuda tersebut memvonis kafir (orang lain) dengan pemahaman yang rusak (salah). Walaupun sebagian mereka ada yang ikhlas, namun keikhlasan itu tidaklah mencukupi hingga terpenuhi syarat yang kedua, yaitu sesuai dengan sunnah. Diantara mereka pula ada yang memvonis kafir dengan hawa nafsu, atau untuk mengejar keuntungan materi dunia. Boleh jadi orang yang dibunuh tersebut seorang yahudi atau nasrani, namun untuk membunuh mereka juga harus dipenuhi syarat-syarat tertentu yang sudah dimaklumi oleh para ulama. Namun, pemuda-pemuda tersebut tidak mau menengok apalagi mempelajarinya.
2. Pembunuhan atas diri Ka’ab bin Al-Asyraf adalah atas anjuran dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau berkata kepada para sahabatnya : “Siapakah yang bersedia membunuh Ka’ab bin al-Asyraf karena dia sungguh telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.” RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam tentunya tidak akan berucap dengan hawa nafsu, begitu pula dengan pewaris beliau, yaitu para ulama’. Berbeda dengan para pemuda tadi. Mereka bukan ulama’ dan tidak pula merujuk kepada ulama’.
3. Tewasnya Ka’ab bin al-Asyraf adalah kehinaan bagi Yahudi dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Berbeda dengan tindakan para pemuda tadi. Kenyataannya tindakan itu justru menghalangi orang untuk menjalankan agama Allah, dan memecah belah persatuan kaum muslimin, serta membuka peluang bagi musuh untuk menjajah negeri-negeri kaum muslimin dengan alasan MEMBERANTAS TERORISME. Perbuatan itulah yang mengakibatkan penjara-penjara penuh dengan orang-orang lemah lagi tak bersalah, dan berujung pada penghinaan kaum muslimin. waLlahul musta’an.
Sungguh amat memilukan! Betapa banyak pemuda islam yang dahulu wajahnya bersinar tatkala menuju ke masjid untuk menghadiri majleis-majlis ilmu Al-Qur’an, aqidah, dan lain lain. Namun, ketika mereka ditangkapi akibat perbuatan orang lain, akhirnya mereka pun berbalik menjadi aktivis-aktivis tempat hiburan dan perusak sendi-sendi agama dan syiar-syiar islam.
4. Ka’ab bin al-Asyraf dibunuh oleh para Sahabat, kemudian mereka berkumpul di hadapan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam lalu mengumandangkan takbir karena gembira atas terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf. Adapun pemuda-pemuda tadi, setelah melakukan perbuatan menyimpang tersebut, biasanya mereka terus bersembunyi kemudian orang lain yang ditangkap lalu disiksa dengan cambukan hingga kulitnya mengelupas atau dihajar sampai babak belur, dan sebagainya . tepat sekali ucapan seorang penyair :
Orang lain yang berbuat jahat namun aku yang kena getahnya
Maka nasibku tidak lain seperti nasib jari telunjuk yang menyesali diri.
5. Para sahabat hanya membunuh Ka’ab bin al-Asyraf saja karena hanya dia yang diizinkan RasuluLlah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallam untuk dibunuh. Berbeda dengan aksi-aksi peledakan terhadap gedung-gedung perkantoran yang di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan orang yang beraneka ragam, ada yang jahat dan ada yang baik. Apakah sama seratus mereka dengan Ka’ab bin al-Asyraf?
6. Terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf membawa maslahat yang jelas. Berbeda dengan apa yang dilakukan pemuda tadi yang nyata-nyata membawa kepada kerusakan.
WAR AGAINST TERRORISM : Jargon untuk menghantam islam
Luluh lantaknya WTC 11 September beberapa tahun silam, disusul dengan meledaknya legian Kuta Bali di negeri ini, diikuti dengan peledakan tempat-tempat lainnya, menorehkan suatu sindrom dan fobia tersendiri bagi publik dunia. Penggiringan opini bahwa pelaku adalah ummat islam –terlepas dari tanpa bukti dan fakta- menyebabkan antipati publik terhadap islam. Terlebih lagi beberapa kelompok islam yang dituding sebagai pelaku tindak terorisme menunjukkan indikasi membenarkan aktivitas-aktivitas tersebut.
Dengan demikian, tatkala jargon internasional yang ditabu oleh A.S. sebagai klaim perang terhadap teroris, yaitu jargon War against Terrorism (lebih tepatnya war againts islam) yang membahana di seantero dunia tak terkecuali negeri-negeri islam menjadi motto dan slogan yang disandang tiap negeri dengan menuding kelompok-kelompok yang mereka identifikasi sebagai islam fundamentalis dan lain sebagainya, saat itulah jargon ini menjadi senjata yang ampuh untuk menghantam aktivitas da’wah islamiyyah secara merata.
Islam identik dengan teroris adalah suatu hal yang menjadi lazim dalam pandangan publik dunia, maka tak heran ruang gerak dakwah islamiyyah semakin sempit, bahkan tindakan-tindakan kekejian terhadap ummat islam di berbagai negara menjadi meraja lela. Tak heran kita dengar pasca Bali Blast di Legian silam, para muslimah di Australia diteror, Masjid di daerah Afrika selatan diledakkan, kegiatan dakwah islamiyyah di Negara-negara islam dimata-matai, tokoh-tokoh islam ditangkapi, dan lain sebagainya. Yang mana hal ini menunjukkan bahwa jargon “War Against Terrorism” sangat ampuh untuk menghantam islam.
Dengan Jargon ini pulalah A.S. dapat menghantam milisi Thaliban di Afghanistan menjadi hancur, dan sekarang mereka mengantam Iraq dengan dalih yang serupa. WaLlahul Musta’an.
FENOMENA TERORISME : Teroris teriak teroris…!!!
Penting untuk diketahui, bahwa hingga hari ini tak ada satupun definisi terorisme yang dapat disepakati oleh semua fihak, baik dalam hukum internasional ataupun berbagai organisasi berskala internasional. Bahkan beberapa Negara dan organisasi memiliki definisi masing-masing sesuai dengan persepsinya masing-masing. Hal ini lebih banyak didorong oleh faktor ideologis, politis dan kepentingan sosial.
Dengan adanya perbedaan politis, ideologis dan kepentingan tertentu, terdapat dua persepsi dan interpretasi yang berbeda menanggapi suatu aksi. Di satu sisi aksi tersebut bisa jadi dianggap sebagai tindakan terorisme yang harus dikecam namun di sisi lain aksi tersebut dipandang sebagai aksi perlawanan mencapai kemerdekaan atau perjuangan membela hak asasi kemanusiaan. Oleh karena itu, tidak mungkin terjalin suatu kerjasama internasional untuk memberantas terorisme kecuali jika mereka berhasil mempersatukan persepsi mereka tentang definisi terorisme dengan melepaskan kepentingan ideologis dan politiknya.
Sebagai contoh, gerakan intifadhah di Palestina yang memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya dari aggressor keparat Yahudi, mereka dianggap sebagai teroris karena memerangi Yahudi walau dengan maksud perjuangan mempertahankan negerinya. Namun di lain fihak, tindakan pembantaian, penangkapan, pembunuhan, penghancuran dan pencaplokan tanah oleh Yahudi terhadap muslimin Palestina tidak dianggap sebagai terorisme…!!!
Satu contoh lagi yang saat ini benar-benar telah terjadi, yaitu agresi militer A.S. terhadap negeri 1001 malam, Iraq. Walaupun dunia internasional telah mencerca dan masyarakat dunia telah protes, namun dengan arogannya dengan dibantu koalisi sekutu-sekutu setianya, mereka tetap melancarkan agresi militer ke Iraq. Demikianlah sikap para pencinta terror sejati, teroris sejati, mereka akan menteror siapa saja dan melemparkan istilah terorisme kepada siapa saja menurut definisi yang mereka tetapkan, dan dunia harus tunduk dan patuh terhadap mereka… ya, merekalah teroris sejati yang senang berteriak teroris..!!!
DEFINISI TERORISME : Polemik yang tak kunjung berakhir.
Sejak tahun 1972, PBB telah melakukan upaya untuk mencari sebab-sebab terorisme dan menginstruksikan perencanaan taktis dalam menanganinya. PBB juga telah membentuk dewan khusus yang disebut Dewan Khusus Terorisme Internasional, dimana anggotanya dapat mengemukakan sikapnya dan menyusun resolusi yang disepakati. Dokumen-dokumen PBB, seperti makalah sidang, review, riset dan resolusi-resolusi, baik di dalam rapat Sidang Umum, Dewan Keamanan, Dewan Terorisme dan dewan-dewan lainnya menunjukkan perselisihan yang sangat tajam seputar definisi terorisme. Dan tak ada harapan untuk menyusun suatu definisi yang akomodatif. Oleh karena itu, PBB mengenyampingkan masalah definisi dan memfokuskan pada penelitian sebab dan perencanaan-perencanaan.
Berdasarkan sidang-sidang PBB mengenai terorisme dapat disimpulkan bahwa fenomena ini sangatlah komplek dan memiliki latar belakang politik, ekonomi. Sosial dan psikis yang berbeda-beda. Dan di tengah persidangan yang telah dan masih akan terus berlangsung selama bertahun-tahun, muncul dua aliran besar dalam menyikapi masalah terorisme ini.
Aliran pertama; diwakili Negara-negara Barat dan beberapa negara lain, kelompok ini berpendapat bahwa ancaman terorisme telah semakin berkembang, bentuk-bentuknya telah semakin beragam dan korban-korbannya tetap terus berjatuhan. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini, masalah pemberantasan terorisme tidak boleh dikaitkan dengan masalah pemberantasan faktor-faktor penyebabnya. Faktor-faktor ini memang penting, tapi dapat diselesaikan kemudian. Kelompok ini memandang pentingnya pemberantasan terorisme tanpa melihat faktor-faktor penyebabnya dan menghimbau dunia internasional untuk bersama-sama membasmi terorisme terutama dalam pertukaran informasi dan penyerahan para pelaku untuk diadili. Mereka juga berpendapat bahwa perjuangan kemerdekaan tak boleh melibatkan orang-orang tak berdosa atau melanggar hak-hak asasi manusia, dan tak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan hukum internasional secara umum.
Aliran kedua; diwakili mayoritas anggota PBB terutama Negara-negara dunia ketiga. Pendapat mereka didasari oleh sikap penolakan terhadap bentuk terorisme, dan upaya penanganannya harus disertai dengan penelitian faktor-faktor pemicunya. Faktor-faktor ini sebagian besar berasal dari kebijakan imperialis, kolonialis, rasis, dominasi dan intervensi. Semua ini melahirkan perasaan apatis, utopis dan depessif di kalangan rakyat yang tertindas dan mendorong mereka untuk melakukan tindakan kekerasan dan terkadang sampai menumpahkan darah.
Setelah melalui persidangan selama 8 tahun lebih, akhirnya pada putaran ke-24, PBB menetapkan resolusi nomor 34/145 tertanggal 17 Desember 1979 mengenai masalah terorisme. Setelah itu, PBB menetapkan berbagai resolusi lainnya yang pada intinya mencantumkan kalimat berikut,
“Mengingat Sidang Umum PBB mengakui dan menghormati sepenuhnya hak menentukan nasib sendiri dan kemerdekaan bagi seluruh bangsa yang tunduk di bawah kekuasaan imperialis, rasis dan bentuk-bentuk dominasi kekuatan asing lainnya. Dan mengingat PBB menyatakan legalitas perjuangan mereka, terutama gerakan-gerakan melawan penjajah sesuai dengan prinsip-prinsip perjanjian dan hukum internasional mengenai hubungan persahabatan dan kerjasama internasional sesuai perjanjian PBB…”
Demikian pula pada Sidang PBB pada 12 Desember 1973 putaran ke-28 menetapkan resolusi nomor 3103 yang semakna dan juga pada tahun 1977 pada putaran ke-23, yang intinya melegalkan perjuangan bangsa-bangsa tertindas dalam mencapai kemerdekaannya.
DEFINISI TERORISME (IRHAB) : dalam pandangan islam.
Berkata Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkholi hafizhahullahu dalam memberikan ta’rif (definisi) Irhaab (terrorisme), “Irhab adalah suatu kalimat yang padanya disandarkan makna yang memiliki gambaran beragam, yang pada intinya adalah tindakan menakut-nakuti dan membuat kengerian pada orang. Teror ini menyebabkan tertumpahnya darah orang tak berdosa, hilang dan terampasnya harta benda, terkoyaknya kehormatan, dan porak porandanya persatuan. Selain itu keadaan yang tenang bisa berubah menjadi fitnah dan bencana yang dahsyat dan muncullah kerusakan di muka bumi. Lalu berembuslah angin fitnah yang busuk ke tengah masyarakat dan terbentanglah sayapnya yang mengerikan. Diantara tindak terorisme ini adalah pembajakan pesawat dan transportasi darat, penculikan penguasa, pengeboman, kudeta, penyerangan pusat-pusat perdagangan oleh kelompok-kelompok bersenjata dengan dalih dakwah islamiyyah, lalu membunuh dan merampas harta dan lain lain. Contoh konkritnya adalah usaha pembunuhan terhadap Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Faishol tahun 1353 H, penyerangan Masjidil Haram oleh Juhaiman bin Saif Al- Utaibi dan Muhamad bin AbduLlah Al-Qohthoni tahun 1400H, demonstrasi yang dilakukan jama’ah haji Iran pengikut Khomeini 1407H silam, penyerangan Saddam Husain ke Kuwait 1411 H dan lain lain.
Lembaga Fiqh islam Rabithah Alam Islami memberikan definisi: “Irhab adalah tindakan aniaya kepada manusia yang dilakukan oleh perorangan, kelompok atau Negara. Baik terhadap agama, jiwa, akal, harta atau kehormatannya. Termasuk tindakan terorisme adalah berbagai macam usaha menakut-nakuti, gangguan, ancaman, dan perampokan. Semua tindak kekerasan atau ancaman sebagai realisasi tindak kriminal baik dari perorang atau kelompok dan bertujuan menyebarkan rasa ketakutan di tengah masyarakat, atau ancaman terror atau perbuatan yang dapat menyeret kehidupan bermasyarakat, kemerdekaan, atau ketentraman mereka ke situasi yang gawat… semua itu termasuk perbuatan kerusakan di muka bumi. Allah telah melarangnya dalam firman-Nya :
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.“ (QS Al-Qoshosh : 77).
Allah telah menyiapkan balasan yang menakutkan bagi pelaku tindak teror dan kerusakan dan dikategorikan sebagai permusuhan kepada Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang atau diasingkan. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan terhadap mereka di dunia dan di akhirat mereka memperoleh siksa yang besar.” (QS Al-Maidah : 33)
Termasuk tindakan terorisme adalah terror yang dilancarkan oleh suatu negara. Yang paling kejam adalah yang digencarkan oleh Yahudi terhadap muslimin Palstina, agresi dan pembantaian muslim Bosnia Herzegovina oleh Serbia. Maka tindakan pembelaan diri terhadap mereka adalah jihad fi sabiliLlah.
TERORISME DALAM KONSTELASI INTERNASIONAL
Dalam resolusinya, PBB telah memberikan resolusi kepada bangsa-bangsa di dunia termasuk Palestina untuk menggunakan kekerasan dalam melawan penjajah, namun PBB dalam resolusinya tidak menjelaskan lebih lanjut bidang tertentu yang dapat dilawan dengan kekerasan. Oleh karena itu, semua hal yang membantu tegaknya dominasi penjajah dapat dilawan dengan kekerasan.
PBB dalam berbagai ketetapan, deklarasi dan resolusinya secara prinsipil telah menegaskan legalitas dan keabsahan perjuangan melawan penjajah baik secara moral maupun politik. Hal ini yang membedakan perjuangan melawan penjajah dengan tindak terorisme. Dengan demikian, upaya pemberantasan terorisme tidak boleh mengekang hak-hak perjuangan suatu bangsa dalam rangka melawan imperialisme, kolonialisme, rasisme dan zionisme serta segala bentuk dominasi politik, sosial dan ekonomi atas suatu negeri oleh penjajah.
Bahkan, pengidentifikasian kata teroris seharusnya disematkan kepada para imperialis, kolonialis dan zionis yang menjajah suatu negeri, mencaplok tanah mereka, merampas harta dan menumpahkan darah penduduknya. Standar identifikasi terhadap terorisme seharusnya berasal dari nilai-nilai yang bersumber dari fithrah kemanusiaan, bukan dari kepentingan politik, ideologi dan kepentingan ekonomis. Maka seharusnya jargon WAR AGAINST TERRORISM ketika didengung-dengungkan oleh dunia yang dimotori oleh Globo-cop A.S membuktikan motonya dalam memerangi teroris dengan mengusir Israel dari Palestina, memerdekakan wilayah-wilayah yang teraniaya seperti Kashmir, Chechnya, Kosovo dari para penjajah, memberikan hak kepada negeri-negeri terjajah untuk menentukan sikap, dan lain sebagainya.
Namun, ini adalah isapan jempol semata, bagai hendak memeluk gunung menggapai bintang, karena tidak mungkin negeri paman Sam yang merupakan akar teroris mau untuk memberantas teroris, karena konstelasi standar pemikiran terorisme adalah memiliki standar ganda yang ditimbang dari kepentingan politik dan ideologi mereka.
SIAPAKAH TERORIS SEJATI? : Mengungkap fakta tindakan teror Yahudi.
Siapa yang tak kenal Yahudi sang aggressor pencaplok tanah Palestina yang paling keji di muka bumi ini? Bahkan A.S. dan sekutunya semacam Inggris dan Perancis bertekuk lutut di hadapan lobi-lobi internasional mereka. Tidak ada satupun bangsa terkeji dan terkejam, yang rela berjuang dengan segala cara untuk memenuhi tujuannya, bahkan aktivitas terorisme menjadi salah satu metode mereka… ya, merekalah Yahudi Israel, yang menjadi dalang segala bentuk kerusakan dan tindakan terorisme di muka bumi.
Berikut ini adalah fakta-fakta tindakan teror Yahudi terhadap bangsa Palestina yang nyata terjadi namun tak ada satupun tindakan bangsa internasional yang mengetahui kebiadabannya mampu menghentikannya, bahkan mereka didukung oleh Negara-negara adidaya semacam A.S., Inggris, dan Perancis:
1. Pembantaian Balad Al-Syaikh dan hawasa (1 Januari 1948), mereka menyerang perkampungan dengan melemparkan bom-bom di rumah penduduk sipil dan memberondong mereka dengan peluru.
2. Pembantaian Dier Yasin (9-10 April 1948), pembantaian besar dengan cara pengeboman rumah-rumah penduduk dan penembakan-penembakan terhadap penduduk yang melarikan diri. Mayat-mayat yang mayoritas wanita dan anak-anak yang bergelimpangan dikuburkan jadi satu di perkampungan tersebut. Berita ini telah menyebar ke dunia internasional namun dunia hanya mampu mengecam tanpa berbuat apa-apa.
3. Pembantaian Nashir El-Din (13 Aprl 1948), pasukan Yahudi menyamar dengan pakaian arab sebagai kamuflase lantas mereka memberondong penduduk yang menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
4. Pembantaian Beit daras (21 Mei 1948), pembantaian yang tak kalah dahsyatnya dengan pembantaian Dier Yasin, dimana korban terbesar adalah anak-anak dan wanita.
5. Pembantaian Syarafat (7 Februari 1951), pasukan Yahudi meledakkan rumah-rumah penduduk dan membunuhi mereka, 5 anak kecil tewas dalam penyerangan ini.
6. Pembantaian Desa Falma (29 Januari 1953), tentara Israel menyerang desa ini dengan mengerahkan ratusan pasukannya dan menghancurkan rumah-rumah penduduk dengan meriam.
7. Pembantaian Qibya (14-15 Oktober 1953), merupakan pembantaian yang cukup menonjol dan mendapatkan reaksi yang keras dari Yordania dan negeri-negeri Arab. Sebuah masjid besar, sekolah, gudang air dan perumahan hancur, dan beberapa keluarga tewas dibantai.
8. Pembantaian Nahalin (28 Maret 1954)
9. Pembantaian Dier Ayyub (2 November 1954)
10. Pembantaian Gaza (28 Februari 1955)
11. PembantaianQalqaylila (10 Oktober 1956)
12. Pembantaian Shabra dan Shafilla (18 September 1982)
13. Pembantaian haram Antara lain-Ibrahimi (25 Februari 1994)
Dan masih banyak lagi pembantaian yang mereka lakukan terus menerus terhadap warga Palestina. Belum lagi apa yang telah mereka lakukan terhadap warga Non Palestina, juga termasuk tindakan-tindakan lobi mereka di bawah bendera Negara-negara adidaya yang mereka kuasai.
KHATIMAH
Dari uraian panjang di atas, banyak sekali kesimpulan yang dapat ditarik, namun sebagimana tujuan tulisan ini, yaitu membersihkan nama islam dari tindakan-tindakan yang tak pernah sama sekali diajarkan oleh islam. Bahwa tindakan-tindakan terorisme yang mengatasnamakan islam perlu untuk dikritisi, bahwa apa benar islam mengajarkan tindakan demikian? Maka telah jelaslah bahwa apa yang dilakukan oleh sekolompok ummat islam yang melakukan aktivitas teror dengan dalih jihad adalah salah dan menyelisihi syariat islam yang mulia, bahkan tindakan tersebut mengotori kesempurnaan dan keagungan syariat islam.
