Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sebagai manusia yang berakal tentunya akan menempuh cara-cara untuk menemukan dan menjawab pertanyaan itu. Namun terkadang seorang muslim dan mu’min yang sudah jelas apa panduan, dan bagaimana cara-cara syar’i untuk menemukan dan mengenal Tuhan-nya itu terjebak dengan cara-cara tidak syar’i dan tidak benar untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan diatas. Salah satu diantaranya adalah dengan berfilsafat. Mereka berdalih akan menemukan Tuhan dengan cara berfikir rasional dan hanya menggunakan kebenaran sesuai dengan akal saja. Atau dengan kata lain, akal lebih didahulukan atas wahyu.
Mengenai Hadits Agama Adalah Akal
Mereka berpendapat bahwa dengan berfilsafat akan mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskan. Tentunya hal ini adalah sesuatu yang keliru dan menyimpang. Kadang, untuk menambah keyakinan mereka dalam berfilsafat, mereka berdalil dengan ungkapan:
الدين هو العقل ومن لا دين له لاعقل له
“Agama adalah akal, siapa yang tidak memiliki agama, maka dia tidak berakal.”
Seorang Muhadits (Ahli Hadits) besar, syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahumullah, mengatakan bahwa ungkapan itu kualitasnya bathil [2]. Sebagai muslim tentunya harus menjauhi apa-apa yang bukan menjadi rujukan yang benar dalam beragama, termasuk ungkapan tadi.
Komentar Syaikh Albani Mengenai Hadits Diatas: [3]
Alasan kelemahan hadits ini (diatas) adalah pada salah seorang periwayatnya yang bernama Bisyr karena dia seorang periwayat yang Majhul (anonim) sebagaimana dikatakan oleh Al Azdy dan disetujui oleh Imam Adz Dzahaby di dalam kitabnya Mizan Al I’tidal Fi Naqd Ar Rijal dan Imam Ibnu Hajar Al Asqalany di dalam kitabnya Lisan Al Mizan.
Semua hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal tidak ada satupun yang shahih, sehingga berkisar antara kualitas Dha’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu). Hadits-hadits seperti ini banyak terkoleksi di dalam buku “Al ‘Aql wa Fadhluhu” karya Abu Bakar bin Abi Ad Dun-ya atau yang lebih dikenal dengan Ibn Abi Ad Dun-ya bahkan beliau mengkritik diamnya pentashih buku tersebut, Syaikh Muhammad Zahid Al Kautsary atas riwayat-riwayat yang kualitasnya demikian.
Al Qur’an Sebagai Petunjuk Keberadaan Allah ta’ala
Oleh karena itu, hadits diatas tidak bisa dijadikan hujjah mengenai fungsi akal yang berada diatas wahyu, atau mendahulukan kepuasan akal atas petunjuk wahyu. Dan cukuplah Al Quran, As Sunnah dan pemahaman para sahabat menjadi panduan dalam menemukan Tuhan dan mengetahui dimana keberadaan-Nya, dan akal haruslah tunduk dibawah petunjuk wahyu yang ma’shum, karena akal setiap orang berbeda-beda dan tidak ma’shum.
Didalam Al Quran, Allah ta’ala berfirman bahwa Al Quran merupakan penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira.
Allah ta’ala berfirman:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An Nahl [19]: 89)
Allah ta’ala berfirman:
“Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan.” (Q.S. Asy Syu’ara [26]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
“Thaa Siin, (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Quran, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan.” (Q.S. An Naml [27]: 1)
Dalil Al Quran: Keberadaan Allah ta’ala Ada Diatas Langit (‘Arsy)
Al Quran merupakan petunjuk yang jelas dalam segala sesuatu. Sebagai muslim, kita tidak perlu mencari-cari cara dan petunjuk lain mengenai keberadaan Allah, kecuali hanya merujuk kepada Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman para sahabat. Dalam beberapa ayat misalnya, Al Quran menjelaskan mengenai keberadaan Allah ta’ala:
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al ‘Araf [7]: 54
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Q.S. Yunus [10]: 3)
Allah ta’ala berfirman:
“Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.” (Q.S. Ar Ra’d [13]: 2)
Allah ta’ala berfirman:
“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Thahaa [20]: 5)
Allah ta’ala berfirman:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Furqaan [25]: 59)
Allah ta’ala berfirman:
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. As Sajdaah [32]: 4)
Allah ta’ala berfirman:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S. Al Hadiid [57]: 4)
Al Quran telah menjelaskan mengenai keberadaan Allah ta’ala, yakni bersemayam diatas ‘Arsy. Hal itu merupakan sesuatu yang wajib kita imani selaku muslim. Jika mengingkari keberadaan Allah ta’ala ada diatas ‘Arsy, maka dia telah menjadi kafir. Sebagaimana perkataan salah satu imam madzhab, yakni Imam Abu Hanifah -rahimahullah-.
