Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Beberapa hari lalu ada seorang kawan yang ikut satu jama’ah dakwah mendatangi saya. Dia membawakan keterangan bahwa Ayah dan Ibu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah muslim. Bahkan ia mengatakan, orang yang meyakini keduanya meninggal sebagai musyrik dan kafir terancam akidahnya, dia bisa kafir. Mohon penjelasan tentang status kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?
Pak Yono – Bekasi Utara
________________
Wa’alaikumus Salam Wr. Wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Abdullah dan Aminah. Keduanya meninggal sebagai musyrik sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilarang memintakan ampun dan memohonkan rahmat untuk keduanya.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang-orang yang ada di sekitar beliau-pun ikut menangis. Karenanya beliau bersabda, “Aku telah meminta izin kepada Rabb-ku untuk saya beristighfar (memintakan ampun) baginya, namun Dia tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi (mengunjungi) kuburnya, maka Dia mengizinkan untukku. Karenanya, lakukan ziarah kubur, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.”
Dalam riwayat lain yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari hadits Ibnu Mas’ud bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya firman Allah,
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113) dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengutarakan bahwa kesedihan ini merupakan naluri sayang seorang anak terhadap orang tuanya. (Lihat: Al-Hakim dalam Mustadrak: 2/336 beliau mengatakan, “Shahih sesuai syarat keduanya –Bukhari dan Muslim-; Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwah: 1/189)
Dan terdapat tambahan keterangan dalam al-Mu’jam al-Kabir milik al-Thabrani rahimahullaah, bahwa Jibril ‘alaihis salam berkata kepada beliau,
فَتَبَرَّأَ أَنْتَ مِنْ أُمِّكَ، كَمَا تَبَرَّأَ إِبْرَاهِيمُ مِنْ أَبِيهِ
“Berlepas dirilah engkau dari ibumu sebagaimana Ibrahim berlepas diri dari bapaknya.” (Lihat juga Tafsir Ibni Katsir dalam menafsirkan QS. Al-Taubah: 113-114)
Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan berada di neraka.
Maka sangat jelas status Aminah (ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), meninggal di luar Islam dan berada di neraka.
Sedangkan riwayat yang menunjukkan bahwa ayah beliau (Abdullah) meninggal sebagai musyrik dan berada di neraka adalah hadits yang diriwayatakan Muslim dari Anas: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di manakah bapakku?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Maka ketika ia berbalik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bersabda:
إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka.”
Hadits ini menunjukkan bahwa ayah beliau meninggal sebagai orang kafir. Dan siapa yang meninggal di atas kekafiran maka dia di neraka, hubungan kekerabatan tidak berguna dan tidak bisa menyelamatkannya. (Lihat: Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: no. 302)
Maka hadits-hadits yang shahih di atas sangat jelas menyebutkan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal sebagai musyrik dan kafir, keduanya berada di neraka. Kenabian dan kerasulan beliau tidak bisa menyelamatkan keduanya dari neraka sehingga dilarang memintakan ampun untuk keduanya. Karena itu kita wajib meyakini kabar-kabar yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini dan membenarkannya.
Adapun hujah-hujah yang dijadikan sandaran orang yang berpendapat keduanya adalah mukmin dan meninggal di atas Islam sehingga mereka berada di surga adalah hujah yang lemah yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang telah disebutkan di atas.
. . hujah-hujah yang dijadikan sandaran keduanya adalah mukmin dan meninggal di atas Islam sehingga mereka berada di surga adalah hujah yang lemah yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya telah menyebutkan beberapa hadits yang mereka jadikan sandaran, namun beliau menyatakan hadits tersebut sebagai hadits gharib/asing dan konteksnya sangat aneh. Dan hadits yang paling aneh dan munkar adalah apa yang diriwayatkan al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Saabiq wa al-Laahiq dengan sanad yang majhul, dari ‘Aisyah dalam sebuah kisah bahwa Allah telah menghidupkan ibunya, lalu ia beriman kemudian kembali meninggal. (Ditinjau dari sanadnya, hadits ini dhaif sehingga tidak bisa dijadikan sandaran keyakinan. Ditambah lagi dia bertentangan dengan hadits Muslim yang shahih di atas)
Keterangan serupa juga diriwayatkan al-Suhaili dalam al-Raudh, dengan sanad yang di dalamnya terdapat sekumpulan perawi yang majhul (tidak dikenal): “Bahwa Allah telah menghidupkan kembali bapak dan ibunya, lalu keduanya beriman.”
