WAJIBNYA MEMUSUHI YAHUDI DAN NASRANI SERTA KAUM KUFFAR LAINNYA


الشيخ عبدالعزيز بن عبدالله بن باز

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz

Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin telah menunjukkan akan wajibnya kaum muslimin untuk memusuhi kaum kuffar dari Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum musyrikin dan supaya kaum muslimin berhati-hati dari sikap mencintai mereka dan menjadikan mereka sebagai wali-wali (pelindung) sebagaimana diberitakan oleh Alloh Subhanahu di dalam kitab-Nya yang Mubin (jelas), yang tidak ada kebatilan di dalamnya dan tidak pula di belakangnya, yang diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwasanya Yahudi dan kaum musyrikin itu adalah manusia yang paling sengit permusuhannya terhadap kaum mukminin.

Alloh Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ } إلى قوله سبحانه: {قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” sampai dengan firman-Nya Subhanahu : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.

Dan ayat-ayat yang semakna sangatlah banyak, dan ayat-ayat ini menunjukkan secara shorih (terang) akan wajibnya untuk memusuhi orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum musyrikin beserta kewajiban untuk memusuhi mereka sampai mereka mau untuk beriman kepada Alloh semata. Ayat-ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menyayangi dan berwala’ (loyal) terhadap mereka, yang mana hal ini –yaitu membenci dan waspada dari tipu daya mereka- disebabkan oleh karena kekufuran mereka terhadap Alloh, permusuhan mereka terhadap agama-Nya dan wali-wali-Nya serta dikarenakan tipu daya mereka terhadap Islam dan pemeluknya.

Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Di dalam ayat yang mulia ini, ada dorongan untuk membenci kaum kafir dan memusuhi mereka di jalan Alloh Subhanahu dari banyak sisi serta peringatan dari menjadikan mereka sebagai teman kepercayaan sekaligus sebagai tashrih (penerang) bahwasanya mereka tidak akan mengurangi (aktivitas mereka) untuk menimpakan kejelekan kepada kita, dan ini adalah makna dari firman Alloh           Ta’ala : لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا “mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu”, dan الخبال maknanya adalah الفساد  (kerusakan) dan التخريب (gangguan).

Alloh Subhanahu telah menerangkan bahwa mereka sangat suka dengan apa yang menyusahkan dan memberatkan kita, dan Alloh Subhahahu juga menjelaskan bahwa telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka dan dari ucapan-ucapan yang mereka lontarkan -bagi yang merenungkan dan memahaminya- dan apa-apa yang disembunyikan di dalam hati mereka berupa kedengkian, kebencian dan niat buruk terhadap kita lebih besar daripada apa yang mereka tampakkan.

Kemudian Alloh Subhanahu menyebutkan tentang mereka –kaum kafir tersebut- bahwa mereka menampakkan keislaman mereka secara munafik supaya dapat memenuhi maksud mereka yang jelek, dan apabila mereka berlalu dan menemui setan-setan mereka, mereka gigit ujung jari mereka lantaran kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Alloh Azza waJalla juga menjelaskan, bahwa segala kebaikan yang kita peroleh berupa kemuliaan, kemenangan dan pertolongan terhadap musuh-musuh atau yang semisalnya, niscaya akan menyusahkan mereka dan apa-apa yang menimpa kita berupa keburukan, malapetaka dan wabah penyakit atau yang semisalnya, niscaya akan menggembirakan mereka. Hal ini tidaklah mereka lakukan  melainkan dikarenakan permusuhan dan  kebencian mereka yang amat sangat terhadap kita dan agama kita.

Sikap Yahudi terhadap Islam, Rasul Islam dan pemeluk Islam yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang mulia ini, semuanya membuktikan akan permusuhan mereka yang amat sangat terhadap kaum muslimin. Dan realita bangsa Yahudi zaman ini dan di zaman kenabian serta di antara zaman ini dan zaman kenabian, merupakan bukti terbesar akan hal ini (permusuhan terhadap ahli kebenaran, pent.).

Demikian pula dengan kaum Nasrani dan selain mereka dari kaum kuffar, yang menimpakan tipu dayanya terhadap Islam, memerangi pemeluknya dan mengerahkan semua kemampuannya untuk menyebarkan tasykik (keragu-raguan), tanfir (menyebabkan lari dari Islam) dan talbis (kerancuan) di tengah-tengah pemeluk agama Islam serta mereka keluarkan harta mereka dalam jumlah besar untuk missi kristenisasi dan menyeru umat supaya masuk ke dalam agama ini. Semuanya ini, menunjukkan akan kebenaran apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an yang mulia tentang wajibnya membenci seluruh kaum kuffar dan waspada dari mereka dan dari tipu daya mereka serta dari menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan.

Maka wajib bagi pemeluk agama Islam untuk berhati-hati dari perkara yang besar ini, dan wajib untuk memusuhi dan membenci orang-orang yang diperintahkan oleh Alloh untuk memusuhi dan membencinya, dari kalangan Yahudi, Nasrani dan seluruh kaum musyrikin, sampai mereka mau untuk beriman kepada Alloh semata dan berpegang teguh dengan agama-Nya yang Dia mengutus dengannya Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Dan dengan demikian, mereka mewujudkan ittiba’ (pengikutan) mereka terhadap millah bapak mereka Ibrahim dan Nabi mereka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang Alloh telah menjelaskan hal ini di dalam ayat sebelumnya, yaitu firman-Nya Azza wa Jalla :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.

Dan firman-Nya :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.”

Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan ayat yang semakna sangat banyak sekali.

Firman-Nya Ta’ala :

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”

Terdapat penunjukan yang terang bahwasanya seluruh kaum kafir itu adalah musuh bagi kaum yang beriman kepada Alloh Subhanahu dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, akan tetapi Yahudi dan kaum musyrikin penyembah berhala-lah yang paling ketas permusuhannya terhadap kaum mukminin. Di dalam ayat ini terdapat dorongan dari Alloh kepada kaum mukminin untuk memusuhi kaum kuffar dan kaum musyrikin secara umum dan khususnya terhadap Yahudi dan kaum musyrikin dengan adanya tambahan permusuhan di dalam menghadapi permusuhan mereka yang keras kepada kita. Oleh karena itu, diwajibkan untuk menambah kewaspadaan dari tipu daya dan permusuhan terhadap mereka.