Imam Abu Hanifah -rahimahumullah- berkata:
“Siapa yang berkata: ‘saya tidak tahu Tuhan-ku itu di mana, di langit atau di bumi’, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: ‘Tuhan-ku itu di atas ‘Arsy. Tetapi saya tidak tahu ‘Arsy itu di langit atau di bumi.” [4]
Pernyataan Serupa yang Seperti Ini Juga Dinukil dari: [5]
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Al Fatawa V/48.
2. Imam Ibnu Al Qayyim dalam Kitab Ijtima Al Juyusy Al Islamiyah, hlm 139.
3. Imam Adz Dzahabi dalam Kitab Al ‘Uluw, hlm 101-102.
4. Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab Al ‘Uluw, hlm 116.
5. Imam Ibnu Abi Al Izz dalam Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, hlm 301.
Para Imam Ahlus Sunnah telah sepakat mengenai dimana Allah itu berada. Maka kebimbangan akan keberadaan Allah Rabb semesta alam, merupakan sebuah kesesatan yang nyata. Dan bisa menyebabkan seorang muslim keluar dari Islam.
Dalil As Sunnah: Allah ta’ala Ada di Langit (‘Arsy)
Telah jelaslah bagi kita bahwa Al Quran itu merupakan petunjuk yang menerangkan secara jelas dimana Tuhan itu berada. Kita tidak perlu mencari-cari cara untuk menggapai keimanan dengan jalan yang rancu, yakni melalui filsafat. Selain dari Al Quran, Allah ta’ala melalui hamba dan utusan-Nya, yakni nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan Al Quran itu melalui As Sunnah.
Dan Selayaknya dalam urusan aqidah yang agung ini kita membaca hadits yang berasal dari dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam As Sulami, ia berkata:
“Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah apakah aku harus memerdekakannya?” Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, “Dimana Allah?” Dia (budak itu, pen) menjawab, “Di langit.” “Siapa aku?” tanya Rasul. “Engkau Rasulullah (utusan Allah)” ujarnya. Kemudian Rasulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesunguhnya dia seorang mu`min.” [6]
Dari hadits yang agung diatas dapat kita simpulkan bahwa iman atau kufur seorang muslim itu dari keyakinan bahwa Allah ta’ala itu berada di langit, yakni diatas ‘Arsy. Hal ini semakna dengan ayat Al Quran yang menerangkan bahwa Allah ta’ala berada di langit.
Allah ta’ala berfirman:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (Q.S. Al Mulk [67]: 16)
Penjelasan Syaikh Albani Mengenai Ayat Diatas: [7]
Karena “فى” disini (pada ayat diatas, pen) maknanya adalah “على” (di atas), dan dalil tentang hal itu banyak, bahkan banyak sekali. Di antaranya adalah hadits terdahulu yang banyak disebut oleh manusia, dan hadits itu dengan seluruh jalannya -Alhamdulillah- shahih. Dan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sayangilah yang di bumi.”
Bukan berarti serangga dan ulat-ulat yang ada di dalam bumi! Tetapi yang dimaksud adalah yang berada di atas bumi, seperti manusia dan hewan. Dan hal itu sesuai dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“… Maka yang di langit akan menyayangimu.”