Al-Hafidz Ibnu Dahiyyah mengatakan, “Hadits ini adalah maudhu’ (palsu), Al-Qur’an dan sunnah telah membantahnya.” Lalu beliau menyebutkan firman Allah Ta’ala,
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ
“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran.” (QS. Al-Nisa’: 18)
Imam al-Qurthubi mengingkari kesimpulan Ibnu Dahiyah di atas, bahwa secara syar’i dan ‘aqli memungkinkan Allah untuk menghidupkan lagi keduanya. Beliau berpendapat, kehidupan ini adalah kehidupan yang baru sebagaimana kembalinya matahari setelah terbenam sehingga Ali bisa melaksanakan shalat ‘Ashar. Beliau juga menguatkan kesimpulannya dengan keterangan yang pernah beliau dengar bahwa Allah menghidupkan kembali paman Nabi (Abu Thalib), lalu dia beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, pendapat ini (yang beliau sebutkan dalam al-Tadzkirah, hal. 17) adalah tidak benar dan bertentangan dengan hadits shahih riwayat Muslim dari Anas di atas yang menyebutkan bahwa bapaknya berada di neraka dan juga hadits yang melarang beliau dari memintakan ampun untuk ibunya.
Sedangkan pendapat beliau, pernah mendengar keterangan bahwa Allah menghidupkan kembali pamannya, Abu Thalib, adalah jauh dari benar. Karena di dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Abu Sa’id disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan syafaat untuknya di sisi Allah sementara dia (Abu Thalib) berada di neraka dengan dijadikan bara api di bawah telapak kakinya seketika itu otaknya mendidih.
Dan dalam Shahihain disebutkan, dari Al-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, Bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, yakni di bawah telapak kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Kalau begini keadaan Abu Thalib, bagaimana bisa ia disebut beriman?. Wallahu a’lam.
Bahwa penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, yakni di bawah telapak kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya.
Kalau begini keadaan Abu Thalib, bagaimana bisa ia disebut beriman?.
Penutup
Dari uraian di atas, ada beberapa point yang bisa kami simpulkan, sebagai berikut:
1. Larangan Allah terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memintakan ampun bagi ibunya, karena ibunya meninggal di atas kekufuran sehingga jelas tempat tinggalnya di neraka. Begitu juga beliau dilarang memintakan ampun untuk bapaknya, karena dia juga meninggal di atas kekafiran dan bertempat di neraka.
2. Status keduanya yang kafir dan musyrik disandarkan kepada riwayat-rriwayat yang shahih, salah satunya yang disebutkan Imam Muslim dalam Shahihnya.
3. Pendapat orang yang mengatakan bahwa bapak-ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di neraka dinasakh (dihapus) dengan hadits ‘Aisah yang diriwayatkan al-Khatib, tidak dapat diterima. Karena hadits tersebut dhaif dan juga bertentangan dengan hadits shahih lainnya.
4. Pendapat yang mengatakan bahwa ayah-ibu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di surga bertentangan dengan sunnah shahihah yang sangat jelas dan gamlang yang menerangkan keduanya berada di neraka dan tidak boleh dimohonkan ampun untuk keduanya. Wallahu Ta’ala a’lam.
5. Karena itu, siapa yang mengatakan bahwa keduanya sebagai orang kafir atau musyrik sehingga tempat tinggal mereka di neraka telah sesuai dengan dalil-dalil shahih. Maka orang yang menuduh orang yang memiliki keyakinan seperti ini sebagai orang yang lancang terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan akidahnya terancam batal adalah orang bodoh dan jahil. Ucapannya tidak perlu diperhitungkan karena bertentangan dengan hadits shahih.
6. Kami sarankan kepada orang yang memiliki keyakinan bahwa kedua orang tua Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang mukmin agar segera bertaubat, karena pendapatnya bertentangan dengan dalil-dalil shahih dan berlawanan dengan pendapat para ulama. (PurWD/voa-islam.com)
Oleh: Ust. Badrul Tamam









25/05/2012 pada 21:13
para NABI SELALU BERPINDAH DARI SULBI YG SUCI KE RAHIM YG SUCI PULA,
bahkn nabi IBRAHIM AS TELAH MEMOHN KPD ALLAH AGAR ANAK KETURUNANNYA TIDAK MENYEMBAH BERHALA,,
BUKANKAH NABI MUHAMMAD KETURUNAN DR NBI IBRAHIM JALUR NABI ISMAIL AS,,
/////??????????????