Kemudian, sesungguhnya Alloh Subhanahu dengan perintahnya kepada kaum mukminin untuk memusuhi kaum kafir, mewajibkan kaum muslimin untuk bersikap adil di dalam permusuhan mereka. Alloh Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa

Alloh Subhanahu memerintahkan kaum mukminin untuk senantiasa menegakkan keadilan terhadap seluruh musuh-musuh mereka, dan melarang mereka untuk meninggalkan sifat adil terhadap mereka dhanya karena kebencian terhadap suatu kaum. Dan Alloh Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwasanya keadilan terhadap musuh dan teman adalah lebih dekat kepada takwa. Dan maknanya adalah berbuat adil terhadap seluruh manusia dari wali-wali (teman akrab) dan musuh-musuh adalah lebih dekat kepada takut akan murka Alloh dan adzab-Nya. Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Dan ayat yang mulia ini termasuk selengkap-lengkap ayat yang mencakup perintah terhadap semua kebaikan dan larangan terhadap semua keburukan. Diriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tatkala mengutus Abdullah bin Rawahah al-Anshori ke Khaibar untuk menerka jumlah buah kurma yang ditanam Yahudi, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bermu’amalah dengan mereka dengan menyewakan kebun kurma dan tanah dengan cara dibayar dengan separuh hasil panen kurma dan hasil cocok tanam. Abdullah menerka jumlah buah kurma mereka, dan mereka berkata kepada beliau, “sesungguhnya penerkaan ini adalah suatu kezhaliman”, maka Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Demi (Dzat) yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian ini lebih aku benci daripada perhitungan kalian, dan benciku kepada kalian melebihi benciku terhadap kera dan babi, dan sesungguhnya terkaanku ini tidaklah menjadikan kebencianku kepada kalian dan kecintaanku kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebabkan aku bersikap zhalim kepada kalian.” Maka kaum Yahudi itu berkata, “Dengan (keadilan) ini tegaklah langit dan bumi.”

Maka bersikap adil itu wajib baik terhadap orang yang dekat maupun jauh, terhadap teman maupun lawan, akan tetapi keadilan ini tidaklah menghalangi untuk membenci dan memusuhi musuh-musuh Alloh serta mencintai dan berwala’ terhadap wali-wali Alloh yang mukmin, sebagai pengejawantahan dalil-dalil syar’iyah dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan Alloh-lah tempat memohon pertolongan…

$ $ $

(Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi`ah : II/178)

Dialihbahasakan oleh Abu Salma al-Atsari dari http://www.dorar.net

2 Tanggapan ke “WAJIBNYA MEMUSUHI YAHUDI DAN NASRANI SERTA KAUM KUFFAR LAINNYA”

  1. anonim Says:

    orang benar apa gak diliat dari “BUAHNYA”

    kalo buahnya mengajarkan untuk memusuhi apakah baik????

    kasihilah sesamamu dan doakan mereka yang menganiaya kamu….[supaya tidak ada dendam]

    koq malah mewajibkan saling memusuhi…..?!?

  2. setya Says:

    dear pembaca

    tolong di berikan komentar apakah benar sejarah di bawah ini .karena saya penasaran sama yg saya lbaca di google.
    apa benar negara negara yg skrg muslim tapi dulu dulu penduduknya kristen sperti, turki, mesir, dll
    tku\

    Bagian 4 : Jihad vs Koptik-Mesir 639-641M**
    by ali5196 » Wed May 17, 2006 5:14 pm

    http://www.historyofjihad.org/egypt.html

    Mesir jaman pra Islam adalah wilayah yg paling berharga dlm Kerajaan timur Romawi. Mesir adalah keranjang roti Roma nomor dua setelah Konstantinopel. Tanahnya subur dan sumber ekspor gandum, jagung, anggur, minyak, tekstil, gelas, kosmetik dan obat2an. Pada saat invasi Arab, jumlah penduduk Koptik diperkirakan sekitar 9 juta.

    Mesir sebelum invasi Islam BUKAN Negara Arab

    Pertama didirikan di abad 3 atau 4M, the Hanging Church adalah gereja koptik Kairo paling terkenal

    Salib Koptik/Gereja Orthodox sejak abad 4M di Mesir
    http://en.wikipedia.org/wiki/Coptic_Church

    Kebanyakan dari kita menyamakan orang Mesir dgn Arab. Mohammed Atta, pemimpin serangan 9/11 adalah orang Mesir yg memimpin sekelompok teroris Arab. Dmeikian pula dgn Yasser Arafat yg lahir di Kairo, yg membohongi dunia dgn pengakuannya sbg orang Palestinia. Bandit2 ini dan jutaan orang Mesir sekarang menganggap diri sbg orang Arab. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah hasil Arabisasi akibat invasi Arab pada abad ke 7 yg menghancurkan Bizantin yg menguasai Mesir. Orang mesir adalah keturunan Firaun yg mendirikan peradaban klasik Mesir disepabjang lembah Nil dan membangun kota2 cantik spt Luxor, Memphis, Karnak dan Thebes. Firaum spt Ramses, Nefertiti mendirikan pyramid megah yg menyimpan misteri alam semesta yg dibangun sesuai dgn konstelasi bintang.

    Agama orang Mesir kuno didasarkan kpd animisme, sbg mana juga orang Yunani-Romawi, Hindus, Mesoamerican dsb. Mulai abad ke 6SM sampai abad 4M, Mesir dikuasai raja Persia dari dinasti Achemenia, Hakkamanishiya. Orang Persia adalah Zoroastrian, tetapi mereka tidak mencampuri urusan keagamaan orang Mesir.

    Pada abad ke 4, Persia dijatuhkan oleh Panglima Yunani, Alexander, yg kemudian mendirikan kota Alexandria di Delta Nil, sbg pelabuhan masuk bagi orang Yunani yg berlayar lewat Laut Mediteran.

    Bahkan kekuasaan raja Yunani dibawah Ptolemys dlm 3 abad berikutnya tidak mengusik agama orang Mesir. Rakyat Mesir tetap dibiarkan memuja dewa2 mereka, dewa matahari, Ra atau Amon Ra, Horus, dewa langit yg memiliki kepala spt burung gagak dan bertubuh manusia, dsb. Pada thn 1 Masehi, Mesir menjadi bagian dari kerajaan Romawi dibawah Julius Caesar setelah bunuh dirinya ratu Cleopatra. Namun orang Romawipun tidak mempedulikan kepercayaan penduduk asli. Jadi setelah berbagai invasi oleh Persia, Yunani, Romawi, agama Mesir tetap bertahan sbg agama unik dan orijinal. Hanya setelah kaisar Romawi, Konstantin memeluk agama Kristen pada abad ke 4, rakyat Mesir mulai memeluk Kristen. Saat Muslim Arab menginvasi Mesirf, penduduk asli Mesir seluruhnya Kristen, walau bekas2 agama lama masih sangat kuat dan mempengaruhi ritual Kristen.

    Orang Mesir menganggap diri bangsa Hamitik, berbeda dgn orang Arab yg termasuk bangsa Semitik. Bangsa Hamitik terdiri dari bangsa Mesir, Nubia (Sudan), Abyssinia (Ethiopia), Somali dan Masai (Kenya dan Tanzania). Kebudayaan kuno Mesir oleh karena itu juga TIDAK disebut sbg peradaban Arab dan para firaun juga tidak dianggap sbg raja2 Arab.