Maksudnya: yang di atas langit. Orang-orang yang telah menerima da’wah yang haq (benar) ini mesti berada di atas kejelasan tentang perincian seperti tadi. Dan contoh lain yang mendekati hadits diatas, hadits Al Jariyah yang dia itu adalah pengembala kambing, hadits ini masyhur, saya akan menyebutkannya sebagai penguat. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Dimana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. [8]
Syubhat: Perkataan Allah ta’ala Ada Dimana-mana
Seringkali di kalangan kaum muslimin saat ini tersebar ucapan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana. Padahal ucapan itu adalah ucapan yang sangat bathil dan menyimpang. Ucapan itu sama dengan satu firqoh menyimpang dan sesat, yakni firqoh Jahmiyah [9]. Firqoh ini menyatakan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana, jika demikian adanya maka hal tersebut justru melecehkan Allah ta’ala sendiri. Dan secara tidak langsung dia menyatakan bahwa Allah ta’ala ada di kamar mandi, ada di WC, ada dalam tubuh binatang, ada dalam (maaf) kotoran, dan lain sebagainya. Maka hal ini tidak boleh sama sekali dengan mengatakan Allah ta’ala ada dimana-mana, dan justru itu merupakan satu kesesatan yang nyata!
Selayaknya kita melihat fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau adalah seorang mufti dan mantan rektor Universitas Islam Madinah. Beliau mengatakan ketika ada yang menanyakan dimana adanya Allah ta’ala dan menjawab Allah ta’ala ada dimana-mana, maka beliau menjawab:
“Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejalan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang diikuti oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya.” [10]
Maka, ketika ada seseorang yang bertanya, lalu bagaimana kebersamaan Allah ta’ala bersama hamba-Nya, maka kita katakan seperti yang Syaikh Bin Baz jelaskan, beliau berkata:
“Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana (meliputi segala sesuatu).” [11]
Dan jika ada yang bertanya bagaimana cara bersemayam Allah ta’ala diatas ‘Arsy, beliau menjawab:
“Yang dimaksud dengan ‘bersemayam’ menurut Ahlus Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas ‘Arsy sesuai dengan keagungan Allah. Tidak ada yang dapat mengetahui bagaimana bersemayamnya itu, seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini. Beliau menjawab: “Kata bersemayam itu telah kita pahami. Akan tetapi, bagaimana caranya tidak kita ketahui. Mengimani hal ini adalah wajib, tetapi mempersoalkannya adalah bid’ah.” [12]
Juga perkataan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, ketika ditanya tentang hal yang serupa, beliau menjawab:
“Adapun orang yang menjawab dengan kata-kata: ‘Allah itu ada di mana-mana maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu ada dimana-mana dengan pengertian dzat Allah ada dimana-mana, adalah kafir karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama,bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah.” [13]
Pernyataan Imam Ahlus Sunnah Mengenai Filsafat (Ilmu Kalam):
Selanjutnya, setelah mengetahui dimanakah Allah ta’ala itu berada, dan cara-cara mengetahui keberadaannya, yakni dengan kembali kepada Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman Salaful Ummah yakni sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan umat pertama yang selamat agamanya. Kini, kita akan melihat pernyataan-pernyataan para ulama Ahlus Sunnah yang ittiba’ kepada manhaj salaf mengenai kedudukan, hukum mempelajari, dan bermajelis dengan mereka (Ahlul Kalam/Filosof).