27/04/2012 pada 17:26
masalahnya.. kita tinggal mendudukan pengertian islam itu sendiri…
30/12/2011 pada 11:14
awal baca judul sudah menjawab mukmin, knapa harus ada pertanyaan seperti itu, mengundang banyak masalah, tolong jangan direspon. tak ada ceritanya Ibu dan bapak Nabi kafir. hadis2 yang dipakai adalah kesalahan, yang seharusnya untuk masalah nya Abu Tholib (paman Nabi), di mana ketika mendekati ajal, tak mau mengikuti lantunan syahadat oleh Nabi
07/11/2011 pada 06:30
terkdg ana heran dgn skp muslim skrg,sebagian mereka mempercayai perkataan org kafir drpd perkataan nabinya yg jls dan termakhtub dlm nash 2 yg shohih.ana setuju dgn pak ustad
04/11/2011 pada 11:06
sudahlah akhi,kita tidak perlu berdebat tentang hal itu,tidak penting bagi kita memperdebatkan hal iyu,kembalikan saja semu pada Alloh,yang paling penting bagaimana kita akan bertemu dengan Alloh dan Rosululloh kelak di akhirat,apakah perdebatan diatas menjamin kita masuk surga,beramal saja yang banyak dan tuntutlah ilmu Islam sebanyak mungkin dan sebarkan apa yang pernah Rosululloh sebarkan kepada manusia,jangan hal yang dapat menimbulkan perdebatan yang dikemukakan,itu bisa menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam.Tolong jangan cemari Islam dengan kerakusan,menganggap paling tau atau paling benar.wasalam
18/10/2011 pada 15:04
eyaaa….eyaaaaa……berantem sendiri-sendiri…..!!!!!
coba tebak, siapa yg bodo?
03/10/2011 pada 06:20
hati-hati terhadap tulisan anda…mungkin akan menyakiti perasaan Rasulullah SAW,,naudzubillah….
02/09/2011 pada 02:49
situs ini hanya akan memecah belah. ingat dan waspada!! bukan hanya ini saja tapi masih banyak lagi situs2 lain bahkan lebih ekstrim. mengaduk-aduk keimanan yang menimbulkan pemikiran radikal. artikel2 disini banyak yang melenceng dari kebenaran dan fakta di lapangan. semakin pesat dunia maya mungkin dijadikan sarana ampuh untuk sejumlah orang yg terdoktrin pemikirannya menyebarkan doktrin2 yg mereka anggap sudah sempurna dan mahatinggi. bnetengilah senantiasa iman anda sekalian. pintar2lah memilah sebuah informasi. gunakan juga hatinurani anda dan logika. terimakasih
22/08/2011 pada 10:15
Assalamualaikum Wr. Wb
Astaghfirullah Hal ‘Adzim, saudaraku yang menulis artikel ini segeralah sadar atas tindakanmu ini, sebetulnya situs ini adalah situs Salafi Wahabi yang menebar Fitnah sesama Muslim
dalam ayat Alquran yang artinya “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah:” ayat tersebut turun setelah Nabi Muhamad memintakan ampun kepada pamannya Abu Tholib setelah kematiannya karena sebelum meninggal Abu tholib di Bimmbing Oleh Nabi SAW untuk bersyahadat tetapi tidak mau dan tetap memeluk agama yang terdahulu, ini kesimpulan dari hadis (BUKHARI & MUSLIM) lho yang Shahih. cepatlah sadar wahai saudaraku yang menulis artikel diatas. Suwun
Wa’alaikumsalam Wr.Wb
28/07/2011 pada 11:14
Qta harus waspada dengan berbagai pembahasan dn isu2 kontemporer,…tidak sedikit semuanya adalah propaganda WAHABI,….