    Sifat Arab hanya nampak setelah invasi Arab th 639-641M. Arab-lah yg memberi nama ‘Koptik’ pada penduduk asli Mesir. Copt adalah kata Inggris yg berasal dari kata Arab ‘Gibt’ atau ‘Gypt’ dari kata Yunani ‘Egyptos’ atau Egypt. Kata Yunani ‘Egyptos’ berasal dari kata Mesir kuno ‘Ha-Ka-Ptah’ atau kuil dewa Ptah, salah satu dewa utama Mesir. Kata Copt atau Coptic berarti Egyptian/orang Mesir, namun sekarang, penduduk muslimn Mesir memanggil diri Arab dan kata Copt atau Coptic merujuk pada penduduk Kristen Mesir.

    Gangster Muslim yg menjarah lembah Nil dibawah perintah kalifah Umar berjihad melawan Mesir dan memaksa penggantian agama rakyat Mesir ke Islam adalah Amir bin Al-Aas yg sebenarnya juga pemeluk Islam baru. Clannya, Bani Sahm dari suku Quraish, terpaksa memeluk Islam setelah ‘nabi’ Muhamad-bin-Abdullah menjarah Mekah th 630M. Spt juga para pemimpin Quraish lainnya, pada mulanya Amir menantang Islam dgn keras. Malah ia mengepalai kontingen Quraish di Pertempuran Uhud. Thn 630M, dgn Khalid-ibn-Walid ia mengalahkan pihak Muslim, tetapi setelah jatuhnya Mekah ditangan Muslim, Amir bin Al-Aas dan Khalid-ibn-Walid
    masuk Islam. Ini tidak mereka lakukan secara suka rela tetapi mereka melihat keuntungan utk bergabung dgn pihak yg menang. Dgn demikian, mereka tidak hanya berhasil menyelamatkan jiwa mereka tetapi malah dgn senang hati menerapkan teknik2 Muslim spt menjarah, menyiksa bangsa lain dan memaksa mereka memeluk Islam. Setelah itu Amir menjadi bagian dr gangster Muslim.

    Menurut cerita, saat remaja, Amir melancong dgn karavan ke Palestina. Suatu hari ia bertugas menjaga onta karavan diluar Yerusalem. Hari sangat terik dan saat ia duduk dibawah pohon, datanglah seorang pelancong yg letih dan sangat kehausan. Amir dgn murah hati memberikan minumannya. Sang pelancong meminumnya dan kemudian tertidur.

    Beberapa saat kemudian, seekor ular nampak mendekati sang pelancong yg sedang tidur nyenyak. Amir dgn sigap membunuh ular itu dgn panahnya. Sang pelancong sangat berterima kasih pada Amir karena telah menyelamatkan hidupnya utk kedua kalinya. Sang pelancong ingin memberikannya uang bagi dua nyawa. Ia mengatakan bahwa ia datang ke Yerusalem dari Mesir. Dan ternyata sang pelancong ini ini bukan sembarang pelancong, ia adalah seorang Maqauqas, pendeta tinggi kaum Kristen Mesir. Ia ingin agar Amir menemaninya ke Mesir. Akhirnya mereka melancong ke Mesir.

    Saat tiba di Alexandria, Amir tinggal di rumahnya yang megah dan diperlakukan bak tamu raja. Maqauqas, sang tuan rumah membawanya ke festival di Hippodrome. Salah satu ritual festival adalah ritual ‘Bola Emas‘. Pendeta memukul sebuah bola emas dan bola itu melayang ke atas. Kepercayaannya adalah, ketangan siapa bola itu mendarat, ialah yg akan menjadi penghancur Mesir.

    Saat pendeta memukul bola iitu ke udara semua orang mengikuti lajunya arah bola itu dgn tegang. Setelah bola membelok di udara, bola itu mendarat di lengan baju Amir. Penonton kaget. Mereka tidak dapat percaya bahwa orang Arab terbelakang dan tidak berbudaya dari gurun pasir itu dapat menghancurkan Mesir. Mereka merasa ini pasti salah. Pasti cara memukul bola itu salah.

    Maqauqas, tuan rumah Amir dgn bingung mengatakan kepadanya, “Saya tidak tahu tapii tanda dari para dewa tidak pernah salah. Aneh memang nasib dan siapa tahu kau suatu hari akan kembali ke sini.”

    Amir yang juga bingung itu kembali dari Mesir, sarat dng hadiah dan uang. Peristiwa Bola Emas itu terus menghantuinya. Ia sering menganggapnya sbg mimpi tapi dalam hatinya ia yakin bahwa suatu hari ia akan memasuki Mesir sbg penakluknya dan menghancurkan segala yg ada disana.

    Nah, jadilah Amr seorang panglima besar pasukan Muslim di Syria, ia terus menerus ingat akan mimpinya menaklukkan Mesir. Cita2nya akhirnya tercapai ketika Umar memberinya perintah utk menghancurkan tanah kafir itu. Amir bin al-Aas segera berangkat menuju Mesir dgn 40.000 tentara.

    December 639, pasukan Muslim mencapai Farma, kota benteng yg dijaga garisun Bizantin. Muslim menyerang kota itu sampai 2 bulan lamanya. Musim semi Februari 640, pasukan penyerang yg dipimpin Useifa-ibn-Wala menyerang fort itu pada malam buta. Perlawanan Bizantin runtuh dan kota ini akhirnya jatuh ke tangan Muslim.

    Setelah jatuhnya Farma, Muslim maju ke Bilbeis, 40 mil dari kota Memphis. Bilbeis berada di gurun Negev (di perbatasan dgn Israel sekarang). Kota itu juga kota benteng dan Muslim menyerang dgn memutuskan suplai air. Setelah sebulan, pada akhir Maret 640 kota itupun menemui akhir naasnya.

    Dari Bilbeis, Muslim berbaris ke Babylon (sebuah kota di Mesir Bizantin, bukan yang di Mesopotamia/Irak sekarang). Kota Babylon inilah, dinamakan Arab sbg Al Fustat dan kemudian sbg Al Qahira atau spt yg dikenal sekarang : Cairo). Karena taktik licik, penaklukan Mesir tidak sulit bagi Muslim. Tetapi di Babylon mereka menemukan perlawanan canggih. Perang ini sampai berlangsung selama 7 bulan. Babylon merupakan kota yang lebih besar dan lebih penting dan perlawanan disana juga lebih sengit. Namun Amir tetap memaksakan kehendaknya.

    Babylon merupakan kota kunci Mesir. Kota terdekatnya adalah Memphis, ibukota kuno para firaun. Muslim tiba didepan Babylon bulan May 640M. Babylon merupakan kota benteng dan Bizaantin mempersiapkannya bagi setiap serangan. Disekililing tembok luar kota itu digali lobang panjang dan pasukan dalam jumlah besar ditempatkan antara lobang dan tembok kota itu. Fort Babylon itu adalah gedung besar dgn tembok setinggi 30 meter dgn tebal tembok 2 meter. Fort itu juga diperlengkapi menara2 dan ‘bastions’ (??).