Imam Ibnu Rajab rahimahumullah, berkata:
“Mengikuti ocehan ahli ilmu kalam dan filsafat merupakan kerusakan yang nyata. Tak sedikit orang yang mencoba menyelami perkara itu akhirnya berlumuran dengan berbagai kotorannya, sebagaimana ucapan Al Imam Ahmad bin Hambal: ‘Tidaklah orang yang melihat ilmu kalam kecuali akan terpengaruh dengan Jahmiyyah’. Beliau dan para ulama salaf lainnya selalu memperingatkan dari ahli ilmu kalam walaupun (ahli ilmu kalam itu) berniat membela As Sunnah.” [14]
Imam Al Barbahari rahimahumullah, berkata:
“Ketahuilah –semoga Allah ta’ala merahmatimu–, sungguh tidaklah muncul kezindiqan, kekufuran, keraguan, bid’ah, kesesatan, dan kebingungan dalam agama kecuali akibat ilmu kalam, ahli ilmu kalam, debat, berbantahan, dan perselisihan.” [15]
Imam Abdurrahman bin Abu Hatim Ar Razi rahimahumullah, berkata:
“Aku mendengar bapakku dan Abu Zur’ah, keduanya memerintahkan untuk memboikot ahlul bid’ah. Keduanya sangat keras terhadap mereka, dan mengingkari pemahaman kitab (Al Quran, pen) dengan akal semata tanpa bersandar dengan atsar (hadits, pen), melarang duduk bersama ahlul kalam (kaum filsafat), dan melihat kitab-kitab ahlul kalam.” [16]
Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:
“Aku telah menjumpai para ahli Ilmu Kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah. Mereka tidak memiliki sifat wara’ dan tidak juga takwa. [17]
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, berkata:
“Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindiq (kafir).” [18]
Imam Syafi’i rahimahullah. berkata:
“Barangsiapa yang memiliki ilmu kalam, ia tidak akan beruntung.” Beliau juga mengucapkan: “Hukum untuk Ahli Kalam menurutku adalah mereka harus dicambuk dengan pelepah kurma dan sandal atau sepatu dan dinaikkan ke unta, lalu diiring keliling kampung. Dan dikatakan: ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan mengambil ilmu Kalam.’’ [19]
Imam Abu Nu’aim rahimahumullah meriwayatkan dari Imam Syafi’i, katanya, Imam Malik bin Anas apabila kedatangan orang yang dalam agama mengikuti seleranya saja, beliau berkata:
“Tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda memilih ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang-orang yang masih ragu-ragu, dan debatlah dia.” [20]
Kesimpulan
Setelah kita mengetahui bahwa dalam Al Quran, As Sunnah dan perkataan para Ulama Salaf, mengenai keberadaan Allah ta’ala. Maka kita akan menemukan petunjuk yang sangat jelas. Sedangkan cara-cara mengetahui keberadaan Allah ta’ala dengan cara Ilmu Kalam (Filsafat), selain menimbulkan kerancuan, bimbang, bahkan menyebabkan kesimpulan yang salah, tak syak lagi bahkan para pelakunya mendapat tahdzir (peringatan keras) dari ulama Salaf.
Maka, oleh karena itu hendaknya cara-cara atau manhaj dalam memahami keberadaan Allah ta’ala itu tidaklah dimulai dengan berfilsafat, namun dengan memahami nash-nash Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman para Salaful Ummah dalam memahami nash itu. Insya Allah, pemahaman mengenai Tuhan tidak akan salah dan keliru, sehingga menyebabkan kesalahan yang sangat fatal dan konsekwensi sesat.
Wallahu ‘alam Bisshawab
_________________________
Catatan Kaki
[1]
[2] Kitab Silsilah Hadits Ad Dha’ifah wal Maudhu’ah. Hlm 53-54.
[3] Ibid., hlm 53-54.
[4] Kitab Al Fiqhul Al Absath, hlm 46.
[5] Kitab Al Itiqad Al ‘Aimmatu Al Arba’ah, oleh Syaikh Dr. Muhammad Abdurrahman Al Khumais, edisi Indonesia Aqidah Empat Imam Madzhab. Penerbit: Kantor Atase Agama Kerajaan Saudi Arabia.
[6] Hadits Diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, Imam Abu Daud, dan Imam An Nasaai dalam kitab Sunan-nya.
[7] Kitab Tauhid Awwalan Yaa Du’atal Islam, Edisi Indonesia: Tauhid, Prioritas Pertama dan Utama. Hlm 31-35. Jakarta: Penerbit Darul Haq.
[8] Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 537, Imam Abu Daud no. 930, Imam An Nasaai juz I, no.14-18 dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakami As Sulami Radhiyallahu ‘anhu.
[9] Jahmiyyah, yakni satu firqoh yang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Jahm Bin Shafwan, dia mengatakan bahwa Allah ta’ala ada dimana-mana.
[10] Majalah Ad Da’wah, no 1288.
[11] Ibid., no 1288.
[12] Ibid., no 1288.
[13] Kitab Majmu’ Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133.
[14] Kitab Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, hlm 43.
[15] Kitab Syarhus Sunnah, hlm 93.
[16] Kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hlm 322.