Satu hal yang harus dicatat, di tengah perhelatan konflik ideologi, islam termasuk salah satu ideologi yang dikhawatirkan oleh musuh-musuhnya dapat menjadi momok berbahaya sebagaimana pada masa kegelapan eropa (pre renaissance). Maka upaya pendistorsian terhadap ajaran islam dengan upaya pembentukan opini negatif dan fobia publik terhadap islam adalah salah satu senjata yang ampuh. Lebih jauh lagi, sebenarnya negara-negara barat yang dimotori oleh AS dan yahudi-lah yang merupakan teroris sejati, yang harus diperangi…
Disusun oleh
Abu Salma bin Burhan At-Tirnaatiy,
18 Muharam 1423 H./21 Maret 2003 M.
DAFTAR PUSTAKA :
- Abdul Aziz Alu Mubarak, Faishal, MUKHTASHAR NAILUL AUTHAR, Bab Al-Jihad.
- Al-Jazaa-iri, Abu Bakar Jabir, MINHAJUL MUSLIM
- Al-Kailani, Dr. Haitsam; AL-IRHAB YU-ASSASSU DAULATI NAMUUDZAJI ISRAA-IL, terjemahan : Siapa Teroris Dunia?, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
- Al-Khudri, Ibrahim Abdur Rahim, HUKMUL JIHAD WA BAYAANU FADHLUHU.
- As-Sulaimani Al-Mishri, Abul Hasan Musthafa bin Ismail, SILSILAH AL-FATAWA ASY-SYAR’IYYAH.
- Sabiq, Sayyid; FIQHUS SUNNAH, jilid 1
- Zainu, Muhamad Jamil, TAUJIHATUL ISLAMIYYAH.
- Al-Furqan, Edisi 3/II Syawal 1423 H.









14/04/2012 pada 20:12
awas! coment2 politik agama diatas! dan permainan kata2 dari orang2 kafir/munafiq/musryk.
Allah subhanahu wa ta’ala tuhanku dan kita, dan muhammad sholallahu alaihi wa salam adalah utusan Allah Subhanahu wa ta’ala.
16/03/2011 pada 15:55
dear pembaca
tolong di berikan komentarapakah benar sejarah di bawah ini .karena saya pensaran sama yg saya liaht di google.
apa benar negara negara yg skrg muslim tapi dulu dulu penduduknya kristen sperti, turki, mesir, dll
tku\
Bagian 4 : Jihad vs Koptik-Mesir 639-641M**
by ali5196 » Wed May 17, 2006 5:14 pm
http://www.historyofjihad.org/egypt.html
Mesir jaman pra Islam adalah wilayah yg paling berharga dlm Kerajaan timur Romawi. Mesir adalah keranjang roti Roma nomor dua setelah Konstantinopel. Tanahnya subur dan sumber ekspor gandum, jagung, anggur, minyak, tekstil, gelas, kosmetik dan obat2an. Pada saat invasi Arab, jumlah penduduk Koptik diperkirakan sekitar 9 juta.
Mesir sebelum invasi Islam BUKAN Negara Arab
Pertama didirikan di abad 3 atau 4M, the Hanging Church adalah gereja koptik Kairo paling terkenal
Salib Koptik/Gereja Orthodox sejak abad 4M di Mesir
http://en.wikipedia.org/wiki/Coptic_Church
Kebanyakan dari kita menyamakan orang Mesir dgn Arab. Mohammed Atta, pemimpin serangan 9/11 adalah orang Mesir yg memimpin sekelompok teroris Arab. Dmeikian pula dgn Yasser Arafat yg lahir di Kairo, yg membohongi dunia dgn pengakuannya sbg orang Palestinia. Bandit2 ini dan jutaan orang Mesir sekarang menganggap diri sbg orang Arab. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah hasil Arabisasi akibat invasi Arab pada abad ke 7 yg menghancurkan Bizantin yg menguasai Mesir. Orang mesir adalah keturunan Firaun yg mendirikan peradaban klasik Mesir disepabjang lembah Nil dan membangun kota2 cantik spt Luxor, Memphis, Karnak dan Thebes. Firaum spt Ramses, Nefertiti mendirikan pyramid megah yg menyimpan misteri alam semesta yg dibangun sesuai dgn konstelasi bintang.
Agama orang Mesir kuno didasarkan kpd animisme, sbg mana juga orang Yunani-Romawi, Hindus, Mesoamerican dsb. Mulai abad ke 6SM sampai abad 4M, Mesir dikuasai raja Persia dari dinasti Achemenia, Hakkamanishiya. Orang Persia adalah Zoroastrian, tetapi mereka tidak mencampuri urusan keagamaan orang Mesir.
Pada abad ke 4, Persia dijatuhkan oleh Panglima Yunani, Alexander, yg kemudian mendirikan kota Alexandria di Delta Nil, sbg pelabuhan masuk bagi orang Yunani yg berlayar lewat Laut Mediteran.
Bahkan kekuasaan raja Yunani dibawah Ptolemys dlm 3 abad berikutnya tidak mengusik agama orang Mesir. Rakyat Mesir tetap dibiarkan memuja dewa2 mereka, dewa matahari, Ra atau Amon Ra, Horus, dewa langit yg memiliki kepala spt burung gagak dan bertubuh manusia, dsb. Pada thn 1 Masehi, Mesir menjadi bagian dari kerajaan Romawi dibawah Julius Caesar setelah bunuh dirinya ratu Cleopatra. Namun orang Romawipun tidak mempedulikan kepercayaan penduduk asli. Jadi setelah berbagai invasi oleh Persia, Yunani, Romawi, agama Mesir tetap bertahan sbg agama unik dan orijinal. Hanya setelah kaisar Romawi, Konstantin memeluk agama Kristen pada abad ke 4, rakyat Mesir mulai memeluk Kristen. Saat Muslim Arab menginvasi Mesirf, penduduk asli Mesir seluruhnya Kristen, walau bekas2 agama lama masih sangat kuat dan mempengaruhi ritual Kristen.
Orang Mesir menganggap diri bangsa Hamitik, berbeda dgn orang Arab yg termasuk bangsa Semitik. Bangsa Hamitik terdiri dari bangsa Mesir, Nubia (Sudan), Abyssinia (Ethiopia), Somali dan Masai (Kenya dan Tanzania). Kebudayaan kuno Mesir oleh karena itu juga TIDAK disebut sbg peradaban Arab dan para firaun juga tidak dianggap sbg raja2 Arab.
Sifat Arab hanya nampak setelah invasi Arab th 639-641M. Arab-lah yg memberi nama ‘Koptik’ pada penduduk asli Mesir. Copt adalah kata Inggris yg berasal dari kata Arab ‘Gibt’ atau ‘Gypt’ dari kata Yunani ‘Egyptos’ atau Egypt. Kata Yunani ‘Egyptos’ berasal dari kata Mesir kuno ‘Ha-Ka-Ptah’ atau kuil dewa Ptah, salah satu dewa utama Mesir. Kata Copt atau Coptic berarti Egyptian/orang Mesir, namun sekarang, penduduk muslimn Mesir memanggil diri Arab dan kata Copt atau Coptic merujuk pada penduduk Kristen Mesir.
Gangster Muslim yg menjarah lembah Nil dibawah perintah kalifah Umar berjihad melawan Mesir dan memaksa penggantian agama rakyat Mesir ke Islam adalah Amir bin Al-Aas yg sebenarnya juga pemeluk Islam baru. Clannya, Bani Sahm dari suku Quraish, terpaksa memeluk Islam setelah ‘nabi’ Muhamad-bin-Abdullah menjarah Mekah th 630M. Spt juga para pemimpin Quraish lainnya, pada mulanya Amir menantang Islam dgn keras. Malah ia mengepalai kontingen Quraish di Pertempuran Uhud. Thn 630M, dgn Khalid-ibn-Walid ia mengalahkan pihak Muslim, tetapi setelah jatuhnya Mekah ditangan Muslim, Amir bin Al-Aas dan Khalid-ibn-Walid
masuk Islam. Ini tidak mereka lakukan secara suka rela tetapi mereka melihat keuntungan utk bergabung dgn pihak yg menang. Dgn demikian, mereka tidak hanya berhasil menyelamatkan jiwa mereka tetapi malah dgn senang hati menerapkan teknik2 Muslim spt menjarah, menyiksa bangsa lain dan memaksa mereka memeluk Islam. Setelah itu Amir menjadi bagian dr gangster Muslim.
Menurut cerita, saat remaja, Amir melancong dgn karavan ke Palestina. Suatu hari ia bertugas menjaga onta karavan diluar Yerusalem. Hari sangat terik dan saat ia duduk dibawah pohon, datanglah seorang pelancong yg letih dan sangat kehausan. Amir dgn murah hati memberikan minumannya. Sang pelancong meminumnya dan kemudian tertidur.
Beberapa saat kemudian, seekor ular nampak mendekati sang pelancong yg sedang tidur nyenyak. Amir dgn sigap membunuh ular itu dgn panahnya. Sang pelancong sangat berterima kasih pada Amir karena telah menyelamatkan hidupnya utk kedua kalinya. Sang pelancong ingin memberikannya uang bagi dua nyawa. Ia mengatakan bahwa ia datang ke Yerusalem dari Mesir. Dan ternyata sang pelancong ini ini bukan sembarang pelancong, ia adalah seorang Maqauqas, pendeta tinggi kaum Kristen Mesir. Ia ingin agar Amir menemaninya ke Mesir. Akhirnya mereka melancong ke Mesir.
Saat tiba di Alexandria, Amir tinggal di rumahnya yang megah dan diperlakukan bak tamu raja. Maqauqas, sang tuan rumah membawanya ke festival di Hippodrome. Salah satu ritual festival adalah ritual ‘Bola Emas‘. Pendeta memukul sebuah bola emas dan bola itu melayang ke atas. Kepercayaannya adalah, ketangan siapa bola itu mendarat, ialah yg akan menjadi penghancur Mesir.
Saat pendeta memukul bola iitu ke udara semua orang mengikuti lajunya arah bola itu dgn tegang. Setelah bola membelok di udara, bola itu mendarat di lengan baju Amir. Penonton kaget. Mereka tidak dapat percaya bahwa orang Arab terbelakang dan tidak berbudaya dari gurun pasir itu dapat menghancurkan Mesir. Mereka merasa ini pasti salah. Pasti cara memukul bola itu salah.
Maqauqas, tuan rumah Amir dgn bingung mengatakan kepadanya, “Saya tidak tahu tapii tanda dari para dewa tidak pernah salah. Aneh memang nasib dan siapa tahu kau suatu hari akan kembali ke sini.”
Amir yang juga bingung itu kembali dari Mesir, sarat dng hadiah dan uang. Peristiwa Bola Emas itu terus menghantuinya. Ia sering menganggapnya sbg mimpi tapi dalam hatinya ia yakin bahwa suatu hari ia akan memasuki Mesir sbg penakluknya dan menghancurkan segala yg ada disana.
Nah, jadilah Amr seorang panglima besar pasukan Muslim di Syria, ia terus menerus ingat akan mimpinya menaklukkan Mesir. Cita2nya akhirnya tercapai ketika Umar memberinya perintah utk menghancurkan tanah kafir itu. Amir bin al-Aas segera berangkat menuju Mesir dgn 40.000 tentara.
December 639, pasukan Muslim mencapai Farma, kota benteng yg dijaga garisun Bizantin. Muslim menyerang kota itu sampai 2 bulan lamanya. Musim semi Februari 640, pasukan penyerang yg dipimpin Useifa-ibn-Wala menyerang fort itu pada malam buta. Perlawanan Bizantin runtuh dan kota ini akhirnya jatuh ke tangan Muslim.
Setelah jatuhnya Farma, Muslim maju ke Bilbeis, 40 mil dari kota Memphis. Bilbeis berada di gurun Negev (di perbatasan dgn Israel sekarang). Kota itu juga kota benteng dan Muslim menyerang dgn memutuskan suplai air. Setelah sebulan, pada akhir Maret 640 kota itupun menemui akhir naasnya.
Dari Bilbeis, Muslim berbaris ke Babylon (sebuah kota di Mesir Bizantin, bukan yang di Mesopotamia/Irak sekarang). Kota Babylon inilah, dinamakan Arab sbg Al Fustat dan kemudian sbg Al Qahira atau spt yg dikenal sekarang : Cairo). Karena taktik licik, penaklukan Mesir tidak sulit bagi Muslim. Tetapi di Babylon mereka menemukan perlawanan canggih. Perang ini sampai berlangsung selama 7 bulan. Babylon merupakan kota yang lebih besar dan lebih penting dan perlawanan disana juga lebih sengit. Namun Amir tetap memaksakan kehendaknya.
Babylon merupakan kota kunci Mesir. Kota terdekatnya adalah Memphis, ibukota kuno para firaun. Muslim tiba didepan Babylon bulan May 640M. Babylon merupakan kota benteng dan Bizaantin mempersiapkannya bagi setiap serangan. Disekililing tembok luar kota itu digali lobang panjang dan pasukan dalam jumlah besar ditempatkan antara lobang dan tembok kota itu. Fort Babylon itu adalah gedung besar dgn tembok setinggi 30 meter dgn tebal tembok 2 meter. Fort itu juga diperlengkapi menara2 dan ‘bastions’ (??).
Kekuatan pasukan Bizantin ini 6 kali lebih besar dari kekuatan Muslim, jadi Amir meminta Umar meminta tambahan tentara. Bln Agustus, datang tambahan tentara sebanyak 4,000 orang dari Syria. Setelah ini juga tidak berhasil melemahkan Bizantin, Umar mengumpulkan tetnara di Medinah. Diantara mereka yg bersedia memerangi Mesir adalah Zubeir bin Al-Awwam, saudara sepupu ‘nabi’ Muhamad. Pasukan tambahan 4000 tentara itu maju ke Mesir tapi Fort Bizantin itu masih belum dapat dikalahkan juga.
The taking of Heliopolis by subterfuge
10 mil dari Babylon terletak kota Heliopolis. Kota itu adalah kota Kuil Matahari para Firaun. Muslim merasa bahwa pasukan Bizantin dari Heliopolis akan menyerang Muslim dari belakang saat mereka bertempur melawan Babylon. Oleh karena itu Zubeir dan Amir berangkat ke Heliopolis. Diluar kota itu terjadi bentrokan kavaleri, dan walaupun banyak orang Bizantin tewas, hasil pertempuran tidak pasti. Amir dan Zubeir kemudian memerintahkan digalinya sebuah terowongan yang berakhir kedalam benteng Bizantin itu. Dan dgn cara itu mereka berhasil melemahkan para penjaga dan membuka gerbang kota itu bagi tentara Muslim. Seluruh garisun Bizantin dibunuh secara masal. Ini mengingatkan kita pada terowongan yg digunakan Hamas, teroris Palestina, Jihad Islami dan Fatah kedalam Gaza utk menyelundupkan senjata dari Mesir ke Gaza utk mengadakan serangan teroris melawan penduduk sipil Israel. Bentuk senjata berubah dari pedang ke jaket berisi bom bunuh diri, tapi sikap Muslim yg haus darah tidak berubah sedikitpun.
Upaya Muslim merebut Babylon dgn menjebak tentara Bizantin
Dari Heliopolis, Amir dan Zubeir kembali ke Babylon utk meningkatkan serangan terhdp Bizantin. Pihak Bizantin kini mulai keluar dari lobang perlindungan mereka dan menyerang Muslim secara langsung. Muslim berpura2 mundur. Bizantin mengejar mereka dan Muslim mundur terus sampai seluruh pasukan Bizantin meninggalkan posisi mereka di lobang perlindungan. Atas tanda Amir, 500 pasukan Muslim berkuda yg dipimpin Kharija bin Huzafa bergegas dan menyerang tentara Bizantin dari belakang. Singkat cerita, Bizantin masuk perangkap Muslim.
Banyak yg tewas tetapi pasukan utama Bizantin berhasil kembali ke kota itu. Pihak
Bizantin menutup gerbang kota. Tapi sekarang kawasan antara lobang dan kota itu dikuasai Muslim. Dgn senjata katapul mereka menghantami tembok kota itu
dgn batu2 besar.
Pengkhianatan dan tindakan mata2 terhdp Bizantin
Karena putus asa, Jendral Bizantin, Theodorus menunjuk Maqauqas, yg sekarang pejabat Mesir dan Kepala Pendeta kaum Copt, yg dikenal Amir pada masa2 pra-Islamnya di Palestina. Maqauqas mempercayai Amir karena dulu ia memang dapat dipercaya, bahkan sampai menyelamatkan nyawa Maqauqas. Tetapi Islam mengubah semua itu dan Amir memanfaatkan hubungannya dgn Maqauqas utk merebut Babylon. Maqauqas meminta agar Amir mengirimkan utusannya ke Babylon utk negosiasi selama 2 hari. Tetapi waktu 2 hari itu digunakan utusan2 tsb utk mempelajari benteng itu dari dalam. Mata2 berkedok utusan itu dikirim Amir. Utusan Muslim berkata pada Maqauqas dan memberi 3 pilihan yg lazim ditawarkan Muslim kpd musuh2 mereka : Islam, Jizya (pajak tinggi) atau perang.
Negosiasi terus berjalan dgn bolak baliknya utusan. Namun kali ini saat Muslim berada di gerbang kota itu, mereka malah menyerang delegasi Bizantin yg menyangka Muslim ingin bernegosiasi. Setelah membantai delegasi Bizantin, pihak Arab membakar gerbang kayu raksasa Babylon. Dgn terbakarnya sebagian gerbang, tentara Muslim menembus gerbang api tsb dan dgn fanatisme menggebu-gebu mereka, mereka menyerbu kota dan membantai penghuninya.
Pelajaran dari Pertempuran Babylon bagi AS dan Eropa
Selama negosiasi, Maqauqas menawarkan 100 keping dinar kpd setiap panglima dan 1000 dinar kpd sang Kalif. Tapi pihak Muslim mengatakan bahwa mereka tidak dapat dibeli dgn keping emas yg nantinya toh akan menjadi milik mereka begitu kota itu direbut. Katanya, pun kalau ia mati dalam pertempuran ia akan langsung ke surga.
Siapapun pemimpin Eropa yg merasa bahwa dng tawaran bantuan dana, keanggotaan WTO, kontrak dagang dsb dsb … bisa membujuk negara Muslim spt Iran agar menghentikan ambisi senjata nuklir mereka, maka mereka salah besar !
Muslin akan memanfaatkan perundingan utk mengulur waktu sampai senjata nuklir mereka siap pakai dan siap serang, mulai dgn Israel.
Kita juga melihat bgm Muslim siap sedia utk melakukan cara curang apapun utk menghancurkan non-Muslim, sesuai dgn doktrin tipuan mereka, Taqiyya yang sangat meresap kedlm budaya Muslim. Status kafir tercatat dgn jelas dlm Qur’an dan Hadith. Menipu kafir agar mencapai kemenangan memang disahkan Qur’an dan didukung preseden dlm Hadis. Mempercayai Muslim tulen (muslim fundamentalis) sama saja dgn mempercayai Nazi dlm PD II atau Komunis dlm revolusi Russia, bahkan lebih parah. INi karena Muslim percaya bahwa ini mandate dari Tuhan. Agama lebih kuat daripada filosofi politik sesaat. Fakta ini tidak menyenangkan, tapi kalau and mempercayai Muslim, mereka akan menang. Jadi, dalam perang melawan terror ini, pilihan hanya : kematian kita tau kematian Muslim. Pilihan jelas. Kita harus lebih pandai dari mereka mengggunakan cara Taqiyya.
Pencaplokan Alexandria dgn cara tipuan
Ketika sang Khalif menerima laporan dari Amir bin Al-Aas ttg kalahnya Amir, ia memerintahkan agar SETIAP dan SEMUA kafir diberanguskan dari Mesir. Ia memerintahkan Amir utk mencaplok kota pelabuhan Alexandria (yg kemudian dirubah namanya oleh Muslim menjadi Iskandariya). Saat Muslim berada didepan Alexandria bln Maret 641. kita itu dijaga berat. Tembok demi tembok dan benteng demi benteng dibangun utk melindungi kota tsb. Pasukan Bizantin didlm kota ity mencapai jumlah
50.000 sementara kekuatan pasukan invasi Muslim adalah 100.000. Kota itu tidak memiliki persediaan pangan. Karena kota itu memiliki akses langsung ke laut, mereka tergantung dari rute laut ini bagi bala bantuan dari Konstantinopel berupa tenaga kerja dan bahan2 kebutuhan.
Saat Amir mensurvey situasi militer, ia merasa bahwa Alexandria sebuah tantangan besar. Pihak Bizantin juga bermaksud mempertahankannya dgn segala kekuatan mereka. Untuk itu, Amir kembali menggunakan akal bulusnya.