19/07/2011 pada 13:30
SESUNGGUHNYA SITUS INI ADALAH SITUS SALAFI-WAHABI, NAMUN WAHABI-SALAFI MEMANG DASAR PENIPU DAN KETURUNAN SETAN DARI NAJAD, MAKA SITUS INI MENAMAKAN SITUS ‘DUNIA PESANTREN’ DAN MEMASANG FOTO2 ULAMA N.U untuk menarik peminat Ahlusunnah. WASPADALAH WAHAI SAUDARA2!!!
Sebelum menanggapi hal diatas, perlu saya tekankan bahwa
1. ‘IBU DAN AYAH NABI SAW 1000% PERSEN ADALAH MUSLIM (AGAMA TAUHID)! Sebab SELURUH NABI2 DILAHIRKAN OLEH RAHIM2 YG SUCI (baca sejarah Nabi2)
2. Bani Hasyim ternyata ‘BUKAN PENYEMBAH BERHALA’ seperti bani-bani yg lain! (pelajari sejarah Bani Hasyim dan silsilah Rasulullah saw)
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa ayah-ibu Rasulullah saw. sejak Adam hingga Abdullah ibn Abdul Muththalib adalah orang-oraang yang beriman dan mengesakan Allah (Agama Tauhid)!!!”.
Adapun hadis2 diatas yg mengatakan Ayah dan Ibunda Rasululloh saw musyrik adalah kemungkinan besar PALSU!!! sehingga masih perlu dikaji dan diteliti lagi, sebab riwayat2 tentang PENGKAFIRAN atas kakek, ayah, ibunda dab paman Nabi adalah kerjaan kurcaci-kurcaci Bani Umayyah dalam rangka KAMPANYE utk mengangkat derajat Bani Umayyah dari KENAJISAN-NYA DAN KEDHOLIMANNYA dengan jalan MERENDAHKAN DERAJAT KELUARGA NABI SAW (BANI HASYIM)
Hal ini diperkuat dengan dibuatnya hadis2 ‘yg aneh’ yg sangat bertentangan dengan Al-Qur’an mengenai kemusyrikan Sayyidina Abu Thalib ra (Ayah Imam Ali) paman Nabi saw.
Dari Al Musayyib bin Hazn berkata:
Ketika Abu Thalib menjelang ajal, Nabi Muhammad menemuinya dan melihat ada Abu Umayah bin Mughirah. Nabi Muhammad berkata, “Wahai paman, ucapkanlah tiada yang patut disembah kecuali Allah, kalimat yang aku jadikan pembelaan bagimu di hadapan Allah!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata kepada Abu Thalib, “Apakah engkau akan meninggalkan agama nenek moyangmu, Abdul Muthalib?” Nabi Muhammad terus memintanya mengucap kalimat syahadat sedangkan dua orang tadi mengulang-ulang kalimat mereka hingga Abu Thalib mengatakan kepada mereka terakhir kali, ‘Aku mengikuti agama Abdul Muthalib dan menolak untuk mengatakan ‘tiada yang patut disembah kecuali Allah.’ Nabi berkata, “Demi Allah, aku akan tetap memohonkan ampunan Allah bagimu meskipun dilarang (Allah)!”
Lalu Allah menurunkan ayat 113 (Surah At-Taubah), “Tiada patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan Tuhan bagi orang-orang musyrik.” Kemudian Allah menurunkan ayat khusus bagi Abu Thalib, “Sesungguhnya Engkau (Muhammad) tidak dapat menunjuki orang yang engkau kehendaki, tetapi Allah yang memberi petunjuk orang-orang yang Ia kehendaki.” (QS. Al-Qashash : 56).
[Bukhari, kitab tafsir No. 4675 dan 4772, Muslim 24, Nasa`i; Sunan Kubro 250, 403, Musnad Ahmad 5/433, Ibnu Hibban dlm Shahihnya no. 978, Ibnu Jarir dalam tafsirnya 11/30, 20, Baihaqi dlm Dalail Nubuwwah 2/342-343, Al Hakim dlm Mustadrak 2/335-336 ngeriwayatin hadits tersebut dari jalur Sufyan bin Husen dari Az Zuhri dari Sa`id bin Musayyid dari ABU HURAIRAH].
Dari Abu Hurairah, berkata:
Rasulullah berkata pada pamannya, “ Ucapkan Laa Ilaaha Illallah, aku akan bersaksi untukmu pada hari kiamat “, Abu Thalib menjawab, “ Seandainya orang Quraisy tidak mencelaku dengan mengatakan “ Abu Thalib mengucapkan itu karena hampir mati ”. Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah.