[17] Kitab Manhaj Imam Asy Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (I/74) oleh Dr. Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al ‘Aqiil.
[18] Kitab Talbis Iblis, hlm 112.
[19] Kitab Ahaadits fii Dzammil Kalam wa Ahlihi, hlm 99.
[20] Kitab Al Hilyah, hlm 324.
(http://pemikiranislam.net/)









19/01/2012 pada 00:23
Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:
“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.
Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.
Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.
Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.
Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.
Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.
Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).
Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:
“Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).
Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.
Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).
Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).
Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.
07/12/2011 pada 22:13
kok masih bingung toh,padahal sudah sngat ilmiah dilengkapi dgn dalil2y bahkan pembawa haditsy,yah kalau Rob berkendak menysatkan seseorang maka tdk ada yg dapat memberinya petunjuk,maka sebaliknya klu Rob berkehendak memberi petunjuk pada seseorang maka tdk ada yg dpt menyesatkannya,agama itu dgn dalil Al’qur’an dn Sunnah bukan katanya kyai.
19/07/2011 pada 11:23
Para Ulama terdahulu baik itu Imam Ghozali, Imam Nawawi, Syikh Abdul Qodir Jaelani, dll, bisa saja melakukan kesalahan. Kecuali Rasulullah saw beserta Ahlulbait beliau karena mereka terjaga dari kesalahan.
Salafi sepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
Mereka sepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka,
Abu Hasan Al Asy’ari menyatakan : “Allah bersemayam di atas singgasana Nya, Dia mempunyai sepasang tangan tetapi bukan sebagai pemilikan, Dia mempunyai mata tetapi bukan sebagai cara, dan Dia mempunyai wajah”( Kitab Maqalat Al Islamiyyin karya Abu Hasan Al Asy’ari ) ….
Memang, pemahaman metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali dan Abu Hasan Al Asy’ari cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah. Anehnya pengikut Asy’ari MENGKAFIRKAN ajaran Asy’ari Sang Gembong Pendiri Mazhab !
Hambaliyyah dan Asy’ari berpendapat bahwa derajat keagungan Allah mempunyai batas yang berdekatan dengan bagian paling tinggi dari singgasana Nya….
Syi’ah menolak pelecehan terhadap Allah swt karena:
Imam Ali bin Abu Thalib ra menolak pandangan kejasmaniahan Allah dan menempatkan Allah diatas kualitas kualitas yang dapat disifatkan pada makhluk Nya dengan berkata:
“Mereka yang mengklaim dapat disamakan dengan Mu, menzalimi Mu, ketika menyamakan Mu dengan berhala-berhala mereka, SECARA KELIRU melekatkan padaMu suatu sifat yang mungkin cocok bagi ciptaanMu, dan SECARA TERSIRAT mengakui bahwa Engkau tersusun dari bagian bagian seperti hal hal material ( Kitab Nahj Al Balaghah halaman 144 )
Syi’ah MENOLAK KEJASMANIAN ALLAH…
Salafi mengambil arti lahiriah, sedangkan syi’ah mengambil arti majazi (kiasan)…
Syi’ah menolak hal hal material seperti kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan komposisi pada Allah SWT
Allah ZAT Yang Tak Terbatas! sehingga Allah tidak menempati ruang! Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi!
Adapun ayat “Tuhan yang maha pengasih beristiwa’ di atas arsy ”(QS. 20:5)
Bahwa ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan kalau Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sesuatu (zat) pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)
Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.
Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-’ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih.
Jangan sampai kita seperti orang nasrani ketika dikatakan Isa adalah roh Allah, maka orang-orang Nasrani langsung menetapkannya dengan makna zahir sehingga mendakwa Isa salah satu daripada sifat-sifat Allah.
Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 272
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah :
“Keridhaan Allah” bisa juga “Kiblat yang diridhai Allah”
Apa maksud a’yunina (mata Allah) pada Qs. Hud ( 11 ) ayat 37 maksudnya adalah ” pengawasan Allah”.
Apa maksud “kedua tangan Allah terbuka” pada Qs. Al Maidah (5) ayat 64? Maksudnya adalah Allah maha pemurah.
Apa maksud ‘singgahsanaNya’ maksudnya adalah ‘kekuasaan kepemerintahanNya’.