    Kekuatan pasukan Bizantin ini 6 kali lebih besar dari kekuatan Muslim, jadi Amir meminta Umar meminta tambahan tentara. Bln Agustus, datang tambahan tentara sebanyak 4,000 orang dari Syria. Setelah ini juga tidak berhasil melemahkan Bizantin, Umar mengumpulkan tetnara di Medinah. Diantara mereka yg bersedia memerangi Mesir adalah Zubeir bin Al-Awwam, saudara sepupu ‘nabi’ Muhamad. Pasukan tambahan 4000 tentara itu maju ke Mesir tapi Fort Bizantin itu masih belum dapat dikalahkan juga.

    The taking of Heliopolis by subterfuge

    10 mil dari Babylon terletak kota Heliopolis. Kota itu adalah kota Kuil Matahari para Firaun. Muslim merasa bahwa pasukan Bizantin dari Heliopolis akan menyerang Muslim dari belakang saat mereka bertempur melawan Babylon. Oleh karena itu Zubeir dan Amir berangkat ke Heliopolis. Diluar kota itu terjadi bentrokan kavaleri, dan walaupun banyak orang Bizantin tewas, hasil pertempuran tidak pasti. Amir dan Zubeir kemudian memerintahkan digalinya sebuah terowongan yang berakhir kedalam benteng Bizantin itu. Dan dgn cara itu mereka berhasil melemahkan para penjaga dan membuka gerbang kota itu bagi tentara Muslim. Seluruh garisun Bizantin dibunuh secara masal. Ini mengingatkan kita pada terowongan yg digunakan Hamas, teroris Palestina, Jihad Islami dan Fatah kedalam Gaza utk menyelundupkan senjata dari Mesir ke Gaza utk mengadakan serangan teroris melawan penduduk sipil Israel. Bentuk senjata berubah dari pedang ke jaket berisi bom bunuh diri, tapi sikap Muslim yg haus darah tidak berubah sedikitpun.

    Upaya Muslim merebut Babylon dgn menjebak tentara Bizantin

    Dari Heliopolis, Amir dan Zubeir kembali ke Babylon utk meningkatkan serangan terhdp Bizantin. Pihak Bizantin kini mulai keluar dari lobang perlindungan mereka dan menyerang Muslim secara langsung. Muslim berpura2 mundur. Bizantin mengejar mereka dan Muslim mundur terus sampai seluruh pasukan Bizantin meninggalkan posisi mereka di lobang perlindungan. Atas tanda Amir, 500 pasukan Muslim berkuda yg dipimpin Kharija bin Huzafa bergegas dan menyerang tentara Bizantin dari belakang. Singkat cerita, Bizantin masuk perangkap Muslim.

    Banyak yg tewas tetapi pasukan utama Bizantin berhasil kembali ke kota itu. Pihak
    Bizantin menutup gerbang kota. Tapi sekarang kawasan antara lobang dan kota itu dikuasai Muslim. Dgn senjata katapul mereka menghantami tembok kota itu
    dgn batu2 besar.

    Pengkhianatan dan tindakan mata2 terhdp Bizantin

    Karena putus asa, Jendral Bizantin, Theodorus menunjuk Maqauqas, yg sekarang pejabat Mesir dan Kepala Pendeta kaum Copt, yg dikenal Amir pada masa2 pra-Islamnya di Palestina. Maqauqas mempercayai Amir karena dulu ia memang dapat dipercaya, bahkan sampai menyelamatkan nyawa Maqauqas. Tetapi Islam mengubah semua itu dan Amir memanfaatkan hubungannya dgn Maqauqas utk merebut Babylon. Maqauqas meminta agar Amir mengirimkan utusannya ke Babylon utk negosiasi selama 2 hari. Tetapi waktu 2 hari itu digunakan utusan2 tsb utk mempelajari benteng itu dari dalam. Mata2 berkedok utusan itu dikirim Amir. Utusan Muslim berkata pada Maqauqas dan memberi 3 pilihan yg lazim ditawarkan Muslim kpd musuh2 mereka : Islam, Jizya (pajak tinggi) atau perang.

    Negosiasi terus berjalan dgn bolak baliknya utusan. Namun kali ini saat Muslim berada di gerbang kota itu, mereka malah menyerang delegasi Bizantin yg menyangka Muslim ingin bernegosiasi. Setelah membantai delegasi Bizantin, pihak Arab membakar gerbang kayu raksasa Babylon. Dgn terbakarnya sebagian gerbang, tentara Muslim menembus gerbang api tsb dan dgn fanatisme menggebu-gebu mereka, mereka menyerbu kota dan membantai penghuninya.

    Pelajaran dari Pertempuran Babylon bagi AS dan Eropa

    Selama negosiasi, Maqauqas menawarkan 100 keping dinar kpd setiap panglima dan 1000 dinar kpd sang Kalif. Tapi pihak Muslim mengatakan bahwa mereka tidak dapat dibeli dgn keping emas yg nantinya toh akan menjadi milik mereka begitu kota itu direbut. Katanya, pun kalau ia mati dalam pertempuran ia akan langsung ke surga.

    Siapapun pemimpin Eropa yg merasa bahwa dng tawaran bantuan dana, keanggotaan WTO, kontrak dagang dsb dsb … bisa membujuk negara Muslim spt Iran agar menghentikan ambisi senjata nuklir mereka, maka mereka salah besar !

    Muslin akan memanfaatkan perundingan utk mengulur waktu sampai senjata nuklir mereka siap pakai dan siap serang, mulai dgn Israel.

    Kita juga melihat bgm Muslim siap sedia utk melakukan cara curang apapun utk menghancurkan non-Muslim, sesuai dgn doktrin tipuan mereka, Taqiyya yang sangat meresap kedlm budaya Muslim. Status kafir tercatat dgn jelas dlm Qur’an dan Hadith. Menipu kafir agar mencapai kemenangan memang disahkan Qur’an dan didukung preseden dlm Hadis. Mempercayai Muslim tulen (muslim fundamentalis) sama saja dgn mempercayai Nazi dlm PD II atau Komunis dlm revolusi Russia, bahkan lebih parah. INi karena Muslim percaya bahwa ini mandate dari Tuhan. Agama lebih kuat daripada filosofi politik sesaat. Fakta ini tidak menyenangkan, tapi kalau and mempercayai Muslim, mereka akan menang. Jadi, dalam perang melawan terror ini, pilihan hanya : kematian kita tau kematian Muslim. Pilihan jelas. Kita harus lebih pandai dari mereka mengggunakan cara Taqiyya.

    Pencaplokan Alexandria dgn cara tipuan

    Ketika sang Khalif menerima laporan dari Amir bin Al-Aas ttg kalahnya Amir, ia memerintahkan agar SETIAP dan SEMUA kafir diberanguskan dari Mesir. Ia memerintahkan Amir utk mencaplok kota pelabuhan Alexandria (yg kemudian dirubah namanya oleh Muslim menjadi Iskandariya). Saat Muslim berada didepan Alexandria bln Maret 641. kita itu dijaga berat. Tembok demi tembok dan benteng demi benteng dibangun utk melindungi kota tsb. Pasukan Bizantin didlm kota ity mencapai jumlah
    50.000 sementara kekuatan pasukan invasi Muslim adalah 100.000. Kota itu tidak memiliki persediaan pangan. Karena kota itu memiliki akses langsung ke laut, mereka tergantung dari rute laut ini bagi bala bantuan dari Konstantinopel berupa tenaga kerja dan bahan2 kebutuhan.