Pasukan biadab Muslim ini kemudian memulai dgn serangan mereka. Bizantin menggunakan katapul yg ditempatkan diatap tembok2 kota mereka yg menembakkan batu2 raksasa ke posisi Muslim. Ini mengakibatkan kerusakan besar di pihak Amir dan memerintahkan pasukannya utk mundur dan mengambil posisi diluar jangkauan katapul.
Mulailah perang maju mundur. Muslim maju dan dihantami misil2 batu. Saat Muslim mundur dari tembok kota, Bizantin kelaur dai benteng2 merkea tapi langsung dihantam balik oleh para pengikut agama damai.
Sementara itu, kaisar Bizantin, Heraclius mengumpulkan pasukan besar di Konstantinopel yg dimaksudkan utk membantu Alexandria. Tetapi sebelum ia sempat merealisasikan rencananya ini, ia wafat. Pasukan tambahan bagi Alexandria ini ditunda keberangkatannya.
Taktik licik Muslim utk memenangkan duel yg mempertaruhkan kebebasan mereka saat mereka terjebak Bizantin
Ketika Muslim tahu akan wafatnya kaisar Bizantin yg menunda pengiriman pasukan tambahan, mereka memanfaatkan kesempatan ini dan meningkatkan serangan mereka.
Tapi serangan Bizantin bertubi2 dan berhasil memerangkap muslim. 4 Muslim memasuki kamar bawah tanah, tetapi karena sempitnya terowongan masuk yg hanya bisa dimasuki satu orang, terowongan ini mudah dipertahankan oleh keempat Muslim ini. Pihak Bizantin tidak mungkin menangkap ke 4 Muslim ini dari terowongan itu. Kalau mereka dibiarkan disana, mereka akan mati kelaparan. Salah satunya adalah Amir, hal yg tidak diketahui pihak Bizantin.
Bizantin meminta para Muslim yg terjebak agar menyerah shg mereka tidak akan mati kelaparan ataupun menukar mereka dgn tawanan Bizantin ditangan Muslim. Muslim menolak. Lalu pihak Bizantin yg tidak sudi membiarkan musuh mereka mati kelaparan malah mengajak mereka berduel. Katanya jika salah satu dari mereka yg menang dlm duel, mereka bisa bebas. Pihaik Muslim setuju.
Amir sendiri menawarkan diri bagi duel itu, tetapi Masalma menghalanginya dan menawarkan dirinya sendiri.
Kalau pihak Bizantin yg terjebak Muslim, maka Bizantin tidak mungkin diberi tawaran gentleman ala Bizantin ini. Mereka akan ditebas pedang Islam, dibantai secara masal saat itu juga. Namun pihak Bizantin adalah orang2 terhormat dan berbudaya dan bukan dibutakan oleh fanatisme spt Muslim, jadi mereka taat pada janji mereka.
Mulailah duel pedang itu yg berlangsung dgn sengit. Kemenangan bagi pendekar Bizantin nampak dekat tapi Masalma berbuat curang dgn menarik bulu ketiak pihak Bizantin. Ketika ia mundur karena kesakitan, Masalma, sang algojo Allah itu membunuhnya dgn menusuk pedangnya begitu kuat kedalam hati sang pendekar Bizantin sampai menebus ke punggungnya. Terlepas dari tindak curang ini, pihak Bizantin mematuhi janji mereka.
Perang masih juga berlangsung selama 6 bulan, dan Umar di Medinah menjadi semakin tidak sabar. Ia menulis surat kepada Amir :
“Saat kau menerima surat ini, doronglah tentara agar berperang. Mulailah serangan pd hari Jumat siang, saat turunnya rahmat Allah.”
Amir bin Al-Aas mengumpulkan orang2nya dan membacakan surat Umar. Kotbah2 penuh semangat jihad mendorong Muslim agar melakukan kekerasan. Dan diputuskan agar setelah solat Jumat mereka akan melangsungkan serangan besar2an. Ubada dipilih utk membawa bendera utk dan memimpin serangan.
Hari Jumat kemudian, setelah bersolat, tetnara Muslim berbari ke medan perang dgn membawa peti2 mata diatas kepala mereka. Mereka maju dgn semangat fanatisme meluap, tapi pihak Bizantin mempersiapkan diri dan melancarkan serangan balasan. Hari Jumat itu, pihak Muslim mengalami kekalahan besar dan serangan Jumat itu gagal total.
Saat itu Allah menolak utk memenuhi keinginan Muslim, walau dilakukan pada hari suci Muslim.
Malam itu di kamp Muslim, putus asa meliputi seluruh kamp muslim. Malah ada yg mengusulkan utk membatalkan upaya mencaplik Alexandria dan kembali Al Fustat (nama lain bagi Babylon). Kegigihan Bizantin mematahkan semangat mereka. Tapi datanglah seorang penangkap ikan, mantan Koptik yg sekarang memeluk islam bernama Abu. Ia mengusukan agar Amir dan teman2nya yg dapat berbicara bahasa Yunani berangkat pagi2 ke pelabuhan dan memarkir perahu nelayan mereka di pelabuhan.
Ini memang praktek para penangkap ikan yg membawa hasil panen dipagi hari ke Alexandria. Setelah mendarat disana, Abu dan rekan2 barunya itu menuju ke salah satu gerbang dan membunuh tentara penjaga dan saat subuh mereka berhasil membuka gerbang kota itu.
Akibat serangan fajar ini, 20.000 tentara Bizantin tewas atau ditangkap dan penduduk tidak berdaya dibunuhi secara masal oleh para pengikut agama damai Allah. Selama 3 hari penuh, kota itu menjadi lautan darah. Istana2 dirongsoki sampai habis, para wanita dijadikan budak sex dan yg paling cantik dijadikan penghuni haremnya Amir dan panglima2nya. Amir dgn bangga melaporkan kpd bossnya, Umar: “Kami menaklukkan Alexandria. Di kota itu ada 4.000 istana, 400 tempat hiburan dan jumlah kekayaan yang tidak terhitung.”
Tentara Muslim dgn giat mengumpulkan jarahan perang mereka. Umar memutuskan bahwa Muslim berhak memiliki setiap harta benda yg mereka temukan karena kekuatan mereka (‘by the right of might’). Ini memang cocok dgn filsafah Muslim bahwa ‘Kekuatan adalah Baik’ (‘Might is Right’) yg dilanjutkannya kemudian dlm 14 abad eksistensinya di Afrika, Asia dan Eropa.
PENGHANCURAN PERPUSATAAN ALEXANDRIA
Penyidikan terakhir oleh Luciano Canfora menyimpulkan bahwa Amir, atas instruksi kalif Arab, Umar, MENGHANCURKAN PERPUSTAKAAN KOTA ITU. Diperlukan waktu ENAM BULAN utk menghancurkan buku2 perpustakaan dlaam 1000 kolam renang Alexandria. Ini merupakan tindakan memalukan oleh para Arab buta huruf yg mentalitas Islamnya mengatkaan bahwa tidak diperlukan satu bukupun, karena
Quran berisi apa yg perlu diketahui ! Inilah alasan Arab2 beringas haus darah yg tidak berbudaya dan pemakan kadal itu utk membakar semua perpustaan, tidak hanya di Mesir, tapi juga di Syria, Persia, Spanyol dan India (dimana mereka membakar universitas Buddhis; Nalanda). Pembakaran terhdp buku2 peninggalan jaman itu adalah kekejaman Muslim yg paling besar terhdp sejarah umat manusia yg tidak dapat dimaafkan.
Catatan:
http://www.faithfreedom.org/forum/viewt … c&start=30
Nope. Rome did minimal damage to the library. It was (Amr Ibn el Ass) sent by the second Caliph and the husband of Mohamad’s daughter (Omar Ibn Il Khattab).
Amr sent to Umar a letter asking what to do with (700,000 scripts some over 1000yrs old), this was Umar’s famous reply. On the basis of this reply All muslims should leave Islam.
“As for the books you mentioned here is my reply. If their content is in accordance with the book of Allah, we may do without them, for in that case the book of Allah more than sufficies. If on the other hand, they contain matter not in accordance with the book of Allah, there can be no need to preserve them. Proceed then and destroy them.”
Jihad melawan LIBYA dan TUNISIA
Setelah pencaplokan Mesir, para Jihadis bergerak ke NUBIA. Tapi kaum Nubia menggunakan taktik gerilya dan sangat meletihkan tentara Muslim dan memaksanya mundur dari Nubia. Inilah yg menyebabkan Ethiopia tetap Kristen sampai sekarang. Setelah gagalnya kampanye pencaplokan terhdp Nubia di bagian selatan, Amir memutuskan utk berangkat kebagian barat Mesir, tempat terletaknya provinsi2 Bizantin, Libya dan Tunisia.
Bln September 642, Amir memimpin pasukannya menuju kawasan itu. Setelah sebulan, mereka sampai di kota Pentapolis di Lybia. Kota ini milik Bizantin, tetapi mereka tidak mempersiapkan sistim pembelaan terhdp kota itu. Dgn mudah Muslim merebutnya tanpa perlawanan. Para warga menginginkan kedamaian dan Amir memnuhi keinginan mereka dgn syarat ala Islamnya itu: peluk Islam atau bayar pajak (Jizyah) atau mati.
Praktek biadab pemaksaan anak2 Kristen kedalam tentara Muslim – Permulaan tradisi Jannisari ‘Turki’
Setelah diadakannya perjanjian damai bagi rakyat, mereka yg tidak sanggup membayar pajak Jizyah diberi kesempatan utk menjual anak2 mereka agar kpd tentara Muslim (selain juga pemaksaan masuk Islam). Banyak penduduk Pentapolis tidak memiliki pilihan dan dgn berat hati menyerahkan anak2 mereka. Ini merupakan tindakan sangat tercela, tetapi sama dgn kaum Arab, Persia, Syria, Mesir dan Libya mereka tidak memiliki pilihan karena ini satu2nya cara utk menghindari kematian masal dan perbudakan. Praktek penjualan anak2 Kristen menjadi tentara Muslim ini kemudian diteruskan oleh kalifah Ottoman Turki terhdp kaum Kristen Serbia, Kroasia dan Bosnia.
Pihak Muslim juga menamakan kembali kota Pentapolis sbg Al Burqa, Babilon dirubah menjadi Al Fustat dan kemudian Al Qahira (Kairo)
Taktik tipuan dan ‘blackmail’ utk menangkap kota Libya, Tripolis (Tripoli sekarang)
Dari Al Burqa, Uqba bin Nafe dikirim sbg pemimpin serangan terhdp Tripoli. Merkea sampai di Tripoli thn 643 AD. Garisun Bizantin disana menolak utk menyerah.
The Muslims accordingly laid siege to the city. Amr put his camp on a high ground and blocked all land routes to the city. The city however had free access to the sea, and the passage to the sea could not be blocked by the Muslims. The Muslim army did not have siege equipment with them. The Byzantine garrison remained locked up within the fortifications and did not come out into the open. The siege accordingly dragged on for two months. The Muslims decided to use subterfuge. They opened negotiations with the Christians and offered to lift the siege during the week of Good Friday and the feast of Easter. The Muslims allowed the Christian inhabitants to visit the Cathedral of Mother Mary that was situated on a Hillock outside the walls of the city. The Christian pilgrims were being escorted by a small contingent Byzantine troops as the pilgrims were to be allowed to proceed unmolested to the Cathedral as per the terms of peace offered to them by the Muslims.
Taking advantage of this nominal and weak security arrangement and the presence of a large number of civilians in the group of pilgrims, the Muslims broke their word as they had planned to and seized a number of the Christian pilgrims as hostages. The Muslim captors question the pilgrims as to who they were in the hierarchy of the Byzantine nobility. To their dismay, none of the hostages were of high rank, they all came from humble families. The intention of the Muslims was to take hostages from the pilgrims, whom they hoped would be from high ranking families who paid homage a at he Cathedral every year. But they realized that among the hostages were two daughters of a night watchman. The Muslims promised to give a thousand dinars to each of them, if they could tell the Muslims an easy way into the city. The two patriotic girls pleaded ignorance of any such path. On seeing their obstinacy, the Muslim threatened to kill them along with the other hostages. The siege of the town was resumed once again.
During the daytime, the Muslims tied the two girls to poles outside their camp which was visible from the ramparts of the Fort of Tripoli, taking them inside their camp for the night. This sight was heart-wrenching and after a few days, the Muslims deliberately lowered their guard and let the two girls sleep in a seemingly unguarded tent. After a few days the girls made a predictable attempt to escape. The Muslims who had kept a small contingent hidden from the sight of the girls followed them stealthily and realized that the girls were circumventing the city walls to go across to the beach from where the Muslims saw that their must be some way to enter the city from the seaward side, which was also fully fortified. They saw the girls slip into a channel which went under ground and followed the girls. This channel was hidden from view by big boulders and so was not visible to a casual visitor. Hence this way into the city had remained unknown all through the two months of siege. Little did the two girls realize that they had unknowingly revealed to the Muslims the secret path into the fortified city.
When the Muslim contingent discovered this passage that provided the city access to the sea they sent for reinforcements and rushed into the city through this passage raising the shouts of ‘Allah-o-Akbar.’ In the commotion in the dead of the night, the Byzantine guards thought that the entire Muslim army had entered the city. There was panic in the city and some of the Byzantines sought refuge on board the ships that lay anchored in the harbor. The Muslim contingent seized one of the Gates and open it for the main Muslim army waiting outside to rush in with shouts of ‘Allah-o-Akbar’. The Muslims then pressed the attack from outside, after having got into the city. There was wholesale slaughter and looting that went on for the entire next day, till Amr called for it to stop, so that an orderly plunder could be organized. The surviving Byzantine garrison fled to the ships and sailed away. The Muslims captured the city without much resistance. The citizens surrendered and most of them accepted Islam and from then on Tripoli, the capital of Libya, which had till then been a Christian City, established by Romans, became a Muslim city, and remains so till this day.
From Tripoli, Amr sent a column to Sabrata a city forty miles from Tripoli. A feeble resistance was put up and thereafter the city surrendered and agreed to pay Jizya.
Dinasti2 Arab dan Turki, 640-1798 A.D
Setelah pencaplokan Mesir, dinasti2 Muslim Arab dan Turki menguasai Mesir dari
640 A.D. – 1798 A.D. Perancis adalah bangsa non-Muslim pertama yg masuk Mesir.
Tetnara Perancis dipikpin Napoleon Bonaparte yg mengalahkan Ottoman dan penguasa dinasti Mumeluk di Mesir th 1798 A.D. Namun selama periode tidak terputus selama
1150 tahun, Muslim mentiranisir Mesir. Dinasti2 Arab termasuk Umayyad (660-751 A.D.) dan Abbasid ( 751-880 A.D.) Dinasti2 Turki termasuk Tolonid ( 880-904 A.D.) dan Akhsid ( 904-913 A.D.). Mereka disusul Fatimit (913-1171 A.D.), dinasti Arab Shiah. Disusul kemudian dgn Turki, Ayubid (1171-1250 A.D.), Mameluk (1250-1517 A.D.) dan Ottoman (1517-1798 A.D.).
Setelah pencaplokan Arab th 641 AD, mereka ingin menguras kekayaan Mesir.
Johannes dari Nikiu dlm kronikelnya menyebut bahwa Amir, panglima invasi Muslim pertama, “meningkatkan pajak sampai 22 keping emas sampai rakyat menyembunyikan diri karena tidak memiliki kemampuan membayar.”
The Umayyads followed by the other dynasties instituted heavy taxes including poll tax or Algyzya, tribute and different exactions. At times the Arab rulers found it convenient to throw prominent Copts, e.g. a Bishop or Pope, in jail and request ransom to release them. The Umayyad Caliph Suliman ibn abed Almalek reflected this policy, in writing his appointed ruler of Egypt ” to milk the camel until it gives no more milk, and until it milks blood”. Though some of the Arab rulers were prudent, most were oppressive, cruel and committed a lot of atrocities against the Coptic population. The ultimate policy of the Muslim Arab rulers changed gradually from maximum financial gain to Islamization either through incentives of reduced taxation, or by outright violence and force. Arab and Turkic rulers from different dynasties continued to levy heavy taxation to impoverish the Copts, instituted policies to eradicate the Coptic culture, language, leadership, and initiated violence and pogroms against the Coptic population.
Penghancuran Bahasa, Budaya dan Monumen Koptik
The assault on culture that was initiated by the destruction of the library at Alexandria and continued by the Umayyads who decreed the use the Arabic language instead of Coptic in the governance of Egypt. It took centuries for Arabic to replace Coptic as the spoken language of the land. The Coptic language continued in general use until the 13th century.
Unlike the Persian, Greek and Roman rulers who maintained and rebuilt some of the ancient Egyptian temples, several Islamic rulers destroyed and pillaged the ancient Egyptian temples and Churches. The marble and porphyry pillars obtained by the destruction of many ancient temples and churches were used to build palaces, mosques, and at times just left a trail of destruction. Sultan El Aziz attempted to destroy the great pyramids of Giza circa 1193 A.D. He gathered a large labor force that attempted to destroy the pyramids for eight months. At the end of which, they succeeded in only destroying a part of the casing of the pyramid and made a small breach in one side. Fortunately the great effort needed convinced El Aziz to abandon the destruction of the pyramids.
Perlawanan terhdp Penindasan Muslim
The Arab’s oppression led the Copts to several rebellions, but these rebellions failed to break the yoke of oppression or achieve independence. The Copts in the eastern Delta fought against the Umayyad oppression in 725 A.D. A large-scale Coptic revolt against the Abbasids took place circa 815 A.D. El Maamoun, the Abbasid Caliph, had to bring in a large army with elephants to conquer the Coptic revolution of 815 A.D. Even as late as 1176 A.D. the Copts of the city of Koptos revolted against the oppression of the Turkic rulers. The policy of heavy taxation, pillage, and violence was also accompanied by forced migration of Copts to other parts of the Islamic Empire, and settlement of Muslim Arabs into Egypt. As a result, many of the Copts were forced into Islam to escape the continued oppression and heavy taxation. The forced Islamization policy was followed by most of the Arab rulers, and later on also by most of the Mamluks and Turkic rulers. Gradually, the population of Muslims increased and the Copts decreased. The population of the Copts decreased from nine million at the time of the Arabs conquest 641 A. D. approximately 700,000 at the early 1900′s.
Trails and Tribulations of the Copts
Though persecution of the Copts by the Arabs, Mamluks and Turks was the norm rather than the exception, most of these rulers needed the knowledge of the Copts to govern the country and collect taxes. The history of the Islamic era shows a vicious cycle in which the Muslim rulers hired Copts because of their knowledge, skill and honesty to administer the affairs of the government of Egypt. Accordingly, some Copts did well and prospered, to ultimately attract the envy of the Muslim rulers who occasionally changed their minds and expelled the Copts from government jobs, confiscated their property, put them in jail, and a times put them to death. As the affairs of the government became erratic without the knowledge which only the Copts had, the rulers had to hire the Copts once again on many occasions. Under the rule of the Fatimite dynasty, one of the rulers was in fact insane.
El Hakem hired several Copts in his employment. And later he suddenly decided to either to force his Coptic employees into Islam or kill them. Two prominent Copts Fahed ibn Ibrahim, and Yuhana ibn Nagah, were among El Hakem’s employees, who accepted death rather than converting to Islam 1004 A.D. But during exceptional and short reigns of moderate rulers, many Copts managed to excel in literature and the arts. Among the famous writers during the Ayubide dynasty, were the Iben Al Asaal brothers. Though the rule of the Mameluks produced many beautiful monuments, they were bloodthirsty and extremely oppressive for the Egyptians Copts. It is not unusual to read about pogroms launched against the Copts during the Mamluks time. A supposedly devout unknown Fakir, who would instigate a Muslim mob after the Friday Muslim prayers to attack the Copts, their homes and businesses/ Usually the pogroms started on Fridays.
However, the Mameluks also needed the services of the Copts to run the affairs of the government. Ibrahim Algawhery, a Copt, was the Chief Clerk of the Mameluks Abuel dahab and Ibrahim Bey in 1795 A.D. Effectively he was the prime minister of Egypt. Later on in the early 20th century another prominent Copt Botrous Ghalli became the prime Minister of Egypt under the rule of the British rule. In the recent past the Secretary General of the United Nations (UN) Butros, Butros Ghali was also a Copt. But the compulsions of the safety of his compatriots (held hostage) in Muslim ruled Egypt, forced him to take a stand favorable to the Muslim in World affairs.
Era Modern Era setelah Ottoman
After the French left Egypt, the country returned back under the rule of the Ottomans and Mamlukes. An Albanian officer of the Ottoman army, Mohamed Ali, managed to become the ruler of Egypt under the Ottoman Empire 1805 A.D. Mohamed Ali was a smart ruthless ruler. He remembered his Christian roots as an Albanian convert to Islam (as did Mustapha Kemal Pasha of Turkey later in the 20th century). Mohammed Ali managed to massacre the Mamlukes and get rid of the Ottoman occupation army. He introduced western style education, industry, and new crops. His rule did not care much about religion as much as about competence. He hired a lot of Armenians and Copts to help his government. He challenged the rule of the Ottoman Empire, but he lost as the European powers stupidly intervened on the behalf of the Ottomans 1845 A.D. Egypt became semi-independent under the Ottomans Empire, then under the British Empire 1882 A.D. and was ruled by the family of Mohamed Ali through 1952.