Contoh yang paling gampang adalah: Tentara Jerman telah menduduki sebuah kota, padahal kalimat tsb kalo diartikan secara jahir adalah ‘duduk diatas kota’ padahal kalimat ‘menduduki’ adalah bermaksud ‘menguasai’. Dan bahasa Arab banyak sekali memekai ungkapan2 spt itu.
Tafsir Ayat Mutasyabihat TANGAN
Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47
Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan (Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)
Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.
Sebagai pengetahuan bahwasannya akidah Abu Hasan Al Asy’ari didalam Kitab Maqalat Al Islamiyyin ‘SAMA DENGAN’ Akidah Wahabi Salafi… Namun kenapa Kaum Sunni Cuma Berani Mengkafirkan Akidah Wahabi Tetapi Mengagung Agungkan Abu Hasan Al Asy’ari?
Salam Damai
25/06/2011 pada 14:28
Assalamu’alaikum.
Bagi orang-orang yang membenci salafi, maka inilah perkatan para imam ahlus sunnah sebagai bantahan telak terhadap paham jahmiyah yang mengatakan Allah ada di mana-mana, yang paham ini telah menyebar di kalangan “aswaja” mayoritas organisasi Islam di Indonesia.
Ibnu Khuzaimah berkata: “Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84).
Ad-Darimi berkata dalam kitabnya: “Dalam hadits ini (hadits Mu’awiyah-pen) terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”. (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah hal. 46-47)
Tirmidzi berkata: “Telah berkata ahli ilmu : Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”. (Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218)
Imam Syafi’i berkata: “Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langit-Nya. (Adab Syafi’i wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 93)Adz-Dzahabi berkata setelah membawakan hadits Mu’awiyah, di kitabnya “Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Artinya : “Dan demikian ra’yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : “Di mana Allah ? “Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !. Di dalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa sallam”.
Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 69-76: “Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy. Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.”
Abdul Qadir Jailani berkata: “Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada di atas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).
Firman Allah “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4) menurut Ibnu Katsir ialah ilmu-Nya, pengawasan-Nya, penjagaan-Nya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Tafsir Qur’anil Azhim: 4/317)
An-Nawawi mengatakan dalam kitabnya “Juz Fi Dzikri I’tiqod Salaf fil Huruf wal Ashwath”: “Kami beriman bahwa Allah di atas Arsy-Nya sebagaimana Allah khabarkan dalam Kitab-Nya yang mulia. Kami tidak mengatakan bahwa Allah di setiap tempat, bahkan Allah di atas langit dan ilmu-Nya di setiap tempat”. Lalu beliau membawakan QS. Al-Mulk: 16, Fathir: 10, hadits budak wanita, lalu beliau mengatakan: “Demikian juga dalil-dalil lainnya dalam Al-Qur’an dan hadits banyak sekali, kami mengimaninya dan tidak menolaknya sedikitpun”.
Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas) berkata: “Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi di atas “Arsy” (Riwayat Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)
22/05/2011 pada 22:10
tuhan tidak di mana-mana, tetapi dimana-mana ada.
yang menyeliputi semua mahluknya termasuk manusia, bahkan orang kafirpun juga diliputi oleh-Nya.
sebab hamba di hadapan Tuhannya, bagaikan ikan yang ada dalam samudra, tidak ada satu selpun yang tdk kena air,
yang menamakan diri-Nya dengan nama “ALLOH”.
logikanya, setiap nama pasti ada yang punya, yaitu zat yang wajib wujud-Nya, yang muthlaq keberadaan-Nya, bila di gurukan kpd yang haq dan syah.
sebab barang siapa yang tdk punya guru (yg haq n syah) maka syetanlah gurunya.
08/04/2011 pada 22:14
ya…saya setuju dengan anda kayaknya yang mengelola dunia peantren bukan orang aswaja NU krn sngat brtentangan dengan orng NU…cz kl orng NU yg nglola pasti jwabannya tdk spt ini…tp jwbannya ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH
26/03/2011 pada 21:48
saya bingung dunia pesantren ini yg mengelola orang2 berfaham asawja nu atau salafi wahabi. Ko artikel bertentangan dgn faham aswaja nu.