    Saat Amir mensurvey situasi militer, ia merasa bahwa Alexandria sebuah tantangan besar. Pihak Bizantin juga bermaksud mempertahankannya dgn segala kekuatan mereka. Untuk itu, Amir kembali menggunakan akal bulusnya.

    Pasukan biadab Muslim ini kemudian memulai dgn serangan mereka. Bizantin menggunakan katapul yg ditempatkan diatap tembok2 kota mereka yg menembakkan batu2 raksasa ke posisi Muslim. Ini mengakibatkan kerusakan besar di pihak Amir dan memerintahkan pasukannya utk mundur dan mengambil posisi diluar jangkauan katapul.
    Mulailah perang maju mundur. Muslim maju dan dihantami misil2 batu. Saat Muslim mundur dari tembok kota, Bizantin kelaur dai benteng2 merkea tapi langsung dihantam balik oleh para pengikut agama damai.

    Sementara itu, kaisar Bizantin, Heraclius mengumpulkan pasukan besar di Konstantinopel yg dimaksudkan utk membantu Alexandria. Tetapi sebelum ia sempat merealisasikan rencananya ini, ia wafat. Pasukan tambahan bagi Alexandria ini ditunda keberangkatannya.

    Taktik licik Muslim utk memenangkan duel yg mempertaruhkan kebebasan mereka saat mereka terjebak Bizantin

    Ketika Muslim tahu akan wafatnya kaisar Bizantin yg menunda pengiriman pasukan tambahan, mereka memanfaatkan kesempatan ini dan meningkatkan serangan mereka.
    Tapi serangan Bizantin bertubi2 dan berhasil memerangkap muslim. 4 Muslim memasuki kamar bawah tanah, tetapi karena sempitnya terowongan masuk yg hanya bisa dimasuki satu orang, terowongan ini mudah dipertahankan oleh keempat Muslim ini. Pihak Bizantin tidak mungkin menangkap ke 4 Muslim ini dari terowongan itu. Kalau mereka dibiarkan disana, mereka akan mati kelaparan. Salah satunya adalah Amir, hal yg tidak diketahui pihak Bizantin.

    Bizantin meminta para Muslim yg terjebak agar menyerah shg mereka tidak akan mati kelaparan ataupun menukar mereka dgn tawanan Bizantin ditangan Muslim. Muslim menolak. Lalu pihak Bizantin yg tidak sudi membiarkan musuh mereka mati kelaparan malah mengajak mereka berduel. Katanya jika salah satu dari mereka yg menang dlm duel, mereka bisa bebas. Pihaik Muslim setuju.

    Amir sendiri menawarkan diri bagi duel itu, tetapi Masalma menghalanginya dan menawarkan dirinya sendiri.

    Kalau pihak Bizantin yg terjebak Muslim, maka Bizantin tidak mungkin diberi tawaran gentleman ala Bizantin ini. Mereka akan ditebas pedang Islam, dibantai secara masal saat itu juga. Namun pihak Bizantin adalah orang2 terhormat dan berbudaya dan bukan dibutakan oleh fanatisme spt Muslim, jadi mereka taat pada janji mereka.

    Mulailah duel pedang itu yg berlangsung dgn sengit. Kemenangan bagi pendekar Bizantin nampak dekat tapi Masalma berbuat curang dgn menarik bulu ketiak pihak Bizantin. Ketika ia mundur karena kesakitan, Masalma, sang algojo Allah itu membunuhnya dgn menusuk pedangnya begitu kuat kedalam hati sang pendekar Bizantin sampai menebus ke punggungnya. Terlepas dari tindak curang ini, pihak Bizantin mematuhi janji mereka.

    Perang masih juga berlangsung selama 6 bulan, dan Umar di Medinah menjadi semakin tidak sabar. Ia menulis surat kepada Amir :

    “Saat kau menerima surat ini, doronglah tentara agar berperang. Mulailah serangan pd hari Jumat siang, saat turunnya rahmat Allah.”

    Amir bin Al-Aas mengumpulkan orang2nya dan membacakan surat Umar. Kotbah2 penuh semangat jihad mendorong Muslim agar melakukan kekerasan. Dan diputuskan agar setelah solat Jumat mereka akan melangsungkan serangan besar2an. Ubada dipilih utk membawa bendera utk dan memimpin serangan.

    Hari Jumat kemudian, setelah bersolat, tetnara Muslim berbari ke medan perang dgn membawa peti2 mata diatas kepala mereka. Mereka maju dgn semangat fanatisme meluap, tapi pihak Bizantin mempersiapkan diri dan melancarkan serangan balasan. Hari Jumat itu, pihak Muslim mengalami kekalahan besar dan serangan Jumat itu gagal total.
    Saat itu Allah menolak utk memenuhi keinginan Muslim, walau dilakukan pada hari suci Muslim.

    Malam itu di kamp Muslim, putus asa meliputi seluruh kamp muslim. Malah ada yg mengusulkan utk membatalkan upaya mencaplik Alexandria dan kembali Al Fustat (nama lain bagi Babylon). Kegigihan Bizantin mematahkan semangat mereka. Tapi datanglah seorang penangkap ikan, mantan Koptik yg sekarang memeluk islam bernama Abu. Ia mengusukan agar Amir dan teman2nya yg dapat berbicara bahasa Yunani berangkat pagi2 ke pelabuhan dan memarkir perahu nelayan mereka di pelabuhan.

    Ini memang praktek para penangkap ikan yg membawa hasil panen dipagi hari ke Alexandria. Setelah mendarat disana, Abu dan rekan2 barunya itu menuju ke salah satu gerbang dan membunuh tentara penjaga dan saat subuh mereka berhasil membuka gerbang kota itu.

    Akibat serangan fajar ini, 20.000 tentara Bizantin tewas atau ditangkap dan penduduk tidak berdaya dibunuhi secara masal oleh para pengikut agama damai Allah. Selama 3 hari penuh, kota itu menjadi lautan darah. Istana2 dirongsoki sampai habis, para wanita dijadikan budak sex dan yg paling cantik dijadikan penghuni haremnya Amir dan panglima2nya. Amir dgn bangga melaporkan kpd bossnya, Umar: “Kami menaklukkan Alexandria. Di kota itu ada 4.000 istana, 400 tempat hiburan dan jumlah kekayaan yang tidak terhitung.”

    Tentara Muslim dgn giat mengumpulkan jarahan perang mereka. Umar memutuskan bahwa Muslim berhak memiliki setiap harta benda yg mereka temukan karena kekuatan mereka (‘by the right of might’). Ini memang cocok dgn filsafah Muslim bahwa ‘Kekuatan adalah Baik’ (‘Might is Right’) yg dilanjutkannya kemudian dlm 14 abad eksistensinya di Afrika, Asia dan Eropa.