A group of army officers led a coup d’ etat that ended the rule of King Farouk, the last ruler of the Mohamed Ali family. The coup brought Nasser and his fellow officers to power. He pursued a socialist domestic policy, alliance with Soviet Union, and aggressive conflicts against the West and Israel. Nasser’s socialist policies and conflicts with the West resulted in severe economic hardships for Egypt. After Nasser’s death 1970, Sadat assumed the presidency of Egypt. Sadat reversed his predecessor’s policy, expelled the Soviet advisors, followed a more pro-western approach, and pursued peace with Israel. After a militant Islamic group assassinated Sadat in 1981, Hosni Mubarak assumed the presidency in Egypt until the present time. President Mubarak continues to follow a pro-western policy, and brokered several peace initiatives in collaboration with the U.S. between the Israel and the Palestinians.
Kaum Koptik pd abad2 19 dan 20
The poll tax, Algyzia was finally abolished in 1815 A.D. This gave some relief to the Copts in the 19th century-mid 20th century. This period saw a modest revival and renewal. A Coptic leader, Pope Cyril 4th a reformist followed the ancient Egyptian or Coptic tradition of respect for knowledge and learning in the 19th century. He looked to the western knowledge for inspiration. He established two schools with a western schooling system, and imported a new printing press to disseminate information. He started an effort o collect and catalog Coptic music and hymns. The Coptic music has been handed down orally from the days of the ancient Egyptian temples. It is believed that the Egyptian Government agents poisoned him and he died in 1861 A.D., as they were concerned about his reformist movement. The Copts in the 19th and early 20th century worked together with their Muslim compatriots to achieve independence and democracy in Egypt. They participated in the revolt of 1919 against the British rule after WWI. Several political Coptic leaders participated in the short-lived democratic parliaments in the early to mid 20th century.
World War I resulted in the defeat of the last Islamic Empire, the Ottoman Empire. The last Caliph of the Muslims; the Ottoman Sultan was replaced by a secular president in modern Turkey. Though Turkey has and continues to progress as a secular nation, the impact of a superior western culture and influence was felt in many Muslim countries. A militant fundamentalist Islamic called the Muslim Brotherhood was initiated in 1920′s (offshoots of which are the Hamas and Al Qaeda). Other groups also followed, e.g. the society for Muslim Youth. These movements aimed at resisting the influence of the superior western culture. These movements espoused a more conservative interpretation of Islam, and many of them also espoused violence against the Copts that raged on and off for years. Nasser became President of Egypt shortly after an army coup in 1952. Though Nasser cared mostly about power more than religion, many of his protégé’s espoused the more fundamentalist Islamic teaching of the Muslim Brotherhood.
The Nasser government followed a socialist regime and nationalized most of the private enterprises, which hit the Copts a lot harder as they depended on private businesses for their livelihood. The economic pressures and resurgent discrimination led many Copts to start immigration to countries such as the U.S.A., Canada, and Australia in the 1960′s. Active and successful Coptic-Americans live at present at most of the large metropolitan areas of the U.S.A. The same applies for many of the large metropolitan areas in many of the western countries.
President Sadat was successful in establishing a peace treaty with Israel. However, in his struggle for power against the Nasserite factions, he encouraged the militant Islamic groups in Egypt. In the 1980s, the militant fundamentalist Islamic movement resurgence was accompanied by renewed and escalated assaults on the Copts in Egypt. The Militants instigated several violent episodes against the Copts and western tourists, attacked, sacked and burned churches and Coptic businesses. G. Kepel in his study of Muslim extremism in Egypt indicated that the Militants financed the assassination of President Sadat using gold robbed from Coptic-owned goldsmith stores. On the political side, the Islamic Militant groups called for changing the laws from the civil laws to the Islamic code or Sharia. Their claim is that the return to Sharia provides a solution instead of the western approach of democracy and free enterprise. It would return the Islamic countries to the glory of the medieval age Islamic Empires. However, the return to the Islamic code essentially deprives the non-Muslims including the Copts from equal rights as compared with the Muslims and subjects them to formal discrimination. In the 1990′s attacks on Churches, property and businesses of the Copts have been on the increase.
Seorang suster tidak berdaya dan tidak bersenjata diserang pisau Muslim http://gatewaypundit.blogspot.com/2005/ … on-nun-in- egypt.html
Mesir : Muslim Rusak Toko Kristen
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 270147#270 147
Penculikan para wanita muda Koptik dan Islamisasi secara paksa terhdp mereka terus meningkat. Pogrom2 (pengusiran orang dari tempat tinggalnya berdasarkan SARA) terus berlangsung. Pada thn 2000, kelompok2 Islam militant melangsungkan pogrom yg mengakibatkan tewasnya 21 orang Koptik dan penghancuran rumah2, bisnis dan gereja Koptik di desa Al Kosheh di Mesir Selatan. Insiden2 dan penindasan serupa terus berlangsung. Mendapatkan ijin utk mendirikan ataupun merenovasi gereja dipersulit oleh Undang2 dan bahkan memerlukan persetujuan presiden. Jangan lupa bahwa undang2 ini tidak bertentangan dgn Islam, malah MEMENUHI ajaran Islam.
———————————————————————-
Sumber2 bacaan:
1- The Mummy, Funeral Rites & Customs in Ancient Egypt, by Ernest A. Wallis Budge, reprint of 1893 edition by Senate Studio Editions 1995
2- The Twilight of Ancient Egypt, First Millennium B.C.E., by Karol Mysliwiec, translated by David Lorton, Cornell University Press2000
3- Egypt in The Age of Cleopatra, by Michel Chauveau, translated by David Lorton, Cornell University Press, 2000
4- Women in Ancient Egypt, by Gay Robins, Harvard University Press, 1996
5- Women and Society in Greek and Roman Egypt: A Source Book by Jane Rowlandson, Cambridge University Press, 1998
6- The Chronicle of John Coptic Bishop of Nikiu (circa 690 A.D.), translated by Robert Henry Charles, reprint from 1916 edition, APA-Philo Press Amsterdam, Holland
7- The Vanished Library, A Wonder of The Ancient World, by Luciano Canfora, University of California Press
8- The Story of The Church of Egypt, Volumes I and II, by Edith L. Butcher, reprint of 1897 edition by AMS Press Inc, New York, N.Y 1975
9- Coptic Egypt, by Murad Kamil, Le Scribe Egyptien, 1968
10- Traditional Egyptian Christianity, A History of the Coptic Church, by Theodore. Hall Patrick, Fisher Park Press, 1999
11- Muslim Extremism in Egypt, The Prophet and the Pharaoh, by Gilles Kepel, University of California Press 1993
12- Ancient Egyptian Culture, published by Chartwell Books, Edison, N.J. 1998.
Last edited by ali5196 on Sun Aug 27, 2006 7:23 pm, edited 5 times in total. ali5196
Translator
Posts: 14051
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm Top
——————————————————————————–
by ali5196 » Thu May 18, 2006 1:39 am
PENINDASAN MUSLIM atas PENDUDUK ASLI MESIR (kaum Koptik)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c&start=20
Diskriminasi Terhadap Koptik Kristen di Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=17923
MESIR: diculik, diperkosa, dipaksa masuk Islam
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6197
Toleransi Beragama di Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 95455#9545 5
MESIR : isu ttg gereja baru buat Muslim ngamuk
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 169088#169 088
Serangan terhdp gereja2 Koptik Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=2198
PAKISTAN, Mesir : penculikan gadis2 Kristen
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6197
16/03/2011 pada 13:22
dear penulis
pak, apa sejarah di india benar ya
aku baca di google
tku
agian 12: Jihad vs INDIA 715 – abad 21
by ali5196 » Wed May 17, 2006 5:38 pm
http://www.historyofjihad.org/india.html
Perjuangan Hindu yg Sengit dan Terus Menerus melawan Jihadi menghalangi Islamisasi India secara total
Berbeda dgn Islamisasi total Persia, Mesir, Mesopotamia (Irak), Turki, Afrika Utara, Islamisasi India tidak tuntas. Setelah lebih dari 1000 tahun tirani Muslim, dari 715 – 1761, lebih dari 70% rakyat India tetap Hindu. Ini BUKAN karena kebaikan Muslim, karena ini memang bukan ciri khas mereka. Keberanian ksatria2 Hindulah yg mampu menghantam keberingasan berdarah Jihadi berkali2 terlepas dari berbagai kekalahan yg juga dialami pihak Hindu.
Muslim menyerang India hanya 4 tahun setelah mereka menginvasi Persia
Tidak banyak yang tahu bahwa setelah menginvasi Persia th 634, Muslim menginvasi kawasan Sindh di India th 638, jarak waktu yang 4 tahun. Tapi sementara Persia takluk setelah 17 thn, mulai thn 651, Muslim sampai memerlukan waktu 700 tahun utk menjajah India (sekarang Sindh menjadi Pakistan, yg memisahkan diri dari India thn 1947).
Dan bahkan setelah itu merekapun tidak dapat memerintah India secara damai. Perlawanan Hindu bukan saja sengit tetapi kebuasan kelompok Maratha Hindu sampai menyaingi kebuasan Muslim. Mereka, pada dasarnya, mengejar Muslim sampai ‘dimanapun mereka dapat ditemukan’. Taktik mengalahkan Muslim macam ini juga diulangi di Ethiopia dan Sudan Selatan (Nubia) dimana orang2 Kristen Afrika dari Nubia menggunakan taktik gerilya utk mengejar setiap dan semua Muslim sampai ke akar2nya. Hanya dgn cara ini mereka dapat dikalahkan.
Taktik kotor Muslim melawan India: memenggal kepala anak2
Serangan Arab Muslim melawan India sejak 638 berkali2 dapat dikalahkan oleh para raja Makara (Makran) dan Sindh. Kealotan Hindu ini sampai mengherankan Muslim. Setelah kampanye berdarah selama 80 tahun, Muslim merebut Fort Deval (Debal, didekat Karachi sekarang) secara curang, dgn menculik 3 anak-anak seorang petinggi Fort Debal, MEMENGGAL KEPALA SALAH SEORANG ANAK DAN MEGNANCAM AKAN MEMENGGAL YANG LAIN.
Dgn ancaman ini pihak Hindu terpaksa menyerah. Mereka namun demikian tidak akan pernah melupakannya, saat pemimpin biadab Muslim, Mohammed bin Kasim, mulai menancapkan cengkraman kotornya di India. Dua puteri Raja Dabir yg ditangkapi Qasim juga ditangkap dan dikirim kepada sang Kalif di Bagdad utk koleksi haremnya. Tapi puteri2 ini tidak semudah itu dikalahkan. MEREKA MEROBEK HYMEN MEREKA DGN TANGAN MEREKA SENDIRI DAN MENGATAKAN BAHWA KASIM telah mengambil keperawanan mereka. Ini membuat marah sang Kalif dan memanggil Kasim ke Bagdad. Kasim dituduh melakukan pengkhianatan ! Hukumannya ? Ia disekap dalam sebuah peti kayu bulat yg ditancapi dgn paku didalamnya dan peti kayu itu digulingkan dari bukit. Demikianlah kematian mengenaskan salah satu algojo Muslim India.
Cara kaum Rajput Hindu merongrong Muslim selama 500 tahun
Setelah menjajah Sindh, Muslim menyerang Punjab tapi kalah. Kemudian mereka menyerang Rajputana, tetapi kalah oleh Raja Bhoj, dan saat mereka menyerang Gujarat, merkea dikalahkan para Chalukya (Solankis) dari Anahilwada. Jadi dari thn
715 sampai 980, Muslim tidak maju2 dari Sindh. Hanya di thn 980, Muslim bisa menyerang India lagi.
Cara Muslim memanfaatkan aristokrat Hindu
Thn 980, panglima Muslim, Sabuktagin menggunakan mata2 utk mempelajari taktik perang Hindu. Menurut mata2, Hindu memulai perang pada saat matahari terbit dan mengakhirinya pada saat matahari terbenam. Setelah mempelajari taktik in, Sabuktagin menantang raja Jayapal Shahiya utk berperang dan keduanya menyetujui tempat dan waktu perang. Keduanya sampai pada tempat yg ditentukan, satu hari sebelum tanggal perang yg sudah ditetapkan dan keduanya saling mengirimkan utusan utk menyetujui permulaan perang pada saat matahari terbit keesokan harinya. Tapi malam itu juga Muslim menyusup masuk kamp Hindu dan membantai sebagian besar tentara Hindu.
Keesokan harinya, sisa2 tentara Hindu mengundurkan diri ke ibukota mereka, Kubha , sambil dikejar Muslim. Kota itupun direbut Muslim dan menamakan kota itu; KABUL. Hindu semakin terdesak ke arah timur.
Taktik licik Muslim di Pertempuran Lahore
Setelah merebut Kabul, Muslim menghancurkan semu kuil2 Hindu dan memaksa orang2 Hindu masuk Islam. Setelah kekalahan raja Jayapal Shahiya, puteranya, Anandpal Shahiya, memindahkan ibukotanya dari Kabul ke Luvkushpura (Lahore). Ia mengumpulkan semua sekutunya dan menghadapi penjajah Muslim yg sekarang dipimpin oleh putera Sabuktagin, Mahmud.
Kedua pasukan bertemu di pinggir sungai Ravi dekat Lahore. Muslim dibuat hancur lebur oleh Hindu yg tidak juga mau menyerah kpd imperialisme Arab biadab. Hindu menggunakan gajah yg dilengkapi dgn tameng. Muslim menyadari kelemahan mereka. Mereka mengirim utusan ke Anandpala, dgn alasan mencari damai dan dibiarkan keluar dari India dgn selamat. Guna menunjukkan maksud baik mereka, mereka mengatakan bersedia utk datang ke kamp Hindu utk makan siang. Anandpala sayangnya menyetujuinya, walaupun ia diprotes keras oleh sekutu2nya.
Pihak Muslim mendatangi markas Hindu siang itu. Mereka berpura2 mengobrol dgn tentara Hindu dan meminta agar diperlihatkan tempat markas para gajah. Sang tuan rumah yg ramah tamah sama sekali tidak mencium akal bulus musuh mereka ini. Bagi mereka ‘tamu harus diperlakukan spt dewa’ (Athithi Devoh Bhava).
Dgn diam2 Muslim menyelundupkan serbuk2 opium kedalam makanan gajah.
Beberapa saat kemudian pihak Muslim pulang dan Hindu yakin bahwa perang kini selesai dan perdamaian segera akan tercapai dgn pembubaran kedua markas perang mereka.
Tapi betapa kagetnya mereka setelah beberapa jam kemudian mereka mendengar kavalri Muslim mengelilingi markas mereka dan memulai serangan sengit dgn teriakan histeris ‘Allahuakbar’. Hindu dgn bingung segera mempersiapkan gajah mereka dgn menaruh sadel di punggung gajah dan segera menyerang Muslim secara semrawut. Mereka semakin shock ketika gajah mereka menolak perintah dan malah melarikan diri dari ajang pertempuran. Gajah2 itu sudah terkena pengaruh opium. Gajah yg dikendalikan Pangeran Anandpala juga mulai lari kesana kemari. Ia dikejar tentara Muslim yg memotong tali sadelnya dan mengakibatkannya jatuh dari gajahnya. Ia terhempas ke tanah dan saat tidak berdaya, MUSLIM MEMENGGAL KEPALANYA, menusuk kepalanya pada ujung tombak dan memamerkannya pada pasukan Hindu. Ini semakin membuat shock pasukan Hindu yg sudah kebingungan. Tidak terbiasa dgn cara biadab memperlakukan seorang pemimpin macam ini, tentara Hindu mengundurkan diri tetapi tidak lama kemudian merekapun dibantai.
Penculikan dan Pembunuhan Tirlochanpala oleh Muslim yg berpura2 sbg Sanyasi
Setelah kemenangan curang mereka di Lahore, cucu muda Jayapala Shaiya, Tirlochanpala Shahiya, mengambil oper kekuasaan. Ia hanya teenager berusia 17 tahun. Ia memindahkan ibukota dari Lahore ke Kangra, sekarang disebut Himachal Pradesh.
Kerajaan Shahiya yg meliputi dari Heart sampai ke Haridwar, kini semakin menciut menjadi hanya 1/5 bagian dan tidak memiliki posisi utk menghalangi lajunya Muslim di India. Tetapi ia tetap melanjutkan contoh ksatria ayah dan kakeknya dan bersekutu dgn raja2 Kashyapmeru (Kashmir) dan Tibet, utk mengusir Muslim dari Punjab dan Upaganasthan (Afghanistan). Gubernur Muslim dari Punjab, marah dan spt memang sudah menjadi cirri khas Muslim, merencanakan akal bulus utk mengalahkan raja muda itu.
Ia mengirimkan tentara yg berbusana spt tukang2 bertapa Hindu dari Kabul membawa pesan2 damai bagi Tirlochanpala. Dgn tipu daya ini, mereka diijinkan masuk rumah sederhana Tirlochanpala (karena kekayaan raja2 Shahiya habis dijarah Muslim). Begitu mereka masuk, tukang2 bertapa bohong itu menyerang sang pangeran, menggorok lehernya dan memutuskan kepalanya yg kemudian mereka selundupkan keluar, dan meninggalkan pesan di dekat tubuh tidak berkepala raja muda itu bahwa Islam akan jaya dan akan mengalahkan siapapun yg ingin menghalangi jalan Allah.
Sisa2 tentara Shahiya, kehilangan pemimpin dan patah semangat. Mereka bermigrasi ke pegunungan Himalaya dan menjadi peternak domba dan kambing. Merkea kemudian dikenal sbg Gaddi. Gaddi2 ini sampai sekarang masih eksis di Himalaya.
Jadi dgn kematian Tirlochapala, raja terakhir dinasti Hindu yg menguasai Afghanistan dan Punjab hilang sudah. India harus menunggu 800 tahun sebelum Raja Punjab, Maharaja Ranjit Singh menaiki tahta pd abad 18. Sama 800 tahun itulah
berlangsung tirani Muslim yg memaksa mayoritas Hindu Afghanistan, Paktoonistan dan Punjab Barat menjadi Muslim.
Penjarahan Somnath oleh Mahmud Ghaznavi
Dgn habisnya dinasti Shahiya, India menjadi tempat jarahan Muslim yg dipimpin Mahmud yg megnhancurkan kuil2 Hindu di Somnath, Palitana, Thanesar (Staneshwara), Mathura, Kannauj, Khajuraho setiap tahunnya, sambil tidak lupa mengambil budak bagi pasar2 budak Bagdad dan kota2 Muslim lainnya. Jarahannya terhdp kuil Hindu ternama,
Somnath di Prabhash Patan di Gujarat sampai sekarang masih membekas di benak Hindu. Tawanan2 Hindu ini harus berjalan lewat pegunungan Himalaya bagian barat. Banyak yg mati ditengah jalan. Muslim menamakan kawasan Himalaya Barat dgn ‘Hindu Kush’, yg berarti Pembunuh Orang Hindu (Kush berarti ‘membunuh’ dlm bahasa Persia). Nama ini masih dipakai sampai sekarang dan merupakan peringatan bagi Hindu akan masa tragis ini.
Kemenangan pertama Hindu tehdp Muslim di Pertempuran Baharaich (Uttar Pradesh), 1033
Putera Mahmud, Masud, melanjutkan pengaruh ayahnya dgn menembus lembah Gangga dan mendirikan markas di Baharaich, dan mengirimkan pesan kepada raja2 Hindu disana utik menyerah dan memeluk Islam. (!!)
Spt biasa sebelum memulai perang, raja2 Hindu mengirimkan utusan kpd Masud dan megnatakan bahwa tanah itu milik mereka dan pasukannyalah harus hengkang dari situ dgn damai. Tapi Masud menjawab bahwa tanah itu milik ALLAH dan ia bisa menduduki tempat manapun yg ia mau. Dan adalah tugas sucinya utk menawarkan Islam kpd siapapun yg belum mengakui Allah.
Tentara Hindu membabas habis tentara Masud. Setelah merasakan kekuasaan Muslim selama 400 tahun sejak 638, pihak Hindu sudah mulai mengerti tipu daya dan cara2 pengkhianatan Muslim.
Pertempuran Baharaich ini berakhir pada tgl 14 Juni 1033. Seluruh tentara asing dgn panglima mereka berbaring tidak bernafas. Tidak satupun tentara Muslim diijinkan hidup. Sampai sekarang di Baharaich terletak kuburan Muslim penjajah itu, ‘Pangeran’ Ghazi Mian Masud. Disitu ia dianggap sbg martir oleh penduduk Muslim setempat sbg seorang ‘Ghazi’ (yg berarti seorang Muslim yg mencapai kemartiran dng membunuh non-Muslim). Dan setiap tahun, sampai sekarang, diadakan upacara Urs utk memperingatinya.
Yg mereka ingin lupakan adalah keberanian tentara2 Hindu yg mengorbankan nyawa mereka mereka demi kemenangan menentukan pertama melawan invasi Jihad di India.