[Muslim 25, Musnad Ahmad 2/434, Tirmidzi; Al Jami` 5/341 no. 3188, Ibnu Hibban; Shahih no. 6237,Ibnu Jarir: Tafsir 20/58, Baihaqi; Dalail Nubuwwah 2/344 -345, dan dari jalur Yazid bin Kaisan dari Abi Hazin Al Asyja`i dari Abu Hurairah]
Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata:
Disebutkan disisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda: ”Semoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih”.
[Bukhari 3885, 6564, Muslim 210, Ahmad 3/9, 50, 55, Ibnu Hibban dlm shahihnya 6238, Baihaqi; Dalail Nubuwwah 2/347, dan dalam Al Ba`tsu wan Nusyur no. 9, Al jauroqoni; Al Abathil I 238 dari hadits Abu Sa`id Al Khudri]
Dari Ali bin Abi Thalib, berkata:
Ketika Abu Thalib mati, aku mendatangi Nabi, kukatakan, “Wahai Rasulullah, pamanmu orang tua yang sesat itu telah mati. Jawab beliau, “Pergilah, kuburkan dia! Aku berkata, “Dia mati dalam keadaan musyrik”, jawab beliau, “Pergilah, kuburkan dia! dan kamu jangan berbuat sesuatu sampai datang kepadaku”. Lantas aku kuburkan kemudian aku mendatangi Nabi dan beliau memerintahkan aku mandi lalu aku mandi, kemudian beliau berdo`a dengan beberapa do`a yang mana aku tidak suka apabila do`a itu diganti dengan seluruh apa yang ada di permukaan bumi”.
[Ibnu Abi Syaibah 3/269, 347, Abdur Rozzaq; Mushonnaf 6/39, Ibnu Sa’d; Thobaqot kubra 1/124, Musnad Ahmad 1/97, 131, Nasa’i; sunan kubra 1/110, Abu Dawud no. 3214, Ibnu khuzaimah; Al Ishobah 1/117, Ibnu Hazm; Al Muhalla 5/123, Baihaqi;Sunan Kubro 1/110, Dalail Nubuwwah 2/102].
TANGGAPAN ATAS RIWAYAT SAYYIDINA ABU THALIB RA.
Keliatan jelas kalo para pencatat hadis di atas gak nge-check dan menimbangnya lagi dengan RASIO tentang keganjilan, keanehan dan keajaiban riwayat2 tsb.
1. Sayyidina Abu Thalib RA wafat dalam keadaan kafir adalah riwayat dari Al Musayyib bin Hazn dan Abu Hurairah. Padahal sudah disepakatin oleh Ahli Sejarah kalo Al-Musayyib bin Hazn masuk Islam setelah tumbangnya Mekkah dan kagak ada di tempat waktu Abu Thalib wafat.
Begitu juga Abu Hurairah masuk Islam pada waktu Perang Khaibar (Tahun ke-7 H), sementara wafatnya Sayyidina Abu Thalib RA adalah 2 th sebelum Nabi Hijrah ke Madinah.
Pertanyaannya, Apa mungkin Abu Hurairah bisa dengar hadis dari Nabi padahal dia waktu itu belum masuk Islam ? Padahal seperti diketahuiAbu Hurairah masuk Islam kurang lebih 9 tahun setelah wafatnya Sayyidina Abu Thalib…Ajaib …
Ditambah lagi dengan riwayat Dalam Tarikh Ya’qubi jilid II hal. 28 disebutkan: “Ketika Rasul SAW diberi tahu tentang wafatnya Abu Thalib, beliau tampak sangat sedih, beliau datang menghampiri jenazah Abu Thalib dan mengusap-usap pipi kanannya 4 kali dan pipi kiri 3 kali. Kemudian beliau berucap : “ Paman, engkau memelihara diriku sejak kecil, mengasuhku sebagai anak yatim dan menjagaku di saat aku sudah besar. Karena aku, Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu ”. Nabi lalu berjalan perlahan-lahan lalu berkata : “ Berkat silaturrahmimu Allah SWT melimpahkan kebajikan bagimu paman. ”
Dalam buku Siratun Nabi Saww yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, jilid I hal.252-253 disebutin: Abu Thalib meninggal dunia tanpa ada kafir Quraisy di sekitarnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat yang didengar oleh Abbas bin Abdul Mutthalib. Demikian pula dalam buku Abu Thalib mukmin Quraisy oleh Syeikh Abdullah al-Khanaizy diterangkan : bahwa Abu Thalib mengucapkan kalimat Syahadat seperti yg diriwayatkan oleh Abu Bakar
2. Surah At-Taubah 113, menurut para ahli tafsir, termasuk ayat yang terakhir turun di Madinah. Sementara Surah Al-Qashash: 56 turun pada waktu perang Uhud. Sekali lagi ingatkan, kalo Sayyidina Abu Thalib RA wafat di Makkah sebelum Nabi berhijrah. Jadi jarak antara ayat tsb dengan wafatnya Sayyina Abu Thalib jaraknya bertahun2, begitu juga jarak ayat antara At-Taubah dan Al-Qashas jaraknya juga bertahun2. lalu dalil dari mana ayat tsb adalah Asbabun Nuzul Kekafirannya Sayyidina Abu Thalib RA ? WEY WAHABI SESAT MIKIR DOOONG?