    PENGHANCURAN PERPUSATAAN ALEXANDRIA

    Penyidikan terakhir oleh Luciano Canfora menyimpulkan bahwa Amir, atas instruksi kalif Arab, Umar, MENGHANCURKAN PERPUSTAKAAN KOTA ITU. Diperlukan waktu ENAM BULAN utk menghancurkan buku2 perpustakaan dlaam 1000 kolam renang Alexandria. Ini merupakan tindakan memalukan oleh para Arab buta huruf yg mentalitas Islamnya mengatkaan bahwa tidak diperlukan satu bukupun, karena
    Quran berisi apa yg perlu diketahui ! Inilah alasan Arab2 beringas haus darah yg tidak berbudaya dan pemakan kadal itu utk membakar semua perpustaan, tidak hanya di Mesir, tapi juga di Syria, Persia, Spanyol dan India (dimana mereka membakar universitas Buddhis; Nalanda). Pembakaran terhdp buku2 peninggalan jaman itu adalah kekejaman Muslim yg paling besar terhdp sejarah umat manusia yg tidak dapat dimaafkan.

    Catatan:
    http://www.faithfreedom.org/forum/viewt … c&start=30
    Nope. Rome did minimal damage to the library. It was (Amr Ibn el Ass) sent by the second Caliph and the husband of Mohamad’s daughter (Omar Ibn Il Khattab).

    Amr sent to Umar a letter asking what to do with (700,000 scripts some over 1000yrs old), this was Umar’s famous reply. On the basis of this reply All muslims should leave Islam.

    “As for the books you mentioned here is my reply. If their content is in accordance with the book of Allah, we may do without them, for in that case the book of Allah more than sufficies. If on the other hand, they contain matter not in accordance with the book of Allah, there can be no need to preserve them. Proceed then and destroy them.”

    Jihad melawan LIBYA dan TUNISIA

    Setelah pencaplokan Mesir, para Jihadis bergerak ke NUBIA. Tapi kaum Nubia menggunakan taktik gerilya dan sangat meletihkan tentara Muslim dan memaksanya mundur dari Nubia. Inilah yg menyebabkan Ethiopia tetap Kristen sampai sekarang. Setelah gagalnya kampanye pencaplokan terhdp Nubia di bagian selatan, Amir memutuskan utk berangkat kebagian barat Mesir, tempat terletaknya provinsi2 Bizantin, Libya dan Tunisia.

    Bln September 642, Amir memimpin pasukannya menuju kawasan itu. Setelah sebulan, mereka sampai di kota Pentapolis di Lybia. Kota ini milik Bizantin, tetapi mereka tidak mempersiapkan sistim pembelaan terhdp kota itu. Dgn mudah Muslim merebutnya tanpa perlawanan. Para warga menginginkan kedamaian dan Amir memnuhi keinginan mereka dgn syarat ala Islamnya itu: peluk Islam atau bayar pajak (Jizyah) atau mati.

    Praktek biadab pemaksaan anak2 Kristen kedalam tentara Muslim – Permulaan tradisi Jannisari ‘Turki’

    Setelah diadakannya perjanjian damai bagi rakyat, mereka yg tidak sanggup membayar pajak Jizyah diberi kesempatan utk menjual anak2 mereka agar kpd tentara Muslim (selain juga pemaksaan masuk Islam). Banyak penduduk Pentapolis tidak memiliki pilihan dan dgn berat hati menyerahkan anak2 mereka. Ini merupakan tindakan sangat tercela, tetapi sama dgn kaum Arab, Persia, Syria, Mesir dan Libya mereka tidak memiliki pilihan karena ini satu2nya cara utk menghindari kematian masal dan perbudakan. Praktek penjualan anak2 Kristen menjadi tentara Muslim ini kemudian diteruskan oleh kalifah Ottoman Turki terhdp kaum Kristen Serbia, Kroasia dan Bosnia.

    Pihak Muslim juga menamakan kembali kota Pentapolis sbg Al Burqa, Babilon dirubah menjadi Al Fustat dan kemudian Al Qahira (Kairo)

    Taktik tipuan dan ‘blackmail’ utk menangkap kota Libya, Tripolis (Tripoli sekarang)

    Dari Al Burqa, Uqba bin Nafe dikirim sbg pemimpin serangan terhdp Tripoli. Merkea sampai di Tripoli thn 643 AD. Garisun Bizantin disana menolak utk menyerah.

    The Muslims accordingly laid siege to the city. Amr put his camp on a high ground and blocked all land routes to the city. The city however had free access to the sea, and the passage to the sea could not be blocked by the Muslims. The Muslim army did not have siege equipment with them. The Byzantine garrison remained locked up within the fortifications and did not come out into the open. The siege accordingly dragged on for two months. The Muslims decided to use subterfuge. They opened negotiations with the Christians and offered to lift the siege during the week of Good Friday and the feast of Easter. The Muslims allowed the Christian inhabitants to visit the Cathedral of Mother Mary that was situated on a Hillock outside the walls of the city. The Christian pilgrims were being escorted by a small contingent Byzantine troops as the pilgrims were to be allowed to proceed unmolested to the Cathedral as per the terms of peace offered to them by the Muslims.

    Taking advantage of this nominal and weak security arrangement and the presence of a large number of civilians in the group of pilgrims, the Muslims broke their word as they had planned to and seized a number of the Christian pilgrims as hostages. The Muslim captors question the pilgrims as to who they were in the hierarchy of the Byzantine nobility. To their dismay, none of the hostages were of high rank, they all came from humble families. The intention of the Muslims was to take hostages from the pilgrims, whom they hoped would be from high ranking families who paid homage a at he Cathedral every year. But they realized that among the hostages were two daughters of a night watchman. The Muslims promised to give a thousand dinars to each of them, if they could tell the Muslims an easy way into the city. The two patriotic girls pleaded ignorance of any such path. On seeing their obstinacy, the Muslim threatened to kill them along with the other hostages. The siege of the town was resumed once again.

    During the daytime, the Muslims tied the two girls to poles outside their camp which was visible from the ramparts of the Fort of Tripoli, taking them inside their camp for the night. This sight was heart-wrenching and after a few days, the Muslims deliberately lowered their guard and let the two girls sleep in a seemingly unguarded tent. After a few days the girls made a predictable attempt to escape. The Muslims who had kept a small contingent hidden from the sight of the girls followed them stealthily and realized that the girls were circumventing the city walls to go across to the beach from where the Muslims saw that their must be some way to enter the city from the seaward side, which was also fully fortified. They saw the girls slip into a channel which went under ground and followed the girls. This channel was hidden from view by big boulders and so was not visible to a casual visitor. Hence this way into the city had remained unknown all through the two months of siege. Little did the two girls realize that they had unknowingly revealed to the Muslims the secret path into the fortified city.