Setelah kemenangan Hindu yg sangat penting ini, India kembali damai selama 1 ½ abad sampai dimulainya invasi Muslim berikutnya dibawah kepemimpinan Mohammed Ghori.
Jangka waktu 150 tahun ini, dari 1033 – 1187, membuat Hindu melupakan sikap curang Muslim. Kerajaan Muslim Ghazni (asal pangeran Ghazi) di Punjab Timur, mengadakan perdamaian dgn tetangga Hindunya dan orang Hindu menyangka bahwa Muslim, spt penjajah lainnya akan berintegrasi dgn masyarakat Hindu. Kebijakan Ghaznivid utk megnedarkan coin dlm bahasa Sansekerta dan menggunakan versi Sansekerta nama2 Muslim, spt Mahamada bagi Mohammed, seolah2 memberi kesan sifat damai Muslim.
Mohammed-ibn-Sam atau Mohammed dari Ghauri, mant an Hindu yg menjadi algojo Hindu
1187, invasi Muslim berikutnya terjadi saat suku Ghor di Afghanistan, merebut kekuasaan dari Ghaznavid di Ghazni. Ghori2 ini dulunya suku beternak Hindu dibawah raja2 Shahiya, yg dipaksa masuk Islam oleh Muslim Ghaznavid, yg mengusir Shahiya dari Afghanistan, th 980M.
Kini, setelah 200 tahun, mantan2 Hindu ini menjadi Muslim tulen dan tidak sedikitpun menunjukkan warisan ke-Hinduan mereka, kecuali nama mereka. Ghori atau Gauri berasal dari Gau yg berarti sapi, dlm bahasa Sansekerta, yg menandakan profesi mereka sbg peternak sapi. Ironis bahwa mantan2 Hindu ini kemudian terkenal sbg algojo Hindu.
Mohammed mengalahkan Solankis dari Anahilwada, 1187
sampai disini dulu terjemahannya ———–selebihnya lihat saja artikelnya dlm bahasa inggris.
———————————————
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … highlight=
Politically Incorrect Guide to Islamic Solidarity among Citizens
Islam is a peaceful religion that calls for social and economic justice, solidarity among citizens and coexistence with other religions
» Fri Dec 15, 2006 10:20 am
http://members.tripod.com/israindia/isr/Oct31/him.html
ISLAMISASI DAERAH HIMALAYA
By Baljit Rai
Mahatama Gandhi pernah menulis, ” Islam dilahirkan dlm lingkungan dimana PEDANG adalah dan masih merupakan hukum tertinggi —– PEDANG masih sangat nampak diantara Muslim. Pedang itu harus dimasukkan kedalam sarungnya kalau Islam memang mau diartikan sesuai dgn artinya — damai.”
Bgm sebagian besar kaum HINDU hilang lewat operasi pedang Islam ?
Pegunungan Himalaya, mutiara terpenting India yg juga dikenal dgn nama Himadri, Himavan atau Himachal, memiliki paling sedikit
40 puncak dgn tinggi lebih dari 7000 meter, dan memilki panjang sampai 2400 kilometer dari Sungai Indus didekat Gilgit sampai Jurang Brahamaputra di Upper Assam.
Peg. Himalaya bukan sekedar fenomena geografis namun bagian dari nafas dan kehidupan rakyat India. Himalaya adalah tempat tinggalnya berbagai dewa dan dewa agama Hindu dan menyimpan berbagai tempat ziarah sejak jaman baheula. Peg Himalaya dihiasi dgn pura2 Hindu yg luar biasa cantiknya serta biara2 Budha dgn tipe arkitektur yg berbeda2.
.. Namun kini keadaan diatas itu mengalami ancaman serius. But sadly that warp and woof is changing at a galloping pace and the very culture of Himalayas is under serious threat and siege, as we shall see presently.
UTk mengerti pembagian daerah Himalaya, kita harus melihat ke 4 segmen yg dari Barat sampai Timur melampaui:-
The Punjab Himalayas. This segment covers a stretch of Himalayan Mountains for a distance of 560 Kilometres between River Indus and Satluj. A major portion of this segment of Himalayas lies in Jammu and Kashmir and Himachal Pradesh. Himalayas, which form part of Pakistan Occupied Kashmir and beyond have already gone Islamic.
The Kumaon Hills extend over the distance of 320 Kilometres with River Satluj being its Western extremity and River Kali as the Eastern extremity.
The Nepal Himalayas. This segment of Himalayas is 800 kilometres long and stretches from River Kali in the West to River Tista in the East. Barring a small portion the entire stretch is congruous with the State of Nepal and hence known as Nepal Himalayas.
The Assam Himalayas. This eastern most segment of Himalayas covers a distance of 750 kilometres and extends from River Tista to the river Brahamaputra in the East. This stretch covers a portion of Sikkim, Bhutan, and Arunachal Pradesh. After River Brahamputra, the mountains extend further eastward and from the Tri-Junction between India, Burma and Tibet, swing Southwards in the form of low hills which include the Patkai Bum, Naga Hills, Manipur Hills with a shoot heading towards Mizoram. They form a boundary between Mynamar and India. They then extend onto Arakan Yoma in Mynamar.
The Kumaon Himalayas
———–
Nah, ketiga dari keempat segmen tsb, Punjab Himalayas, Nepal Himalayas and Assam Himalayas, yg kesemuanya mencapai jarak
2080 km, hampir 86% dari jumlah panjang totalnya, dibawah ancaman bentuk terorisme yg paling parah.
Bahkan Kumaon Himalayas, yg secara relatif tenang tidak imun dari infiltrasi pasukan Muslim. Jadi secara keseluruhan, seluruh kawasan Himalaya sebenarnya sedang dihancurkan oleh Islam (Fundamentalis).
Tujuan mereka satu2nya adalah destabilisasi India dan Islamisasi.Laurent
Lupa Diri
Posts: 1957
Joined: Mon Aug 14, 2006 9:57 am Top
——————————————————————————–
by ali5196 » Fri Jan 05, 2007 4:26 pm
http://www.hindujagruti.org/eng/phpnews … ws&id=1312
Hindus, wake up! you may be next victim of Muslims!!
Posted on 19 December, 2006
Updates
HJS participates in protest against Hindu leader’s murder(28 th December 2006)
Third serial attack on Hindu leadership! BJP leader stabbed(22 nd December 2006)
Sukhanand Shetty’s suspected killer killed in encounter(21 st December 2006)
Prime accused in Shetty’s murder, Akbar Kabeer arrested (21 st December 2006)
Another Hindu leader hacked to death! (18 th December 2006)
Hindu brethren, how long you will just read details of atrocities on Hindus?
Shri. Sukhanand Shetty a BJP leader from Mangalore known for his intense Hinduism was brutally murdered on 1 December 2006. He was struck with sword by Muslims. The images of his murder show the cruel mentality of Muslims. Understand the strategy of the Muslims in killing handful of Hindus who strive for Hindudom.
by ali5196 » Sun Feb 11, 2007 6:21 pm
http://islamreview.org/AnwarShaikh/sexv … pter9.html
Chapter 9
The Spiritual Arab Imperialism, contoh kasus : islam di India
… Saya disini hanya akan menyampaikan contoh bgm India mengalami proses imperialisme Arab :
India dulu merupakan negara terkaya di dunia. Semua berlian2 yg paling indah didunia ini bisa ditelusuri kembali ke India: Koh-i-Nur, Darya-i–Nur, Great Mughal, the Florentine, the Sanci, the Shah, the Regent, the Orloff – semuanya berasal dari India. Ini karena penambangan berlian dan seni memprosesnya dimulai di India.
Kekayaan India itu juga yang menarik orang asing. Karena kekayaan negeri itu, raja Muslim, Shah Jehan dipercaya telah membangun Taj Mahal dgn biaya luar biasa sebesar 230,000,000 dollar uang sekarang ini utk menunjukkan cintanya kpd isterinya (Walaupun ada versi lain yg mengatakan bahwa Taj Mahal dulunya pura Hindu yg dicuri, diobrak abrik dan diganti fungsinya oleh Muslim). Tanpa kekayaan India, raja ini tidak dapat mendudukkan dirinya pada Mahkota Peacock (?) yg berharga 7,000,000 dollar. Iapun tidak mungkin dapat memiliki 2 kamar bawah tanah yg memiliki kapasitas sebesar 150,000 cubic feet, penuh dgn batu2an dan besi mulia.
…
Muhammad Bin Qasim adalah penyerang Muslim pertama yg menginvasi India pd th 710 A.D. Ia merampas kekayaan senilai 600 million dirham ditambah dgn beberapa ribu budak. Ini merupakan angka yang luar biasa besarnya pada jaman itu. Dan akibatnya, ia memeras kekayaan provinsi Sindh dan menyengsarakan mereka. Tapi yang paling parah adalah bahwa perampasan ini adalah tujuan agama mereka. Sang penjajah memaksa para pendeta brahma (Brahmin) utk mengemis di jalanan karena menyinggung Allah dgn patung2 mereka.
Cerita2 kebiadaban Mahmud Ghazanvi, salah seorang perampok terbesar dalam sejarah yg menyiksa rakyat India selama seribu tahun lewat persekusi sistimatis, perampokan dan balas dendam, akan membuat bulu kudukmu berdiri. Sosok lelaki ini kecanduan perambokan, barbaritas dan brutalitas sama spt orang jaman sekarang kecanduan narkobat. Semua kejahatannya dilakukan atas nama Allah, yg menuntut pemujaNya agar menghancurkan segala patung dan memuja diriNya seorang diri, tanpa pernah menjelaskan mengapa menggunakan patung
dianggap salah tetapi memuja berhala yg tidak kelihatan spt Allah dianggap baik. Kalau memang begitu, Allah seharusnya menciptakan orang2 dgn keinginan utk memujaNya saja. Ia tidak melakukannya, tetapi sebaliknya menikmati pembantaian, pencabik2an tubuh dan kesengsaraan bagi mereka yg tidak mempercayaiNya. Tuhan macam itu yg kehilangan tidak memiliki kebijaksanaan secuilpun harus dimusuhi orang2 yg masih memiliki rasa moral.
Mahmud Ghazanvi, si pecandu perampokan itu memiliki hobi menyerang semua kuil Hindu yg kaya di India. Ia sangat tertartik dgn orang Hindu yg memiliki adat menghiasi patung2 mereka dgn emas, berlian dan batu2an berharga lainnya. Sama spt serigala tertarik pada domba atau pemerkosa tertarik gadis cantik.
Ia menyerang dan merampok India tidak kurang dari 17 kali ! Pada thn 1001M ia mengalahkan Jaya Pal, yg diperintahkan utk membayar uang sandera sebanyak 250,000 kepingn emas dan kalungnya seharga 200,000 diners ditambah dgn denda 400,000 yg harus dibayar keluarganya.
Invasinya terhdp of Multan (1005-6A.D.) menambah “tabungan hasil sanderanya” sampai 20,000,000 dirham. Bahkan angka yg lebih besar didapatkannya dgn berbagai cara: contoh, ia mendenda Nawasa Shah 400,000 dirham ketika ia menyatakan telah meninggalkan Islam utk kembali pada agama semula, Hindu. Peneryangan terhdp Bhimnagar di Kangra membawanya uang rampasan sebanyak 70,000,000 dirham, selain berlian, perhiasan, emas dan perak seberat 5 ton. “Kepatuhan” Mahmud pada agamanya sampai menghasilkannya patung2 berlapiskan perhiasan permata milik Bhagawan di Mathura, yang tidak berani melawannya tetapi membiarkan ribuan akyat Hindu yg mencoba melindungi kehormatannya, dibunuh secara masal. Barang rampasan dari Mathura begitu besar sampai tidak ada yg dapat menebak secara pasti. Perkiraan paling rendah adalah 98,300 Misqal emas yg dikenakan kelima patung kuil itu. Memang selera si Bhagavan sangat tinggi ! Ditambah lagi 200 patung yg terbuat dari perak murni dgn berat paling tidak 10 ton. Kota2 disekitarnya kota suci ini masih juga dipaksa membayar 3,000,000 dirham dlm bentuk denda dan sitaan harta benda. Namun perampasan kota Somnath, yg menghasilkannya 20,000,000 keping emas pada akhirnya berhasil memuaskan Allah karena si perampok iblis itu tidak pernah lagi kembali ke India.
Selain Mahmud, masih ada sejumlah perajah Muslim lainnya. Selama 7 abad, mereka memperkosa ekonomi tanah indah, Lakshami, yg penuh dgn emas, berlian, mutiara dll. Kerakusan akan perampokan ini, yg ditingkatkan dgn semangat membunuh JIHAD dianggap sbg bentuk pemujaan yg paling sempurna yg menjanjikan surga !
Para penjajah Muslim terdiri dari berbagai bangsa : Arab, Turki, Persia, Afghan dan Mughal. Setelah mengobrak-abrik India selama 7 abad, mereka masih juga menganggap diri dinasti asing dan menolak mengidentifikasikan diri sbg orang India. Sikap egois ini tercermin dari fakta bahwa selama periode lama ini MEREKA TIDAK MEMBANGUN SATUPUN UNIVERSITAS ATAU RUMAH SAKIT YG BERGUNA BAGI RAKYAT INDIA. Satu2nya prestasi mereka adalah mendirikan rumah2 pelacur yg dikenal sbg harem, taman2 indah dan gedung2 yang kelewatan mewah spt Taj Mahal utk memuaskan dahaga romantis mereka yg penuh dgn nafsu birahi tidak terkontrol, kecurangan dan absennya moralitas.
Karena mereka hidup dan mati sbg orang asing, mereka melakukan apapun yg dpt menjamin kelangsungan dinasti mereka dan tidak sungkan2 menghancurkan segala yg dapat menguntungkan negara kelahiran mereka (India), tempat mereka menikmati hidup dan akhirnya dikubur. Karena mereka memerintah dgn tangan besi dan paksaan, meminta ijin rakyat adalah konsep yg sangat asing bagi mereka. Agama mereka– yg menjadikan Muslim anak kesayangan Tuhan dan non-Muslim sbg makanan Setan, oleh karena itu pihak Muslim harus menghina, melecehkan dan memburu si non-muslim—adalah alasan utama permusuhan Muslim terhdp rakyat mereka jajah. Malah, islam mewajibkan agar para raja Muslim memberlakukan India sbg DARUL HARB, wawasan perang/medan tempur, dimana DAMAI DILARANG dan penyiksaan, tirani, kesengsaraan menjadi metode sah.
Tidak pernah terpikirkan oleh mereka utk mendidik rakyat, meningkatkan taraf hidup atau meningkatkan kekuatan tentara negara demi penyelamatan negara. Tidak heran bahwa India justru mundur total pada masa pemerintahan Muslim yg sangat lama itu dan mengundang kebencian dan kedengkian rakyat. Kalau penguasa Muslim memperlakukan India sbg bangsa mereka sendiri, maka rakyat India sekarang akan menganggap mereka pahlawan, terlepas dari agama mereka. Jadi jangan heran kalau utk selama2nya rakyat India akan memfokuskan kutukan abadi mereka kpd Muslim.
Pantaslah kita sekarang membandingkan sejarah Muslim di India dgn sejarah Inggris:
Henry VII adalah orang dari Wales (bukan dari England), yg diberikan julukan raja England. Tetapi pada jamannya, ia menjadi “the best Englishman” terlepas dari perbedasan bahasa dan budayanya. Puteranya, Henry VIII, tidak hanya meniupkan semangat nasionalisme baru bagi orang England/Inggris yg memulai cara2 pemerintahan melalui sebuah Parlemen, yg akhirnya menjadi bentuk pemerintahan yg paling disukai di seluruh dunia. Puterinya, Ratu Elizabeth I, menjadi wanita Inggris yg meletakkan fondasi the British Empire, yg akhirnya merebut India dari tangan kotor dinasti Mughal. Tidak heran, little England kemudian menjadi Great Britain, tetapi India, terlepas dari ukuran wilayah dan sumber ekonominya menciut menjadi kerdil ! Henry VII dan keturunannya yg berasal dari daerah diluar England, menjadi pahlawan Inggris sementara para penguasa Muslim di India hanyalah bandit tulen.
Ini semua karena agama mereka memperlakukan India sbg Dar-ul-Harb, non-Muslim yg hina dan memang patut ditekan. Mereka juga memaksa Hindu utk memeluk Islam agar dapat membantu pemerintahan Muslim. Ini yg mengakibatkan doktrin DIVIDE ET IMPERA (Divide-And-Rule). Konversi masal ini mencapai proporsi sangat tinggi pada masa raja Mughal, Aurangzeb.
…
Konversi masal ini karena penjajah Muslim, yg merupakan minoritas, sadar juga bahwa mereka tidak dapat menundukkan rakyat secara terus menerus. Oleh karena itu kemanapun mereka pergi mereka memproklamirkan bahwa “semua muslim adalah saudara,” yg berarti tidak ada nasionalisme dalam Islam dan semua pengikut (Mukmin) membentuk satu partai, yaitu PARTAI ALLAH, yg tujuannya memerangi non-Muslim yg tergabung dlm Partai Setan.
Hindu2 yg dimuslimkan ini dijamin pekerjaan, status, hak istimewa dlm politik, dibebaskan dari pajak Jizyah dan tanah yg sangat luas. Tapi realitasnya mereka tidak lebih dari boneka penjajah yg mengabdi para tuan asing dan oleh para tuan asingpun tetap dianggap rendah, jijik dan najis.
…
Penguasa Muslim ini malah menambahkan sistim kasta dgn mengganti nama mereka menjadi Sayyad, Qureshi, Farooqi, Siddiqi, Mirza, Malik, dsb. Dan pada mereka ini ditanamkan kebencian pada India dan budaya India. Ingat bahwa mereka sekaran bagian dari Darul Islam, dan bukan bagian dari “dunia kafir najis.” Dan cara ini begitu berhasil sampai para mantan Hindu ini tidak lagi dapat melihat kebenaran dimata mereka.
…
Utk mencapai surga, para pengikut Muhamad harus meletakkan kesetiaan pada tanah Muhamad diatas kesetiaan pada tanah asal mereka, menerima budaya Arab dan mengorbankan budaya mereka sendiri. Inilah akar Kerajaan Spiritual Arab. Inilah sketsa rencana Islam yg dijabarkan sendiri oleh Muhamad. Ia malah menganggap diri nabi bagi SEGALA bangsa;
“Every Prophet is appointed for his own nation but
I have been appointed the Prophet for all nations.”
(Mishkat, 5500, Vol. 3)
Tetapi ketika kiblat diganti dari Yerusalem ke Kabah, baru kita bisa melihat dangkalnya kebijaksanaan sang nabi. Ini berarti bahwa Muslim non-Arab tidak memiliki kiblat mereka sendiri, yg merupakan lambang kehormatan dan persatuan mereka. Mereka harus mengadopsi Kiblat Arab sbg kiblat mereka dan oleh karena itu secara otomatis menerima hukum dan budaya jazirah Arab sambil memutuskan hubungan dgn budaya asal mereka.. Inilah sekarang budaya mereka:
1. Kaabah adalah rumah Tuhan karena IA sendiri yg menyuruh Adam membangunnya dan Ibrahim membangunnya kembali.
2. Kuburan Muslim harus menghadap Mekah.
3. Begitu suci Mekah sampai kalau anda buang air menghadap arah ini anda dicap
Kafir.
4. Allah berbicara Arab, Quran dlm bhs Arab, bahasa yg sangat sulit; semua Muslim harus mempelajarinya.
5. Hadits no. 5751 (Mishkat, Vol. 3) melaporkan nabi sbg mengatakan:
“Cintailah Arab karena 3 alasan karena (1) saya Arab (2) Quran dlm bahasa Arab dan (3) bahasa penghuni surga juga bahasa Arab. ”
6. Kaabah adalah pusat berkah Allah karena disana 120 rahmat suci diturunkan setiap hari dan dibagi2kan kepada seluruh dunia.
7. Ibnu Majah melaporkan dlm hadith no. 1463, bahwa Namaz i.e. solat di Mesjid Medinah memberikan rahmat 100 kali lebih banyak ketimbang solat di mesjid lain, dan solat di Kaaba memberikan 100,000 rahmat ketimbang solat yg serupa di mesjid2 lain !
8. Bahkan kuburan Arab yg dikenal sbg Jannat-ul-Mualla dan Jannat-ul-Baquee adalah yg paling suci. Menurut hadith, mereka memandang para penghuni langit spt matahari dan matahari nampak pada manusia di bumi. Mereka yg dikubur disana akan langsung masuk surga terlepas dari segala dosanya !
9. baca ayat berikut
[3.31] Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Nah, kalau ayat tsb dibaca dgn hadis (5) diatas, anda akan berkesimpulan bahwa utk menjadi seorang Muslim, seorang Muslim non-Arab haru hidup gaya Arab utk mendapatkan kasih dan pengampunan Allah !
10. Sekitar 2 juta Muslim dari seantero dunia setiap tahunnya datang ke Mekah utk upacara haji. Ini merupakan pemasukan besar bagi Arab, mengingat kecilnya jumlah penduduk mereka, shg mereka dpt hidup dgn standard yg mirip dng orang Eropa.