3. Dalam riwayat Abu Said Al-Khudri dibilang kalo Nabi bersabda: ”Semoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat…” Nah perkataan ini lebih aneh lagi! Memangnya boleh Nabi kasih syafa’at kepada orang Musyrik heh? Padahal Allah berfirman “Tiadalah patut bagi Nabi dan orang – orang yang beriman untuk memintakan ampunan bagi mereka bahwa orang-orang yang musyrik itu sekalipun orang orang yang musyrik itu kerabatnya sendiri. Setelah nyata bagi mereka bahwa orang-orang yang musyrik itu penghuni jahanam.”
Nah mendoakan aja gak boleh ape lagi memberikan.
4. Kalo riwayat dari Imam Ali dari sisi sanad ada yang namaya Najiyah bin ka’ab.
Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra bilang bahwa Najiyah bin Ka’b adalah dho’if, Al-Baihaqi menukil dari Ibnul Madini yang berkata kalo gak ada yang meriwayatkan dari Najiyah selaen Abu Ishaq, dan keadilan Najiyah gak diakui oleh Bukhari dan Muslim.
An Nawawi dalam Al Majmu’ 5/144, juga men-dhoifkan riwayat tsb. Ditambe lagi dari sisi matan, coba baca ucapan Imam Ali : ““Wahai Rasulullah, pamanmu orang tua yang sesat itu telah mati….” Perkataan kasar seperti ini diucapkan oleh Imam Ali? Padahal Nabi memerintahkan untuk menhormati kedua orang tua walopun bukan
muslim.
5. Sejarah telah mencatat dan tidak meragukan bahwa Sayyidah Fathimah binti Asad (Ibunda Imam Ali as) adalah seorang Mu’minah, nah kalo memang suaminya (Sayyidina Abu Thalib RA) adalah orang Musyrik kagak bakal Nabi diam saja, karena Allah melarang jika Muslimah atau sebaliknya memiliki pasangan hidup dengan orang Musyrik. Seoerti dalam firmanNya:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman…” (Surat: Al Baqarah ayat 221)
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” (Al-Mumtahanah : 10)
6. Bagi yang mau mempergunakan akal dan persaaan sedikit saja, maka akan terlihat bagaimana hebat dan kerasnya perjuangan Paman Nabi saw Abu Tholib dalam melindungi dan mendukung perjuangan Rasulullah saw dengan mengorabankan harta, kedudukan bahkan nyawa beliau demi dakwah Islam Rasulullah saw yg sangat disayangi dan dicintai nya melebihi anak kandung beliau sendiri!
ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD…
20/07/2011 pada 11:27
Saya mencantumkan tulisan ini bukan nya saya percaya dengan tulisan ini, hanya itu dikarenakan tulisan ini sangat kontroversi sehingga saya butuh pendapat anda semua tentang adanya tulisan ini yang menjelekkan ayah dan ibu rosulullah, saya sangat menghargai pendapat anda tentang tulisan ini terima kasih.
07/11/2011 pada 06:51
klu mang blm th lbh baik diam.antum sendirinya hanya mengandalkan emosi,ngk th sdh menghujat sana sini,apakah antum sdh pelajari btl siapa itu Muhammad Abdul wahab.berilmu dulu sebelum berkata dan beramal kata imam bukhari.