    When the Muslim contingent discovered this passage that provided the city access to the sea they sent for reinforcements and rushed into the city through this passage raising the shouts of ‘Allah-o-Akbar.’ In the commotion in the dead of the night, the Byzantine guards thought that the entire Muslim army had entered the city. There was panic in the city and some of the Byzantines sought refuge on board the ships that lay anchored in the harbor. The Muslim contingent seized one of the Gates and open it for the main Muslim army waiting outside to rush in with shouts of ‘Allah-o-Akbar’. The Muslims then pressed the attack from outside, after having got into the city. There was wholesale slaughter and looting that went on for the entire next day, till Amr called for it to stop, so that an orderly plunder could be organized. The surviving Byzantine garrison fled to the ships and sailed away. The Muslims captured the city without much resistance. The citizens surrendered and most of them accepted Islam and from then on Tripoli, the capital of Libya, which had till then been a Christian City, established by Romans, became a Muslim city, and remains so till this day.

    From Tripoli, Amr sent a column to Sabrata a city forty miles from Tripoli. A feeble resistance was put up and thereafter the city surrendered and agreed to pay Jizya.

    Dinasti2 Arab dan Turki, 640-1798 A.D

    Setelah pencaplokan Mesir, dinasti2 Muslim Arab dan Turki menguasai Mesir dari
    640 A.D. – 1798 A.D. Perancis adalah bangsa non-Muslim pertama yg masuk Mesir.
    Tetnara Perancis dipikpin Napoleon Bonaparte yg mengalahkan Ottoman dan penguasa dinasti Mumeluk di Mesir th 1798 A.D. Namun selama periode tidak terputus selama
    1150 tahun, Muslim mentiranisir Mesir. Dinasti2 Arab termasuk Umayyad (660-751 A.D.) dan Abbasid ( 751-880 A.D.) Dinasti2 Turki termasuk Tolonid ( 880-904 A.D.) dan Akhsid ( 904-913 A.D.). Mereka disusul Fatimit (913-1171 A.D.), dinasti Arab Shiah. Disusul kemudian dgn Turki, Ayubid (1171-1250 A.D.), Mameluk (1250-1517 A.D.) dan Ottoman (1517-1798 A.D.).

    Setelah pencaplokan Arab th 641 AD, mereka ingin menguras kekayaan Mesir.
    Johannes dari Nikiu dlm kronikelnya menyebut bahwa Amir, panglima invasi Muslim pertama, “meningkatkan pajak sampai 22 keping emas sampai rakyat menyembunyikan diri karena tidak memiliki kemampuan membayar.”

    The Umayyads followed by the other dynasties instituted heavy taxes including poll tax or Algyzya, tribute and different exactions. At times the Arab rulers found it convenient to throw prominent Copts, e.g. a Bishop or Pope, in jail and request ransom to release them. The Umayyad Caliph Suliman ibn abed Almalek reflected this policy, in writing his appointed ruler of Egypt ” to milk the camel until it gives no more milk, and until it milks blood”. Though some of the Arab rulers were prudent, most were oppressive, cruel and committed a lot of atrocities against the Coptic population. The ultimate policy of the Muslim Arab rulers changed gradually from maximum financial gain to Islamization either through incentives of reduced taxation, or by outright violence and force. Arab and Turkic rulers from different dynasties continued to levy heavy taxation to impoverish the Copts, instituted policies to eradicate the Coptic culture, language, leadership, and initiated violence and pogroms against the Coptic population.

    Penghancuran Bahasa, Budaya dan Monumen Koptik

    The assault on culture that was initiated by the destruction of the library at Alexandria and continued by the Umayyads who decreed the use the Arabic language instead of Coptic in the governance of Egypt. It took centuries for Arabic to replace Coptic as the spoken language of the land. The Coptic language continued in general use until the 13th century.

    Unlike the Persian, Greek and Roman rulers who maintained and rebuilt some of the ancient Egyptian temples, several Islamic rulers destroyed and pillaged the ancient Egyptian temples and Churches. The marble and porphyry pillars obtained by the destruction of many ancient temples and churches were used to build palaces, mosques, and at times just left a trail of destruction. Sultan El Aziz attempted to destroy the great pyramids of Giza circa 1193 A.D. He gathered a large labor force that attempted to destroy the pyramids for eight months. At the end of which, they succeeded in only destroying a part of the casing of the pyramid and made a small breach in one side. Fortunately the great effort needed convinced El Aziz to abandon the destruction of the pyramids.

    Perlawanan terhdp Penindasan Muslim

    The Arab’s oppression led the Copts to several rebellions, but these rebellions failed to break the yoke of oppression or achieve independence. The Copts in the eastern Delta fought against the Umayyad oppression in 725 A.D. A large-scale Coptic revolt against the Abbasids took place circa 815 A.D. El Maamoun, the Abbasid Caliph, had to bring in a large army with elephants to conquer the Coptic revolution of 815 A.D. Even as late as 1176 A.D. the Copts of the city of Koptos revolted against the oppression of the Turkic rulers. The policy of heavy taxation, pillage, and violence was also accompanied by forced migration of Copts to other parts of the Islamic Empire, and settlement of Muslim Arabs into Egypt. As a result, many of the Copts were forced into Islam to escape the continued oppression and heavy taxation. The forced Islamization policy was followed by most of the Arab rulers, and later on also by most of the Mamluks and Turkic rulers. Gradually, the population of Muslims increased and the Copts decreased. The population of the Copts decreased from nine million at the time of the Arabs conquest 641 A. D. approximately 700,000 at the early 1900′s.

    Trails and Tribulations of the Copts

    Though persecution of the Copts by the Arabs, Mamluks and Turks was the norm rather than the exception, most of these rulers needed the knowledge of the Copts to govern the country and collect taxes. The history of the Islamic era shows a vicious cycle in which the Muslim rulers hired Copts because of their knowledge, skill and honesty to administer the affairs of the government of Egypt. Accordingly, some Copts did well and prospered, to ultimately attract the envy of the Muslim rulers who occasionally changed their minds and expelled the Copts from government jobs, confiscated their property, put them in jail, and a times put them to death. As the affairs of the government became erratic without the knowledge which only the Copts had, the rulers had to hire the Copts once again on many occasions. Under the rule of the Fatimite dynasty, one of the rulers was in fact insane.

    El Hakem hired several Copts in his employment. And later he suddenly decided to either to force his Coptic employees into Islam or kill them. Two prominent Copts Fahed ibn Ibrahim, and Yuhana ibn Nagah, were among El Hakem’s employees, who accepted death rather than converting to Islam 1004 A.D. But during exceptional and short reigns of moderate rulers, many Copts managed to excel in literature and the arts. Among the famous writers during the Ayubide dynasty, were the Iben Al Asaal brothers. Though the rule of the Mameluks produced many beautiful monuments, they were bloodthirsty and extremely oppressive for the Egyptians Copts. It is not unusual to read about pogroms launched against the Copts during the Mamluks time. A supposedly devout unknown Fakir, who would instigate a Muslim mob after the Friday Muslim prayers to attack the Copts, their homes and businesses/ Usually the pogroms started on Fridays.