Upacara haji ini merupakan bagian dari budaya Arab dari dulu; budaya ini dikembangkan dari prinsip2 berhala India spt Trimurti, Sabeanisme, cerita2 takhyul setempat. Tidak ada bukti sejarah bahwa Kabah pernah dibangun kembali oleh nabi Ibrahim. Bahkan dijaman Muhamad, Kabah merupakan pusat pemujaan berhala dgn kebiasaan mencium Hajar-Aswad, yg didukung “nabi” karena ini merupakan lambing budaya nasional Arab. Praktek berhala ini disukai orang Arab yg akhirnya membantu ”nabi” mendptkan pengikut.
Upacara haji ini sudah berlangsung sejak jaman pra-lslam. Ini tidak bedanya dng berhala jaman sekarang. Orang mencium batu hitam termasuk 7 kali mengelilingi Kabah, yg dianggapp melambangkan perjalanan bintang dlm tradisi berhala Yemen.
Bahkan nama Allah sendiri adalah nama dewa tertinggi Kabah. Bahkan sebelum lahirnya Islam, nama ayah Muhamad adalah Abd Allah i.e. pengabdi Allah.
…
Dalam rencana akbar penyebaran Arabisme ini, nabi sendiri menempatkan dirinya pada tingkat tertinggi pengabdi Allah, yg bersama dgn malaikat2Nya memberikan segala apa yg diminta Muhamad. Oleh karena itu cinta dan kepatuhan kpd Muhamad adalah Islam sejati dan Allah tidak lain dari nama lain bagi Muhamad karena Allah sendiri tidak berarti apa2 TANPA Muhamad !
Cara terbaik mempraktekkan Islam adalah dgn memperlakukan Muhamad sbg Contoh:
“You (Muslims) have had a good example in God’s Messenger (Muhammad) for whosoever hopes for God and the Last Day.”
( The Confederates, X X XII 1: 20 )
Muslim harus mencontoh setiap gerakan nabi, bgm merasa, bertindak, makan, berbicara, berjalan, tidur dan berpakaian sptnya. Inilah budaya Imperialisme Arab.
Namun walaupun Muslim dimanapun didunia ini adalah orang yg paling tertekan, kekurangan dan sengsara, merkea tidak mau menanggalkan Islam, sumber penderitaan mereka. Mereka dgn bahagia mengalami penderitaan akibat Imperialisme Spiritual Arab, menanti2 manis2an di surga nanti. Luar biasa harga yg harus dibayar utk bisa menikmati kepuasan birahi di akhirat nanti !//ali5196
Translator
Posts: 14051
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm Top
——————————————————————————–
by ali5196 » Sun Feb 11, 2007 6:47 pm
http://www.news.faithfreedom.org/index. … ticle&sid= 220
Islam and The Dhimmi India
Posted by: S. Prasadh on Friday, July 07, 2006 – 12:49 AM
Muslim menganggap patriotisme terhdp sebuah negara sbg NAJIS. Baru2 ini Muslim India mengeluarkan fatwa terhdp lagu kebangsaan India. Peristiwa sederhana ini menggambarkan bahwa setelah satu abad di INdia, Muslim India adalah muslim terlebih dahulu dan baru orang India.
Berikut ini penjelasan saya ttg tingkah laku muslim di tanah dhimmi INDIA (dhimmi=penduduk asli/non-muslim dijadikan warga kelas dua)
PENDAHULUAN
Muslim (Muslim tulen) dimanapun dgn siap berkhianat terhdp negara leluhur mereka. Para Mullah dari Haiderabad baru2 ini mengeluarkan fatwa terhdp lagu kebangsaan India, “ Vande Mataram,” yang berarti : “negaraku, saya tunduk kepadamu”. Para mullah meminta agar para orang tua memboikot sekolah2 dimana mereka diwajibkan utk menyanyikan lagu itu. Mengapa ? Ini beritanya :
MASALAH
Menyongsong tahun akademi baru yg dimulai minggu depan dgn ramainya proses pendaftaran di sejumlah kota—para mufti mengeluarkan fatwa meminta Muslim agar tidak mengijinkan anak merkea bersekolah di sekolah dimana Vande Mataram dinyanyikan setiap pagi. ANak2 itu harus segera dipindahkan ke sekolah lain, demikian perintah fatwa.
Mufti2 tsb, termasuk presiden India Sunni Ulema Board, Mulana Syed Shah Badruddin Qadri Aljeelani, Moulana Mohammed Hasnuddin, Moulana Mohammed Mastan Ali, Nazima Aziz dan Rizwana Zarreen dari Jamiat–ul—Mominath.
“Vande Mataram ditulis oleh Bankim Chandra Chatterjee. ”
Lagu ini menekankah agar orang India memperlakukan Negara mereka spt Tuhan. Muslim tidak dapat meminta utk melalukan hal ini,” kata Mulana Badruddin Qadri Aljeelani kpd TOI (Times of India) setelah menerbitkan fatwanya itu. Bahkan kalau sekolah2 ini menawarkan pendidikan kelas tinggi, mereka tidak dapat memaksa siswa utk melanggar norma2 shariah. Muslim tidak dapat berkompromi dgn Kalma–e–Tayyaba, rukun islam palingutama yg mengatakan hanya ada satu Allah dan Muhamad rasulullah, ditambahkannya.
Orang tua yg mengirim anak2 merkea ke sekolah2 itu melakukan tindak ‘Gunaah–e–Kabira’. Begitu orang mulai percaya bahwa ada lebih dari satu Tuhan, ini dianggap sbg Shirk (anti–Islam), kata Mulana Mufti Hasnuddin. Penguasa sekolah tidak dapat memaksa anak2 Muslim utk menyanyikan Vande Mataram atau apapun yg dilarang Islam, kata Mastan Ali.
Utk mengerti proses bagaimana orang Hindu India dirubah menjadi Muslim picik, tidak toleran dan biadab terhdp negara leluhur mereka sendiri, kita harus menengok sejarah Islam di India.
Kutipan2 ttg sejarah Islam India
Kejahatan yang paling biadab yg dilakukan para pengikut Mohamad alias jihadis adalah terhdp orang2 Hindu tidak bersenjata dan pencinta damai di India. Seluruh peradaban Hindu yg dinamakan dgn Peradaban Saraswati dipenggali dan dibumi hanguskan sampai tinggal debu. Kedalaman dan luasnya holocaust terhdp Hindu ini begitu mengagetkan sampai tidak memungkinkan otak manusia utk mengerti. Ajaran Kitab Weda India, juga dikenal dgn Bharatvarsha dan meluas dari Afghanistan sampai ke Jepang. Tetapi 1400 tahun yang lalu, Muslim2 yg seperti kesetanan ini menghancurkan Bharatvarsha lewat pengkhianatan dan teknik2 yang tidak setetespun didasarkan kpd kemanusiaan. Ini tindak kejahatan terhdp peradaban terbesar yg pernah dikenal orang.
- Dari ‘Rape of a Civilization’, oleh Kuldeep Razdan, Sword of Truth, September 4th, 1999
“Perebutan tentara Mohamadan terhdp India mungkin adalah yang paling berdarah dlm sejarah manusia. Ini sebuah kisah mengerikan karena intinya adalah, peradaban adalah hal yang indah, yg setiap saat bisa dihancurkan oleh invader barbaris dari luar ataupun dari yg membengkak jumlahnya dari dalam.”
- W. Durant, “Story of Civilization”
Di bagian2 lain di Asia dan Eropa, negara2 yg direbut pasukan Muslim, segera memilih masuk Islam ketimbang memilih mati. Tapi di India, karena perlawanan alot agama Hindu yg sudah berusia 4000 itu, penjajahan Muslim bagi Hindu hanyalah sebuah perjuangan murni atnara hidup dan mati. Seluruh kota2 dibakari habis dan penduduk dibantai. Setiap kampanye perang membawa ratusan ribu korban dan jumlah yg sama dideportasi sbg budak.
Setiap invader baru membuat bukit atas tengkorak2 orang2 Hindu.
JUTA antara th 1000 dan 1525. … Kami tidak pernah dapat mengukur luka fisik luar biasa yg dilakukan invasi Muslim terhdp India. Yg lebih sulit adalah mengukur kehancuran moral dan spiritual terhdp Hindu India.
Jadi, perebutan Afghanistan pd th 1000, diikiuti oleh annihilasi seluruh populasi Hindu disana; memang, kawasan itu masih juga disebut HINDU KUSH, atau ‘PEMBANTAIAN HINDU’. Sultan2 Bahmani di India pusat, menjadikan patokan agar membunuh 100.000 Hindu dalam setahun. Th 1399, Timur the lame (Timur si Cacad) dikatakan membunuh 100.000 Hindu DALAM SATU HARI, dan ini menurut sejarawan Muslim sendiri. Koenraad Elst mengutip Professor K.S. Lal dlm bukunya, “Growth of Muslim population in India”, yg mengatakan bahwa menurut perhitungannya, penduduk Hindu berkurang sebanyak
- Dari “Negationism and the Muslim Conquests,” oleh Francois Gautier
Muslim MENCURI ALJABAR milik Arya Bhatta, tetapi penemuan dan kemajuan teknologi apa yg akhirnya ikut dihancurkan oleh Islam di India kita tidak pernah akan tahu.
KESIMPULAN
Ada pepatah kuno di India “Sama,Veda, Dhana, Dandam” adalah 4 metode dasar yg perlu diterapkan setiap orang:
Sama: Ini metode pertama. Kau hanya perlu mengatakan kpd orang “ini harus dilakukan”
Veda: Orang yg tidak mengikuti Sama, harus ditegur “jika kau melakukan ini, inilah yang akan kau dapatkan, dan jika kau tidak melakukannya, inilah yang tidak akan kau dapatkan”
Dhana: Ternyata Veda juga tidak dituruti, maka katakan padanya “Kalau kau melakukan ini saya akan menghadiahkanmu”
Dandam: Teman kita masih menolak juga utk melakukan Dhana, jadi kau mengatakan “Kalau kau tidak melakukan itu juga, saya akan hajar kau !”
ISLAM sukses dlm mendapatkan reputasi seputar dunia bahwa Dandam adalah satu2nya cara mematahkan kesombongan Muslim !
Akar segala kemunafikan dan agresi adalah ISLAM, ideology setan yg diciptakan nabi psycho. Cinta kasih adalah bagi manusia. Spt dikataan anggota senat, Mr. Ackerman kpd negara2 muslim “Jika kau ingin diperlakukan spt India, bertindaklah spt”, dgn kata lain, Kalau kau ingin diperlakukan spt manusia, bertindaklah spt manusia, Jangan merendahkan dirimu kpd ideology psycho biadab dari abad ke 7.
S.Prasadh
—————————————
TERPECAHNYA BANGLADESH
Terlepas dari jaminan keamanan yg ditawarkan oleh pemimpin2 Muslim kpd 13 juta non-Muslim yg Hindus, Buddhis dan Kristen yg sejak turun temurun tinggal di Pakistan, begitu bagian dunia itu di-Islamkan, mulailah kesengsaraan mereka detik itu juga. Pertama, non-muslim (khususnya Hindu) dituding sbg penyebab segala hal yg tidak beres di Pakistan. Mulai slogan2 spt : “Islam terancam bahaya karena Hindu2 kafir.” Persenjataanpun dibagikan kpd massa Muslim dan tanah Hindu direbut secara paksa. Wanita Hindu secara ramai2 diculik, diperkosa dan di’nikahi’ Muslim shg poligami merebak dimana2.
Islam menjadi akronim bagi Intoleransi, Pembantaian, Penjarahan, Pembakaran rumah/pura dan pelecehan wanita Kafir.
1950, sekitar 1/2 juta Hindu dibantai di Pakistan dgn tingkat kebrutalan yg tidak dapat dibayangkan. Sekitar 4.5 juta kafir mengibrit ke India namun pemerintah India mengunci perbatasan karena takut pengugnsi hanya akan mengakibatkan kekerasan antar penduduk Hindu dgn Muslim. 8 juta Hindu ditinggal dlm ketakutan di Pakistan.
Antara 1951 – 1970, 4 juta pengungsi menyelundup lewat perbatasan ke India dari agama damai dan hukum2nya. Tanah dan harta benda
mereka direbut oleh pemerintah Pakistan yg tadinya berjanji utk menyimpannya dlm tabungan escrow nasional dan dibagikan kembali saat urusan dgn India beres. Sementara itu, non-muslim yg mencari keselamatan dari kedamaian yg ditawarkan Islam dibiarkan tanpa uang sepeserpun dan lontang lantung menjadi gelandangan di jalan2 Bengali di India.
Bahkan antara sesama Muslim di BangladeshPUN tidak ada ketentraman. Thn 1971, pecah perang saudara dan terciptalah Bangladesh, negara Muslim yg memisahkan diri dari negara Muslim Pakistan ! Dlm prosesnya, tiga juta orang dibantai Muslim Pakistan yg dipanas2i utk membunuh Hindu kafir dan Muslim Bangladesh yg “1/2 kafir”.
SPt dikatkaan MajGen Pakistan, Sawkat Reza: “Kami telah merampungkan pekerjaan mulia atas nama agama kami ….”. 200.000 wanita minoritas DIPERKOSA dan kebanyakan dari mereka dibunuh secara brutal oleh bayonet2 yg menunjukkan sadisme sexual. Banyak wanita diborong dgn kapal laut ke Saudi dan dijual sbg budak, praktek yg sampai titik ini (2007) masih berlaku. Uang hasil penjualan wanita ini masuk ke kas negara Pakistan.
Strategy Islam, spt biasanya, adalah mengurangi jumlah kafir sampai NOL. Bangladesh mencapai ini di daerah Mymensingh Utara, dimana pd thn 1947 berpenduduk 90% Kristen. Karena penindasan brutal pd thn 1964 dan 1971, semua Kristen Garo lari ke India. Distrik Chittagong thn 1947, tadinya 98% Buddhis. Karena tidak mendapatkan suaka di India, kebanyakan dari mereka lari ke Arakan di Burma.
ke-11 juta dhimmi yg tertinggal hidup sbg warga kelas dua di Bangladesh. Semua lowongan kerja pemerintah tidak diberikan kpd orang2 ‘najis’ ini dan mereka juga tidak diijinkan menikmati universitas (persis spt di MALAYSIA sekarang ini!!). Komite Syariat Munir menegaskan: …. . Mereka tidak akan menjadi warga penuh; mereka tidak memiliki suara dlm pembuatan UU, tidak diberikan hak utk menduduki jabatan pemerintah.”
Taslima Nasrin, seorang murtad, menulis buku ttg kekejaman terhdp
non-muslim dlm bukunya “Lajja” (MALU!) dan langsung serta merta disensor oleh Bangladesh dan kelompok “mullah” memasang harga
50,000 taka atas nyawanya, th 1993. India, karena takut kerusuhan Muslim, juga melarang bukunya.
Kekejaman terhdp non-muslim masih berlanjut di bagian barat
Pakistan, dan cerita2 naas masih berlanjut sampai detik ini. Bedanya adalah bahwa apa yg dialami Hindu di India kini dialami non-muslim DILUAR India. Bedanya adalah bahwa muslim disana BELUM memegang kekuasaan. Hati2lah !
Last edited by ali5196 on Sat Jul 14, 2007 6:45 pm, edited 3 times in total. ali5196
Translator
Posts: 14051
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm Top
——————————————————————————–
by ali5196 » Sat Jul 14, 2007 6:33 pm
Muslim2 INDIA Balik ke Hindu
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=15276
Dari percakapanku dengan kakek dan ayahku, aku menyadari bahwa kakek moyang kami adalah Rajput dan sangat taat memeluk Hindu di jaman dulu. Sewaktu jaman Kaisar Moghul, di bawah kekuasaan Aurangzeb, seorang kakek moyang kami menjadi pemeluk Islam karena diancam bunuh dengan pedang. Sebenarnya pilihannya lebih sederhana lagi (hebatnya si Aurangzeb!): menerima Islam atau melihat putranya yang masih remaja diinjak-injak gajah liar. Tidak hanya itu, jika dia tidak mau memeluk Islam meskipun putranya dibunuh, dia akan dipaksa melihat anak perempuannya yang sedang hamil diperkosa rame2. Karena inilah kakek moyang kami memilih Islam.
…
16/03/2011 pada 15:57
pak, tlg info kita apakah sejarah di bawah ini benar atau salah ya. biar kita tahu kebenaran nya
tku
Bagian 4 : Jihad vs Koptik-Mesir 639-641M**
by ali5196 » Wed May 17, 2006 5:14 pm
http://www.historyofjihad.org/egypt.html
Mesir jaman pra Islam adalah wilayah yg paling berharga dlm Kerajaan timur Romawi. Mesir adalah keranjang roti Roma nomor dua setelah Konstantinopel. Tanahnya subur dan sumber ekspor gandum, jagung, anggur, minyak, tekstil, gelas, kosmetik dan obat2an. Pada saat invasi Arab, jumlah penduduk Koptik diperkirakan sekitar 9 juta.
Mesir sebelum invasi Islam BUKAN Negara Arab
Pertama didirikan di abad 3 atau 4M, the Hanging Church adalah gereja koptik Kairo paling terkenal
Salib Koptik/Gereja Orthodox sejak abad 4M di Mesir
http://en.wikipedia.org/wiki/Coptic_Church
Kebanyakan dari kita menyamakan orang Mesir dgn Arab. Mohammed Atta, pemimpin serangan 9/11 adalah orang Mesir yg memimpin sekelompok teroris Arab. Dmeikian pula dgn Yasser Arafat yg lahir di Kairo, yg membohongi dunia dgn pengakuannya sbg orang Palestinia. Bandit2 ini dan jutaan orang Mesir sekarang menganggap diri sbg orang Arab. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah hasil Arabisasi akibat invasi Arab pada abad ke 7 yg menghancurkan Bizantin yg menguasai Mesir. Orang mesir adalah keturunan Firaun yg mendirikan peradaban klasik Mesir disepabjang lembah Nil dan membangun kota2 cantik spt Luxor, Memphis, Karnak dan Thebes. Firaum spt Ramses, Nefertiti mendirikan pyramid megah yg menyimpan misteri alam semesta yg dibangun sesuai dgn konstelasi bintang.
Agama orang Mesir kuno didasarkan kpd animisme, sbg mana juga orang Yunani-Romawi, Hindus, Mesoamerican dsb. Mulai abad ke 6SM sampai abad 4M, Mesir dikuasai raja Persia dari dinasti Achemenia, Hakkamanishiya. Orang Persia adalah Zoroastrian, tetapi mereka tidak mencampuri urusan keagamaan orang Mesir.
Pada abad ke 4, Persia dijatuhkan oleh Panglima Yunani, Alexander, yg kemudian mendirikan kota Alexandria di Delta Nil, sbg pelabuhan masuk bagi orang Yunani yg berlayar lewat Laut Mediteran.
Bahkan kekuasaan raja Yunani dibawah Ptolemys dlm 3 abad berikutnya tidak mengusik agama orang Mesir. Rakyat Mesir tetap dibiarkan memuja dewa2 mereka, dewa matahari, Ra atau Amon Ra, Horus, dewa langit yg memiliki kepala spt burung gagak dan bertubuh manusia, dsb. Pada thn 1 Masehi, Mesir menjadi bagian dari kerajaan Romawi dibawah Julius Caesar setelah bunuh dirinya ratu Cleopatra. Namun orang Romawipun tidak mempedulikan kepercayaan penduduk asli. Jadi setelah berbagai invasi oleh Persia, Yunani, Romawi, agama Mesir tetap bertahan sbg agama unik dan orijinal. Hanya setelah kaisar Romawi, Konstantin memeluk agama Kristen pada abad ke 4, rakyat Mesir mulai memeluk Kristen. Saat Muslim Arab menginvasi Mesirf, penduduk asli Mesir seluruhnya Kristen, walau bekas2 agama lama masih sangat kuat dan mempengaruhi ritual Kristen.
Orang Mesir menganggap diri bangsa Hamitik, berbeda dgn orang Arab yg termasuk bangsa Semitik. Bangsa Hamitik terdiri dari bangsa Mesir, Nubia (Sudan), Abyssinia (Ethiopia), Somali dan Masai (Kenya dan Tanzania). Kebudayaan kuno Mesir oleh karena itu juga TIDAK disebut sbg peradaban Arab dan para firaun juga tidak dianggap sbg raja2 Arab.
Sifat Arab hanya nampak setelah invasi Arab th 639-641M. Arab-lah yg memberi nama ‘Koptik’ pada penduduk asli Mesir. Copt adalah kata Inggris yg berasal dari kata Arab ‘Gibt’ atau ‘Gypt’ dari kata Yunani ‘Egyptos’ atau Egypt. Kata Yunani ‘Egyptos’ berasal dari kata Mesir kuno ‘Ha-Ka-Ptah’ atau kuil dewa Ptah, salah satu dewa utama Mesir. Kata Copt atau Coptic berarti Egyptian/orang Mesir, namun sekarang, penduduk muslimn Mesir memanggil diri Arab dan kata Copt atau Coptic merujuk pada penduduk Kristen Mesir.