    However, the Mameluks also needed the services of the Copts to run the affairs of the government. Ibrahim Algawhery, a Copt, was the Chief Clerk of the Mameluks Abuel dahab and Ibrahim Bey in 1795 A.D. Effectively he was the prime minister of Egypt. Later on in the early 20th century another prominent Copt Botrous Ghalli became the prime Minister of Egypt under the rule of the British rule. In the recent past the Secretary General of the United Nations (UN) Butros, Butros Ghali was also a Copt. But the compulsions of the safety of his compatriots (held hostage) in Muslim ruled Egypt, forced him to take a stand favorable to the Muslim in World affairs.

    Era Modern Era setelah Ottoman

    After the French left Egypt, the country returned back under the rule of the Ottomans and Mamlukes. An Albanian officer of the Ottoman army, Mohamed Ali, managed to become the ruler of Egypt under the Ottoman Empire 1805 A.D. Mohamed Ali was a smart ruthless ruler. He remembered his Christian roots as an Albanian convert to Islam (as did Mustapha Kemal Pasha of Turkey later in the 20th century). Mohammed Ali managed to massacre the Mamlukes and get rid of the Ottoman occupation army. He introduced western style education, industry, and new crops. His rule did not care much about religion as much as about competence. He hired a lot of Armenians and Copts to help his government. He challenged the rule of the Ottoman Empire, but he lost as the European powers stupidly intervened on the behalf of the Ottomans 1845 A.D. Egypt became semi-independent under the Ottomans Empire, then under the British Empire 1882 A.D. and was ruled by the family of Mohamed Ali through 1952.

    A group of army officers led a coup d’ etat that ended the rule of King Farouk, the last ruler of the Mohamed Ali family. The coup brought Nasser and his fellow officers to power. He pursued a socialist domestic policy, alliance with Soviet Union, and aggressive conflicts against the West and Israel. Nasser’s socialist policies and conflicts with the West resulted in severe economic hardships for Egypt. After Nasser’s death 1970, Sadat assumed the presidency of Egypt. Sadat reversed his predecessor’s policy, expelled the Soviet advisors, followed a more pro-western approach, and pursued peace with Israel. After a militant Islamic group assassinated Sadat in 1981, Hosni Mubarak assumed the presidency in Egypt until the present time. President Mubarak continues to follow a pro-western policy, and brokered several peace initiatives in collaboration with the U.S. between the Israel and the Palestinians.

    Kaum Koptik pd abad2 19 dan 20

    The poll tax, Algyzia was finally abolished in 1815 A.D. This gave some relief to the Copts in the 19th century-mid 20th century. This period saw a modest revival and renewal. A Coptic leader, Pope Cyril 4th a reformist followed the ancient Egyptian or Coptic tradition of respect for knowledge and learning in the 19th century. He looked to the western knowledge for inspiration. He established two schools with a western schooling system, and imported a new printing press to disseminate information. He started an effort o collect and catalog Coptic music and hymns. The Coptic music has been handed down orally from the days of the ancient Egyptian temples. It is believed that the Egyptian Government agents poisoned him and he died in 1861 A.D., as they were concerned about his reformist movement. The Copts in the 19th and early 20th century worked together with their Muslim compatriots to achieve independence and democracy in Egypt. They participated in the revolt of 1919 against the British rule after WWI. Several political Coptic leaders participated in the short-lived democratic parliaments in the early to mid 20th century.

    World War I resulted in the defeat of the last Islamic Empire, the Ottoman Empire. The last Caliph of the Muslims; the Ottoman Sultan was replaced by a secular president in modern Turkey. Though Turkey has and continues to progress as a secular nation, the impact of a superior western culture and influence was felt in many Muslim countries. A militant fundamentalist Islamic called the Muslim Brotherhood was initiated in 1920′s (offshoots of which are the Hamas and Al Qaeda). Other groups also followed, e.g. the society for Muslim Youth. These movements aimed at resisting the influence of the superior western culture. These movements espoused a more conservative interpretation of Islam, and many of them also espoused violence against the Copts that raged on and off for years. Nasser became President of Egypt shortly after an army coup in 1952. Though Nasser cared mostly about power more than religion, many of his protégé’s espoused the more fundamentalist Islamic teaching of the Muslim Brotherhood.

    The Nasser government followed a socialist regime and nationalized most of the private enterprises, which hit the Copts a lot harder as they depended on private businesses for their livelihood. The economic pressures and resurgent discrimination led many Copts to start immigration to countries such as the U.S.A., Canada, and Australia in the 1960′s. Active and successful Coptic-Americans live at present at most of the large metropolitan areas of the U.S.A. The same applies for many of the large metropolitan areas in many of the western countries.

    President Sadat was successful in establishing a peace treaty with Israel. However, in his struggle for power against the Nasserite factions, he encouraged the militant Islamic groups in Egypt. In the 1980s, the militant fundamentalist Islamic movement resurgence was accompanied by renewed and escalated assaults on the Copts in Egypt. The Militants instigated several violent episodes against the Copts and western tourists, attacked, sacked and burned churches and Coptic businesses. G. Kepel in his study of Muslim extremism in Egypt indicated that the Militants financed the assassination of President Sadat using gold robbed from Coptic-owned goldsmith stores. On the political side, the Islamic Militant groups called for changing the laws from the civil laws to the Islamic code or Sharia. Their claim is that the return to Sharia provides a solution instead of the western approach of democracy and free enterprise. It would return the Islamic countries to the glory of the medieval age Islamic Empires. However, the return to the Islamic code essentially deprives the non-Muslims including the Copts from equal rights as compared with the Muslims and subjects them to formal discrimination. In the 1990′s attacks on Churches, property and businesses of the Copts have been on the increase.

    Seorang suster tidak berdaya dan tidak bersenjata diserang pisau Muslim http://gatewaypundit.blogspot.com/2005/ … on-nun-in- egypt.html

    Mesir : Muslim Rusak Toko Kristen
    http://www.indonesia.faithfreedom.org/f … 270147#270 147

    Penculikan para wanita muda Koptik dan Islamisasi secara paksa terhdp mereka terus meningkat. Pogrom2 (pengusiran orang dari tempat tinggalnya berdasarkan SARA) terus berlangsung. Pada thn 2000, kelompok2 Islam militant melangsungkan pogrom yg mengakibatkan tewasnya 21 orang Koptik dan penghancuran rumah2, bisnis dan gereja Koptik di desa Al Kosheh di Mesir Selatan. Insiden2 dan penindasan serupa terus berlangsung. Mendapatkan ijin utk mendirikan ataupun merenovasi gereja dipersulit oleh Undang2 dan bahkan memerlukan persetujuan presiden. Jangan lupa bahwa undang2 ini tidak bertentangan dgn Islam, malah MEMENUHI ajaran Islam.

    ———————————————————————-
    Sumber2 bacaan:

    1- The Mummy, Funeral Rites & Customs in Ancient Egypt, by Ernest A. Wallis Budge, reprint of 1893 edition by Senate Studio Editions 1995

    2- The Twilight of Ancient Egypt, First Millennium B.C.E., by Karol


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.