Gangster Muslim yg menjarah lembah Nil dibawah perintah kalifah Umar berjihad melawan Mesir dan memaksa penggantian agama rakyat Mesir ke Islam adalah Amir bin Al-Aas yg sebenarnya juga pemeluk Islam baru. Clannya, Bani Sahm dari suku Quraish, terpaksa memeluk Islam setelah ‘nabi’ Muhamad-bin-Abdullah menjarah Mekah th 630M. Spt juga para pemimpin Quraish lainnya, pada mulanya Amir menantang Islam dgn keras. Malah ia mengepalai kontingen Quraish di Pertempuran Uhud. Thn 630M, dgn Khalid-ibn-Walid ia mengalahkan pihak Muslim, tetapi setelah jatuhnya Mekah ditangan Muslim, Amir bin Al-Aas dan Khalid-ibn-Walid
masuk Islam. Ini tidak mereka lakukan secara suka rela tetapi mereka melihat keuntungan utk bergabung dgn pihak yg menang. Dgn demikian, mereka tidak hanya berhasil menyelamatkan jiwa mereka tetapi malah dgn senang hati menerapkan teknik2 Muslim spt menjarah, menyiksa bangsa lain dan memaksa mereka memeluk Islam. Setelah itu Amir menjadi bagian dr gangster Muslim.
Menurut cerita, saat remaja, Amir melancong dgn karavan ke Palestina. Suatu hari ia bertugas menjaga onta karavan diluar Yerusalem. Hari sangat terik dan saat ia duduk dibawah pohon, datanglah seorang pelancong yg letih dan sangat kehausan. Amir dgn murah hati memberikan minumannya. Sang pelancong meminumnya dan kemudian tertidur.
Beberapa saat kemudian, seekor ular nampak mendekati sang pelancong yg sedang tidur nyenyak. Amir dgn sigap membunuh ular itu dgn panahnya. Sang pelancong sangat berterima kasih pada Amir karena telah menyelamatkan hidupnya utk kedua kalinya. Sang pelancong ingin memberikannya uang bagi dua nyawa. Ia mengatakan bahwa ia datang ke Yerusalem dari Mesir. Dan ternyata sang pelancong ini ini bukan sembarang pelancong, ia adalah seorang Maqauqas, pendeta tinggi kaum Kristen Mesir. Ia ingin agar Amir menemaninya ke Mesir. Akhirnya mereka melancong ke Mesir.
Saat tiba di Alexandria, Amir tinggal di rumahnya yang megah dan diperlakukan bak tamu raja. Maqauqas, sang tuan rumah membawanya ke festival di Hippodrome. Salah satu ritual festival adalah ritual ‘Bola Emas‘. Pendeta memukul sebuah bola emas dan bola itu melayang ke atas. Kepercayaannya adalah, ketangan siapa bola itu mendarat, ialah yg akan menjadi penghancur Mesir.
Saat pendeta memukul bola iitu ke udara semua orang mengikuti lajunya arah bola itu dgn tegang. Setelah bola membelok di udara, bola itu mendarat di lengan baju Amir. Penonton kaget. Mereka tidak dapat percaya bahwa orang Arab terbelakang dan tidak berbudaya dari gurun pasir itu dapat menghancurkan Mesir. Mereka merasa ini pasti salah. Pasti cara memukul bola itu salah.
Maqauqas, tuan rumah Amir dgn bingung mengatakan kepadanya, “Saya tidak tahu tapii tanda dari para dewa tidak pernah salah. Aneh memang nasib dan siapa tahu kau suatu hari akan kembali ke sini.”
Amir yang juga bingung itu kembali dari Mesir, sarat dng hadiah dan uang. Peristiwa Bola Emas itu terus menghantuinya. Ia sering menganggapnya sbg mimpi tapi dalam hatinya ia yakin bahwa suatu hari ia akan memasuki Mesir sbg penakluknya dan menghancurkan segala yg ada disana.
Nah, jadilah Amr seorang panglima besar pasukan Muslim di Syria, ia terus menerus ingat akan mimpinya menaklukkan Mesir. Cita2nya akhirnya tercapai ketika Umar memberinya perintah utk menghancurkan tanah kafir itu. Amir bin al-Aas segera berangkat menuju Mesir dgn 40.000 tentara.
December 639, pasukan Muslim mencapai Farma, kota benteng yg dijaga garisun Bizantin. Muslim menyerang kota itu sampai 2 bulan lamanya. Musim semi Februari 640, pasukan penyerang yg dipimpin Useifa-ibn-Wala menyerang fort itu pada malam buta. Perlawanan Bizantin runtuh dan kota ini akhirnya jatuh ke tangan Muslim.
Setelah jatuhnya Farma, Muslim maju ke Bilbeis, 40 mil dari kota Memphis. Bilbeis berada di gurun Negev (di perbatasan dgn Israel sekarang). Kota itu juga kota benteng dan Muslim menyerang dgn memutuskan suplai air. Setelah sebulan, pada akhir Maret 640 kota itupun menemui akhir naasnya.
Dari Bilbeis, Muslim berbaris ke Babylon (sebuah kota di Mesir Bizantin, bukan yang di Mesopotamia/Irak sekarang). Kota Babylon inilah, dinamakan Arab sbg Al Fustat dan kemudian sbg Al Qahira atau spt yg dikenal sekarang : Cairo). Karena taktik licik, penaklukan Mesir tidak sulit bagi Muslim. Tetapi di Babylon mereka menemukan perlawanan canggih. Perang ini sampai berlangsung selama 7 bulan. Babylon merupakan kota yang lebih besar dan lebih penting dan perlawanan disana juga lebih sengit. Namun Amir tetap memaksakan kehendaknya.
Babylon merupakan kota kunci Mesir. Kota terdekatnya adalah Memphis, ibukota kuno para firaun. Muslim tiba didepan Babylon bulan May 640M. Babylon merupakan kota benteng dan Bizaantin mempersiapkannya bagi setiap serangan. Disekililing tembok luar kota itu digali lobang panjang dan pasukan dalam jumlah besar ditempatkan antara lobang dan tembok kota itu. Fort Babylon itu adalah gedung besar dgn tembok setinggi 30 meter dgn tebal tembok 2 meter. Fort itu juga diperlengkapi menara2 dan ‘bastions’ (??).
Kekuatan pasukan Bizantin ini 6 kali lebih besar dari kekuatan Muslim, jadi Amir meminta Umar meminta tambahan tentara. Bln Agustus, datang tambahan tentara sebanyak 4,000 orang dari Syria. Setelah ini juga tidak berhasil melemahkan Bizantin, Umar mengumpulkan tetnara di Medinah. Diantara mereka yg bersedia memerangi Mesir adalah Zubeir bin Al-Awwam, saudara sepupu ‘nabi’ Muhamad. Pasukan tambahan 4000 tentara itu maju ke Mesir tapi Fort Bizantin itu masih belum dapat dikalahkan juga.
The taking of Heliopolis by subterfuge
10 mil dari Babylon terletak kota Heliopolis. Kota itu adalah kota Kuil Matahari para Firaun. Muslim merasa bahwa pasukan Bizantin dari Heliopolis akan menyerang Muslim dari belakang saat mereka bertempur melawan Babylon. Oleh karena itu Zubeir dan Amir berangkat ke Heliopolis. Diluar kota itu terjadi bentrokan kavaleri, dan walaupun banyak orang Bizantin tewas, hasil pertempuran tidak pasti. Amir dan Zubeir kemudian memerintahkan digalinya sebuah terowongan yang berakhir kedalam benteng Bizantin itu. Dan dgn cara itu mereka berhasil melemahkan para penjaga dan membuka gerbang kota itu bagi tentara Muslim. Seluruh garisun Bizantin dibunuh secara masal. Ini mengingatkan kita pada terowongan yg digunakan Hamas, teroris Palestina, Jihad Islami dan Fatah kedalam Gaza utk menyelundupkan senjata dari Mesir ke Gaza utk mengadakan serangan teroris melawan penduduk sipil Israel. Bentuk senjata berubah dari pedang ke jaket berisi bom bunuh diri, tapi sikap Muslim yg haus darah tidak berubah sedikitpun.
Upaya Muslim merebut Babylon dgn menjebak tentara Bizantin
Dari Heliopolis, Amir dan Zubeir kembali ke Babylon utk meningkatkan serangan terhdp Bizantin. Pihak Bizantin kini mulai keluar dari lobang perlindungan mereka dan menyerang Muslim secara langsung. Muslim berpura2 mundur. Bizantin mengejar mereka dan Muslim mundur terus sampai seluruh pasukan Bizantin meninggalkan posisi mereka di lobang perlindungan. Atas tanda Amir, 500 pasukan Muslim berkuda yg dipimpin Kharija bin Huzafa bergegas dan menyerang tentara Bizantin dari belakang. Singkat cerita, Bizantin masuk perangkap Muslim.
Banyak yg tewas tetapi pasukan utama Bizantin berhasil kembali ke kota itu. Pihak
Bizantin menutup gerbang kota. Tapi sekarang kawasan antara lobang dan kota itu dikuasai Muslim. Dgn senjata katapul mereka menghantami tembok kota itu
dgn batu2 besar.
Pengkhianatan dan tindakan mata2 terhdp Bizantin
Karena putus asa, Jendral Bizantin, Theodorus menunjuk Maqauqas, yg sekarang pejabat Mesir dan Kepala Pendeta kaum Copt, yg dikenal Amir pada masa2 pra-Islamnya di Palestina. Maqauqas mempercayai Amir karena dulu ia memang dapat dipercaya, bahkan sampai menyelamatkan nyawa Maqauqas. Tetapi Islam mengubah semua itu dan Amir memanfaatkan hubungannya dgn Maqauqas utk merebut Babylon. Maqauqas meminta agar Amir mengirimkan utusannya ke Babylon utk negosiasi selama 2 hari. Tetapi waktu 2 hari itu digunakan utusan2 tsb utk mempelajari benteng itu dari dalam. Mata2 berkedok utusan itu dikirim Amir. Utusan Muslim berkata pada Maqauqas dan memberi 3 pilihan yg lazim ditawarkan Muslim kpd musuh2 mereka : Islam, Jizya (pajak tinggi) atau perang.
Negosiasi terus berjalan dgn bolak baliknya utusan. Namun kali ini saat Muslim berada di gerbang kota itu, mereka malah menyerang delegasi Bizantin yg menyangka Muslim ingin bernegosiasi. Setelah membantai delegasi Bizantin, pihak Arab membakar gerbang kayu raksasa Babylon. Dgn terbakarnya sebagian gerbang, tentara Muslim menembus gerbang api tsb dan dgn fanatisme menggebu-gebu mereka, mereka menyerbu kota dan membantai penghuninya.
Pelajaran dari Pertempuran Babylon bagi AS dan Eropa
Selama negosiasi, Maqauqas menawarkan 100 keping dinar kpd setiap panglima dan 1000 dinar kpd sang Kalif. Tapi pihak Muslim mengatakan bahwa mereka tidak dapat dibeli dgn keping emas yg nantinya toh akan menjadi milik mereka begitu kota itu direbut. Katanya, pun kalau ia mati dalam pertempuran ia akan langsung ke surga.
Siapapun pemimpin Eropa yg merasa bahwa dng tawaran bantuan dana, keanggotaan WTO, kontrak dagang dsb dsb … bisa membujuk negara Muslim spt Iran agar menghentikan ambisi senjata nuklir mereka, maka mereka salah besar !
Muslin akan memanfaatkan perundingan utk mengulur waktu sampai senjata nuklir mereka siap pakai dan siap serang, mulai dgn Israel.
Kita juga melihat bgm Muslim siap sedia utk melakukan cara curang apapun utk menghancurkan non-Muslim, sesuai dgn doktrin tipuan mereka, Taqiyya yang sangat meresap kedlm budaya Muslim. Status kafir tercatat dgn jelas dlm Qur’an dan Hadith. Menipu kafir agar mencapai kemenangan memang disahkan Qur’an dan didukung preseden dlm Hadis. Mempercayai Muslim tulen (muslim fundamentalis) sama saja dgn mempercayai Nazi dlm PD II atau Komunis dlm revolusi Russia, bahkan lebih parah. INi karena Muslim percaya bahwa ini mandate dari Tuhan. Agama lebih kuat daripada filosofi politik sesaat. Fakta ini tidak menyenangkan, tapi kalau and mempercayai Muslim, mereka akan menang. Jadi, dalam perang melawan terror ini, pilihan hanya : kematian kita tau kematian Muslim. Pilihan jelas. Kita harus lebih pandai dari mereka mengggunakan cara Taqiyya.
Pencaplokan Alexandria dgn cara tipuan
Ketika sang Khalif menerima laporan dari Amir bin Al-Aas ttg kalahnya Amir, ia memerintahkan agar SETIAP dan SEMUA kafir diberanguskan dari Mesir. Ia memerintahkan Amir utk mencaplok kota pelabuhan Alexandria (yg kemudian dirubah namanya oleh Muslim menjadi Iskandariya). Saat Muslim berada didepan Alexandria bln Maret 641. kita itu dijaga berat. Tembok demi tembok dan benteng demi benteng dibangun utk melindungi kota tsb. Pasukan Bizantin didlm kota ity mencapai jumlah
50.000 sementara kekuatan pasukan invasi Muslim adalah 100.000. Kota itu tidak memiliki persediaan pangan. Karena kota itu memiliki akses langsung ke laut, mereka tergantung dari rute laut ini bagi bala bantuan dari Konstantinopel berupa tenaga kerja dan bahan2 kebutuhan.
Saat Amir mensurvey situasi militer, ia merasa bahwa Alexandria sebuah tantangan besar. Pihak Bizantin juga bermaksud mempertahankannya dgn segala kekuatan mereka. Untuk itu, Amir kembali menggunakan akal bulusnya.
Pasukan biadab Muslim ini kemudian memulai dgn serangan mereka. Bizantin menggunakan katapul yg ditempatkan diatap tembok2 kota mereka yg menembakkan batu2 raksasa ke posisi Muslim. Ini mengakibatkan kerusakan besar di pihak Amir dan memerintahkan pasukannya utk mundur dan mengambil posisi diluar jangkauan katapul.
Mulailah perang maju mundur. Muslim maju dan dihantami misil2 batu. Saat Muslim mundur dari tembok kota, Bizantin kelaur dai benteng2 merkea tapi langsung dihantam balik oleh para pengikut agama damai.
Sementara itu, kaisar Bizantin, Heraclius mengumpulkan pasukan besar di Konstantinopel yg dimaksudkan utk membantu Alexandria. Tetapi sebelum ia sempat merealisasikan rencananya ini, ia wafat. Pasukan tambahan bagi Alexandria ini ditunda keberangkatannya.
Taktik licik Muslim utk memenangkan duel yg mempertaruhkan kebebasan mereka saat mereka terjebak Bizantin
Ketika Muslim tahu akan wafatnya kaisar Bizantin yg menunda pengiriman pasukan tambahan, mereka memanfaatkan kesempatan ini dan meningkatkan serangan mereka.
Tapi serangan Bizantin bertubi2 dan berhasil memerangkap muslim. 4 Muslim memasuki kamar bawah tanah, tetapi karena sempitnya terowongan masuk yg hanya bisa dimasuki satu orang, terowongan ini mudah dipertahankan oleh keempat Muslim ini. Pihak Bizantin tidak mungkin menangkap ke 4 Muslim ini dari terowongan itu. Kalau mereka dibiarkan disana, mereka akan mati kelaparan. Salah satunya adalah Amir, hal yg tidak diketahui pihak Bizantin.
Bizantin meminta para Muslim yg terjebak agar menyerah shg mereka tidak akan mati kelaparan ataupun menukar mereka dgn tawanan Bizantin ditangan Muslim. Muslim menolak. Lalu pihak Bizantin yg tidak sudi membiarkan musuh mereka mati kelaparan malah mengajak mereka berduel. Katanya jika salah satu dari mereka yg menang dlm duel, mereka bisa bebas. Pihaik Muslim setuju.
Amir sendiri menawarkan diri bagi duel itu, tetapi Masalma menghalanginya dan menawarkan dirinya sendiri.
Kalau pihak Bizantin yg terjebak Muslim, maka Bizantin tidak mungkin diberi tawaran gentleman ala Bizantin ini. Mereka akan ditebas pedang Islam, dibantai secara masal saat itu juga. Namun pihak Bizantin adalah orang2 terhormat dan berbudaya dan bukan dibutakan oleh fanatisme spt Muslim, jadi mereka taat pada janji mereka.
Mulailah duel pedang itu yg berlangsung dgn sengit. Kemenangan bagi pendekar Bizantin nampak dekat tapi Masalma berbuat curang dgn menarik bulu ketiak pihak Bizantin. Ketika ia mundur karena kesakitan, Masalma, sang algojo Allah itu membunuhnya dgn menusuk pedangnya begitu kuat kedalam hati sang pendekar Bizantin sampai menebus ke punggungnya. Terlepas dari tindak curang ini, pihak Bizantin mematuhi janji mereka.
Perang masih juga berlangsung selama 6 bulan, dan Umar di Medinah menjadi semakin tidak sabar. Ia menulis surat kepada Amir :
“Saat kau menerima surat ini, doronglah tentara agar berperang. Mulailah serangan pd hari Jumat siang, saat turunnya rahmat Allah.”
Amir bin Al-Aas mengumpulkan orang2nya dan membacakan surat Umar. Kotbah2 penuh semangat jihad mendorong Muslim agar melakukan kekerasan. Dan diputuskan agar setelah solat Jumat mereka akan melangsungkan serangan besar2an. Ubada dipilih utk membawa bendera utk dan memimpin serangan.
Hari Jumat kemudian, setelah bersolat, tetnara Muslim berbari ke medan perang dgn membawa peti2 mata diatas kepala mereka. Mereka maju dgn semangat fanatisme meluap, tapi pihak Bizantin mempersiapkan diri dan melancarkan serangan balasan. Hari Jumat itu, pihak Muslim mengalami kekalahan besar dan serangan Jumat itu gagal total.
Saat itu Allah menolak utk memenuhi keinginan Muslim, walau dilakukan pada hari suci Muslim.
Malam itu di kamp Muslim, putus asa meliputi seluruh kamp muslim. Malah ada yg mengusulkan utk membatalkan upaya mencaplik Alexandria dan kembali Al Fustat (nama lain bagi Babylon). Kegigihan Bizantin mematahkan semangat mereka. Tapi datanglah seorang penangkap ikan, mantan Koptik yg sekarang memeluk islam bernama Abu. Ia mengusukan agar Amir dan teman2nya yg dapat berbicara bahasa Yunani berangkat pagi2 ke pelabuhan dan memarkir perahu nelayan mereka di pelabuhan.
Ini memang praktek para penangkap ikan yg membawa hasil panen dipagi hari ke Alexandria. Setelah mendarat disana, Abu dan rekan2 barunya itu menuju ke salah satu gerbang dan membunuh tentara penjaga dan saat subuh mereka berhasil membuka gerbang kota itu.
Akibat serangan fajar ini, 20.000 tentara Bizantin tewas atau ditangkap dan penduduk tidak berdaya dibunuhi secara masal oleh para pengikut agama damai Allah. Selama 3 hari penuh, kota itu menjadi lautan darah. Istana2 dirongsoki sampai habis, para wanita dijadikan budak sex dan yg paling cantik dijadikan penghuni haremnya Amir dan panglima2nya. Amir dgn bangga melaporkan kpd bossnya, Umar: “Kami menaklukkan Alexandria. Di kota itu ada 4.000 istana, 400 tempat hiburan dan jumlah kekayaan yang tidak terhitung.”
Tentara Muslim dgn giat mengumpulkan jarahan perang mereka. Umar memutuskan bahwa Muslim berhak memiliki setiap harta benda yg mereka temukan karena kekuatan mereka (‘by the right of might’). Ini memang cocok dgn filsafah Muslim bahwa ‘Kekuatan adalah Baik’ (‘Might is Right’) yg dilanjutkannya kemudian dlm 14 abad eksistensinya di Afrika, Asia dan Eropa.
PENGHANCURAN PERPUSATAAN ALEXANDRIA
Penyidikan terakhir oleh Luciano Canfora menyimpulkan bahwa Amir, atas instruksi kalif Arab, Umar, MENGHANCURKAN PERPUSTAKAAN KOTA ITU. Diperlukan waktu ENAM BULAN utk menghancurkan buku2 perpustakaan dlaam 1000 kolam renang Alexandria. Ini merupakan tindakan memalukan oleh para Arab buta huruf yg mentalitas Islamnya mengatkaan bahwa tidak diperlukan satu bukupun, karena
Quran berisi apa yg perlu diketahui ! Inilah alasan Arab2 beringas haus darah yg tidak berbudaya dan pemakan kadal itu utk membakar semua perpustaan, tidak hanya di Mesir, tapi juga di Syria, Persia, Spanyol dan India (dimana mereka membakar universitas Buddhis; Nalanda). Pembakaran terhdp buku2 peninggalan jaman itu adalah kekejaman Muslim yg paling besar terhdp sejarah umat manusia yg tidak dapat dimaafkan.
Catatan:
http://www.faithfreedom.org/forum/viewt … c&start=30
Nope. Rome did minimal damage to the library. It was (Amr Ibn el Ass) sent by the second Caliph and the husband of Mohamad’s daughter (Omar Ibn Il Khattab).
Amr sent to Umar a letter asking what to do with (700,000 scripts some over 1000yrs old), this was Umar’s famous reply. On the basis of this reply All muslims should leave Islam.
“As for the books you mentioned here is my reply. If their content is in accordance with the book of Allah, we may do without them, for in that case the book of Allah more than sufficies. If on the other hand, they contain matter not in accordance with the book of Allah, there can be no need to preserve them. Proceed then and destroy them.”
Jihad melawan LIBYA dan TUNISIA
Setelah pencaplokan Mesir, para Jihadis bergerak ke NUBIA. Tapi kaum Nubia menggunakan taktik gerilya dan sangat meletihkan tentara Muslim dan memaksanya mundur dari Nubia. Inilah yg menyebabkan Ethiopia tetap Kristen sampai sekarang. Setelah gagalnya kampanye pencaplokan terhdp Nubia di bagian selatan, Amir memutuskan utk berangkat kebagian barat Mesir, tempat terletaknya provinsi2 Bizantin, Libya dan Tunisia.
Bln September 642, Amir memimpin pasukannya menuju kawasan itu. Setelah sebulan, mereka sampai di kota Pentapolis di Lybia. Kota ini milik Bizantin, tetapi mereka tidak mempersiapkan sistim pembelaan terhdp kota itu. Dgn mudah Muslim merebutnya tanpa perlawanan. Para warga menginginkan kedamaian dan Amir memnuhi keinginan mereka dgn syarat ala Islamnya itu: peluk Islam atau bayar pajak (Jizyah) atau mati.
Praktek biadab pemaksaan anak2 Kristen kedalam tentara Muslim – Permulaan tradisi Jannisari ‘Turki’
Setelah diadakannya perjanjian damai bagi rakyat, mereka yg tidak sanggup membayar pajak Jizyah diberi kesempatan utk menjual anak2 mereka agar kpd tentara Muslim (selain juga pemaksaan masuk Islam). Banyak penduduk Pentapolis tidak memiliki pilihan dan dgn berat hati menyerahkan anak2 mereka. Ini merupakan tindakan sangat tercela, tetapi sama dgn kaum Arab, Persia, Syria, Mesir dan Libya mereka tidak memiliki pilihan karena ini satu2nya cara utk menghindari kematian masal dan perbudakan. Praktek penjualan anak2 Kristen menjadi tentara Muslim ini kemudian diteruskan oleh kalifah Ottoman Turki terhdp kaum Kristen Serbia, Kroasia dan Bosnia.
Pihak Muslim juga menamakan kembali kota Pentapolis sbg Al Burqa, Babilon dirubah menjadi Al Fustat dan kemudian Al Qahira (Kairo)
Taktik tipuan dan ‘blackmail’ utk menangkap kota Libya, Tripolis (Tripoli sekarang)
Dari Al Burqa, Uqba bin Nafe dikirim sbg pemimpin serangan terhdp Tripoli. Merkea sampai di Tripoli thn 643 AD. Garisun Bizantin disana menolak utk menyerah.
The Muslims accordingly laid siege to the city. Amr put his camp on a high ground and blocked all land routes to the city. The city however had free access to the sea, and the passage to the sea could not be blocked by the Muslims. The Muslim army did not have siege equipment with them. The Byzantine garrison remained locked up within the fortifications and did not come out into the open. The siege accordingly dragged on for two months. The Muslims decided to use subterfuge. They opened negotiations with the Christians and offered to lift the siege during the week of Good Friday and the feast of Easter. The Muslims allowed the Christian inhabitants to visit the Cathedral of Mother Mary that was situated on a Hillock outside the walls of the city. The Christian pilgrims were being escorted by a small contingent Byzantine troops as the pilgrims were to be allowed to proceed unmolested to the Cathedral as per the terms of peace offered to them by the Muslims.
Taking advantage of this nominal and weak security arrangement and the presence of a large number of civilians in the group of pilgrims, the Muslims broke their word as they had planned to and seized a number of the Christian pilgrims as hostages. The Muslim captors question the pilgrims as to who they were in the hierarchy of the Byzantine nobility. To their dismay, none of the hostages were of high rank, they all came from humble families. The intention of the Muslims was to take hostages from the pilgrims, whom they hoped would be from high ranking families who paid homage a at he Cathedral every year. But they realized that among the hostages were two daughters of a night watchman. The Muslims promised to give a thousand dinars to each of them, if they could tell the Muslims an easy way into the city. The two patriotic girls pleaded ignorance of any such path. On seeing their obstinacy, the Muslim threatened to kill them along with the other hostages. The siege of the town was resumed once again.
During the daytime, the Muslims tied the two girls to poles outside their camp which was visible from the ramparts of the Fort of Tripoli, taking them inside their camp for the night. This sight was heart-wrenching and after a few days, the Muslims deliberately lowered their guard and let the two girls sleep in a seemingly unguarded tent. After a few days the girls made a predictable attempt to escape. The Muslims who had kept a small contingent hidden from the sight of the girls followed them stealthily and realized that the girls were circumventing the city walls to go across to the beach from where the Muslims saw that their must be some way to enter the city from the seaward side, which was also fully fortified. They saw the girls slip into a channel which went under ground and followed the girls. This channel was hidden from view by big boulders and so was not visible to a casual visitor. Hence this way into the city had remained unknown all through the two months of siege. Little did the two girls realize that they had unknowingly revealed to the Muslims the secret path into the fortified city.
When the Muslim contingent discovered this passage that provided the city access to the sea they sent for reinforcements and rushed into the city through this passage raising the shouts of ‘Allah-o-Akbar.’ In the commotion in the dead of the night, the Byzantine guards thought that the entire Muslim army had entered the city. There was panic in the city and some of the Byzantines sought refuge on board the ships that lay anchored in the harbor. The Muslim contingent seized one of the Gates and open it for the main Muslim army waiting outside to rush in with shouts of ‘Allah-o-Akbar’. The Muslims then pressed the attack from outside, after having got into the city. There was wholesale slaughter and looting that went on for the entire next day, till Amr called for it to stop, so that an orderly plunder could be organized. The surviving Byzantine garrison fled to the ships and sailed away. The Muslims captured the city without much resistance. The citizens surrendered and most of them accepted Islam and from then on Tripoli, the capital of Libya, which had till then been a Christian City, established by Romans, became a Muslim city, and remains so till this day.
From Tripoli, Amr sent a column to Sabrata a city forty miles from Tripoli. A feeble resistance was put up and thereafter the city surrendered and agreed to pay Jizya.
Dinasti2 Arab dan Turki, 640-1798 A.D
Setelah pencaplokan Mesir, dinasti2 Muslim Arab dan Turki menguasai Mesir dari
640 A.D. – 1798 A.D. Perancis adalah bangsa non-Muslim pertama yg masuk Mesir.
Tetnara Perancis dipikpin Napoleon Bonaparte yg mengalahkan Ottoman dan penguasa dinasti Mumeluk di Mesir th 1798 A.D. Namun selama periode tidak terputus selama
1150 tahun, Muslim mentiranisir Mesir. Dinasti2 Arab termasuk Umayyad (660-751 A.D.) dan Abbasid ( 751-880 A.D.) Dinasti2 Turki termasuk Tolonid ( 880-904 A.D.) dan Akhsid ( 904-913 A.D.). Mereka disusul Fatimit (913-1171 A.D.), dinasti Arab Shiah. Disusul kemudian dgn Turki, Ayubid (1171-1250 A.D.), Mameluk (1250-1517 A.D.) dan Ottoman (1517-1798 A.D.).
Setelah pencaplokan Arab th 641 AD, mereka ingin menguras kekayaan Mesir.
Johannes dari Nikiu dlm kronikelnya menyebut bahwa Amir, panglima invasi Muslim pertama, “meningkatkan pajak sampai 22 keping emas sampai rakyat menyembunyikan diri karena tidak memiliki kemampuan membayar.”
The Umayyads followed by the other dynasties instituted heavy taxes including poll tax or Algyzya, tribute and different exactions. At times the Arab rulers found it convenient to throw prominent Copts, e.g. a Bishop or Pope, in jail and request ransom to release them. The Umayyad Caliph Suliman ibn abed Almalek reflected this policy, in writing his appointed ruler of Egypt ” to milk the camel until it gives no more milk, and until it milks blood”. Though some of the Arab rulers were prudent, most were oppressive, cruel and committed a lot of atrocities against the Coptic population. The ultimate policy of the Muslim Arab rulers changed gradually from maximum financial gain to Islamization either through incentives of reduced taxation, or by outright violence and force. Arab and Turkic rulers from different dynasties continued to levy heavy taxation to impoverish the Copts, instituted policies to eradicate the Coptic culture, language, leadership, and initiated violence and pogroms against the Coptic population.
Penghancuran Bahasa, Budaya dan Monumen Koptik
The assault on culture that was initiated by the destruction of the library at Alexandria and continued by the Umayyads who decreed the use the Arabic language instead of Coptic in the governance of Egypt. It took centuries for Arabic to replace Coptic as the spoken language of the land. The Coptic language continued in general use until the 13th century.
Unlike the Persian, Greek and Roman rulers who maintained and rebuilt some of the ancient Egyptian temples, several Islamic rulers destroyed and pillaged the ancient Egyptian temples and Churches. The marble and porphyry pillars obtained by the destruction of many ancient temples and churches were used to build palaces, mosques, and at times just left a trail of destruction. Sultan El Aziz attempted to destroy the great pyramids of Giza circa 1193 A.D. He gathered a large labor force that attempted to destroy the pyramids for eight months. At the end of which, they succeeded in only destroying a part of the casing of the pyramid and made a small breach in one side. Fortunately the great effort needed convinced El Aziz to abandon the destruction of the pyramids.
Perlawanan terhdp Penindasan Muslim
The Arab’s oppression led the Copts to several rebellions, but these rebellions failed to break the yoke of oppression or achieve independence. The Copts in the eastern Delta fought against the Umayyad oppression in 725 A.D. A large-scale Coptic revolt against the Abbasids took place circa 815 A.D. El Maamoun, the Abbasid Caliph, had to bring in a large army with elephants to conquer the Coptic revolution of 815 A.D. Even as late as 1176 A.D. the Copts of the city of Koptos revolted against the oppression of the Turkic rulers. The policy of heavy taxation, pillage, and violence was also accompanied by forced migration of Copts to other parts of the Islamic Empire, and settlement of Muslim Arabs into Egypt. As a result, many of the Copts were forced into Islam to escape the continued oppression and heavy taxation. The forced Islamization policy was followed by most of the Arab rulers, and later on also by most of the Mamluks and Turkic rulers. Gradually, the population of Muslims increased and the Copts decreased. The population of the Copts decreased from nine million at the time of the Arabs conquest 641 A. D. approximately 700,000 at the early 1900′s.
Trails and Tribulations of the Copts
Though persecution of the Copts by the Arabs, Mamluks and Turks was the norm rather than the exception, most of these rulers needed the knowledge of the Copts to govern the country and collect taxes. The history of the Islamic era shows a vicious cycle in which the Muslim rulers hired Copts because of their knowledge, skill and honesty to administer the affairs of the government of Egypt. Accordingly, some Copts did well and prospered, to ultimately attract the envy of the Muslim rulers who occasionally changed their minds and expelled the Copts from government jobs, confiscated their property, put them in jail, and a times put them to death. As the affairs of the government became erratic without the knowledge which only the Copts had, the rulers had to hire the Copts once again on many occasions. Under the rule of the Fatimite dynasty, one of the rulers was in fact insane.
El Hakem hired several Copts in his employment. And later he suddenly decided to either to force his Coptic employees into Islam or kill them. Two prominent Copts Fahed ibn Ibrahim, and Yuhana ibn Nagah, were among El Hakem’s employees, who accepted death rather than converting to Islam 1004 A.D. But during exceptional and short reigns of moderate rulers, many Copts managed to excel in literature and the arts. Among the famous writers during the Ayubide dynasty, were the Iben Al Asaal brothers. Though the rule of the Mameluks produced many beautiful monuments, they were bloodthirsty and extremely oppressive for the Egyptians Copts. It is not unusual to read about pogroms launched against the Copts during the Mamluks time. A supposedly devout unknown Fakir, who would instigate a Muslim mob after the Friday Muslim prayers to attack the Copts, their homes and businesses/ Usually the pogroms started on Fridays.
However, the Mameluks also needed the services of the Copts to run the affairs of the government. Ibrahim Algawhery, a Copt, was the Chief Clerk of the Mameluks Abuel dahab and Ibrahim Bey in 1795 A.D. Effectively he was the prime minister of Egypt. Later on in the early 20th century another prominent Copt Botrous Ghalli became the prime Minister of Egypt under the rule of the British rule. In the recent past the Secretary General of the United Nations (UN) Butros, Butros Ghali was also a Copt. But the compulsions of the safety of his compatriots (held hostage) in Muslim ruled Egypt, forced him to take a stand favorable to the Muslim in World affairs.
Era Modern Era setelah Ottoman
After the French left Egypt, the country returned back under the rule of the Ottomans and Mamlukes. An Albanian officer of the Ottoman army, Mohamed Ali, managed to become the ruler of Egypt under the Ottoman Empire 1805 A.D. Mohamed Ali was a smart ruthless ruler. He remembered his Christian roots as an Albanian convert to Islam (as did Mustapha Kemal Pasha of Turkey later in the 20th century). Mohammed Ali managed to massacre the Mamlukes and get rid of the Ottoman occupation army. He introduced western style education, industry, and new crops. His rule did not care much about religion as much as about competence. He hired a lot of Armenians and Copts to help his government. He challenged the rule of the Ottoman Empire, but he lost as the European powers stupidly intervened on the behalf of the Ottomans 1845 A.D. Egypt became semi-independent under the Ottomans Empire, then under the British Empire 1882 A.D. and was ruled by the family of Mohamed Ali through 1952.
A group of army officers led a coup d’ etat that ended the rule of King Farouk, the last ruler of the Mohamed Ali family. The coup brought Nasser and his fellow officers to power. He pursued a socialist domestic policy, alliance with Soviet Union, and aggressive conflicts against the West and Israel. Nasser’s socialist policies and conflicts with the West resulted in severe economic hardships for Egypt. After Nasser’s death 1970, Sadat assumed the presidency of Egypt. Sadat reversed his predecessor’s policy, expelled the Soviet advisors, followed a more pro-western approach, and pursued peace with Israel. After a militant Islamic group assassinated Sadat in 1981, Hosni Mubarak assumed the presidency in Egypt until the present time. President Mubarak continues to follow a pro-western policy, and brokered several peace initiatives in collaboration with the U.S. between the Israel and the Palestinians.
Kaum Koptik pd abad2 19 dan 20
The poll tax, Algyzia was finally abolished in 1815 A.D. This gave some relief to the Copts in the 19th century-mid 20th century. This period saw a modest revival and renewal. A Coptic leader, Pope Cyril 4th a reformist followed the ancient Egyptian or Coptic tradition of respect for knowledge and learning in the 19th century. He looked to the western knowledge for inspiration. He established two schools with a western schooling system, and imported a new printing press to disseminate information. He started an effort o collect and catalog Coptic music and hymns. The Coptic music has been handed down orally from the days of the ancient Egyptian temples. It is believed that the Egyptian Government agents poisoned him and he died in 1861 A.D., as they were concerned about his reformist movement. The Copts in the 19th and early 20th century worked together with their Muslim compatriots to achieve independence and democracy in Egypt. They participated in the revolt of 1919 against the British rule after WWI. Several political Coptic leaders participated in the short-lived democratic parliaments in the early to mid 20th century.
World War I resulted in the defeat of the last Islamic Empire, the Ottoman Empire. The last Caliph of the Muslims; the Ottoman Sultan was replaced by a secular president in modern Turkey. Though Turkey has and continues to progress as a secular nation, the impact of a superior western culture and influence was felt in many Muslim countries. A militant fundamentalist Islamic called the Muslim Brotherhood was initiated in 1920′s (offshoots of which are the Hamas and Al Qaeda). Other groups also followed, e.g. the society for Muslim Youth. These movements aimed at resisting the influence of the superior western culture. These movements espoused a more conservative interpretation of Islam, and many of them also espoused violence against the Copts that raged on and off for years. Nasser became President of Egypt shortly after an army coup in 1952. Though Nasser cared mostly about power more than religion, many of his protégé’s espoused the more fundamentalist Islamic teaching of the Muslim Brotherhood.
The Nasser government followed a socialist regime and nationalized most of the private enterprises, which hit the Copts a lot harder as they depended on private businesses for their livelihood. The economic pressures and resurgent discrimination led many Copts to start immigration to countries such as the U.S.A., Canada, and Australia in the 1960′s. Active and successful Coptic-Americans live at present at most of the large metropolitan areas of the U.S.A. The same applies for many of the large metropolitan areas in many of the western countries.
President Sadat was successful in establishing a peace treaty with Israel. However, in his struggle for power against the Nasserite factions, he encouraged the militant Islamic groups in Egypt. In the 1980s, the militant fundamentalist Islamic movement resurgence was accompanied by renewed and escalated assaults on the Copts in Egypt. The Militants instigated several violent episodes against the Copts and western tourists, attacked, sacked and burned churches and Coptic businesses. G. Kepel in his study of Muslim extremism in Egypt indicated that the Militants financed the assassination of President Sadat using gold robbed from Coptic-owned goldsmith stores. On the political side, the Islamic Militant groups called for changing the laws from the civil laws to the Islamic code or Sharia. Their claim is that the return to Sharia provides a solution instead of the western approach of democracy and free enterprise. It would return the Islamic countries to the glory of the medieval age Islamic Empires. However, the return to the Islamic code essentially deprives the non-Muslims including the Copts from equal rights as compared with the Muslims and subjects them to formal discrimination. In the 1990′s attacks on Churches, property and businesses of the Copts have been on the increase.
Seorang suster tidak berdaya dan tidak bersenjata diserang pisau Muslim http://gatewaypundit.blogspot.com/2005/ … on-nun-in- egypt.html
Mesir : Muslim Rusak Toko Kristen
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 270147#270 147
Penculikan para wanita muda Koptik dan Islamisasi secara paksa terhdp mereka terus meningkat. Pogrom2 (pengusiran orang dari tempat tinggalnya berdasarkan SARA) terus berlangsung. Pada thn 2000, kelompok2 Islam militant melangsungkan pogrom yg mengakibatkan tewasnya 21 orang Koptik dan penghancuran rumah2, bisnis dan gereja Koptik di desa Al Kosheh di Mesir Selatan. Insiden2 dan penindasan serupa terus berlangsung. Mendapatkan ijin utk mendirikan ataupun merenovasi gereja dipersulit oleh Undang2 dan bahkan memerlukan persetujuan presiden. Jangan lupa bahwa undang2 ini tidak bertentangan dgn Islam, malah MEMENUHI ajaran Islam.
———————————————————————-
Sumber2 bacaan:
1- The Mummy, Funeral Rites & Customs in Ancient Egypt, by Ernest A. Wallis Budge, reprint of 1893 edition by Senate Studio Editions 1995
2- The Twilight of Ancient Egypt, First Millennium B.C.E., by Karol Mysliwiec, translated by David Lorton, Cornell University Press2000
3- Egypt in The Age of Cleopatra, by Michel Chauveau, translated by David Lorton, Cornell University Press, 2000
4- Women in Ancient Egypt, by Gay Robins, Harvard University Press, 1996
5- Women and Society in Greek and Roman Egypt: A Source Book by Jane Rowlandson, Cambridge University Press, 1998
6- The Chronicle of John Coptic Bishop of Nikiu (circa 690 A.D.), translated by Robert Henry Charles, reprint from 1916 edition, APA-Philo Press Amsterdam, Holland
7- The Vanished Library, A Wonder of The Ancient World, by Luciano Canfora, University of California Press
8- The Story of The Church of Egypt, Volumes I and II, by Edith L. Butcher, reprint of 1897 edition by AMS Press Inc, New York, N.Y 1975
9- Coptic Egypt, by Murad Kamil, Le Scribe Egyptien, 1968
10- Traditional Egyptian Christianity, A History of the Coptic Church, by Theodore. Hall Patrick, Fisher Park Press, 1999
11- Muslim Extremism in Egypt, The Prophet and the Pharaoh, by Gilles Kepel, University of California Press 1993
12- Ancient Egyptian Culture, published by Chartwell Books, Edison, N.J. 1998.
Last edited by ali5196 on Sun Aug 27, 2006 7:23 pm, edited 5 times in total. ali5196
Translator
Posts: 14051
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm Top
——————————————————————————–
by ali5196 » Thu May 18, 2006 1:39 am
PENINDASAN MUSLIM atas PENDUDUK ASLI MESIR (kaum Koptik)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … c&start=20
Diskriminasi Terhadap Koptik Kristen di Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … hp?t=17923
MESIR: diculik, diperkosa, dipaksa masuk Islam
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6197
Toleransi Beragama di Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 95455#9545 5
MESIR : isu ttg gereja baru buat Muslim ngamuk
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 169088#169 088
Serangan terhdp gereja2 Koptik Mesir
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=2198
PAKISTAN, Mesir : penculikan gadis2 Kristen
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … php?t=6197