12/05/2011 pada 08:12
Anda menulis tentang Wali2, dan yang lain. tapi anda menganggap Orang tua rasulullah Kafir dan Masuk Neraka. naudzubillah.
12/05/2011 pada 08:11
Iya, Mengutip Via voa-islam.com
Saya sangat tidak setuju, pendapat Ust. Badru.
Hati saya benar2 sangat bertentangan dg pndapat anda.
11/05/2011 pada 20:11
satuju….ane malah mengira ust badru hanya mengutip saja…!! jadi ust badru tooolooong tuliskan kitabnya !!! okeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
10/05/2011 pada 09:26
Rahmat dan kesucian Jiwa semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
sudah dijelaskan dalam Alqur’an bahwa : “Tiadalah kami menyiksa terkecuali setelah datang kepada mereka Rasul” (QS Al isra 15).
maka jelaslah sudah bahwa Allah tidak menghukumi musyrik kecuali setelah ada nabi saw.
apakah itu musyrik?, tidak mengakui tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
ketika nabi dibangkitkan, lalu mengenalkan kalimat tauhid, maka mereka yg menolak itulah yg dibilang musyrik.
bukankah Yahudi dan nasrani sudah ada sebelum nabi saw lahir?, mereka mengakui Yesus sebagai anak tuhan, dan Yahudi mengakui Uzair sebagai anak tuhan, namun Allah tidak mengatakan mereka kafir atau musyrik, mereka dinamai Ahlul kitab, mulia dan suci, padahal mereka jelas jelas musyrik,
tapi setelah kebangkitan Nabi saw, lalu Nabi saw mengenalkan mereka kalimat tauhid, mereka tetap membantah maka barulah disebut kafir dan musyrik.
mengenai ucapan Imam Nawawi dan Imam baihaqi, saya jadi penasaran deh, coba anda pancing untuk mengemukakan hal itu, kitab apa, halaman berapa, saya akan cek, tampaknya mereka ini sebagaimana penyakit lama, gunting tambal.
lagi pula apa sih faidahnya berkeras kepala untuk menunjukkan bahwa ayah nabi mereka sendiri itu kafir,
kan lucu.., duh,, tapi saya penasaran saudaraku, coba anda pancing mereka mengemukakan bukti
demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
Rahmat dan kesucian Jiwa semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudaraku yg kumuliakan,
sudah dijelaskan dalam Alqur’an bahwa : “Tiadalah kami menyiksa terkecuali setelah datang kepada mereka Rasul” (QS Al isra 15).
maka jelaslah sudah bahwa Allah tidak menghukumi musyrik kecuali setelah ada nabi saw.
apakah itu musyrik?, tidak mengakui tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
ketika nabi dibangkitkan, lalu mengenalkan kalimat tauhid, maka mereka yg menolak itulah yg dibilang musyrik.
bukankah Yahudi dan nasrani sudah ada sebelum nabi saw lahir?, mereka mengakui Yesus sebagai anak tuhan, dan Yahudi mengakui Uzair sebagai anak tuhan, namun Allah tidak mengatakan mereka kafir atau musyrik, mereka dinamai Ahlul kitab, mulia dan suci, padahal mereka jelas jelas musyrik,
tapi setelah kebangkitan Nabi saw, lalu Nabi saw mengenalkan mereka kalimat tauhid, mereka tetap membantah maka barulah disebut kafir dan musyrik.
jika masalah abu thalib, seperti ini
Apa yg kau perbuat untuk pamanmu abu thalib?, dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu.., maka Rasul saw bersabda : “Dia di pantai api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yg terdalam” (Shahih Bukhari hadits no.3670, 5855, Shahih Muslim hadits no.209)
mengenai ucapan Imam Nawawi dan Imam baihaqi, saya jadi penasaran deh, coba anda pancing untuk mengemukakan hal itu, kitab apa, halaman berapa, saya akan cek, tampaknya mereka ini sebagaimana penyakit lama, gunting tambal.
lagi pula apa sih faidahnya berkeras kepala untuk menunjukkan bahwa ayah nabi mereka sendiri itu kafir,
kan lucu.., duh,, tapi saya penasaran saudaraku, coba anda pancing mereka mengemukakan bukti
demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
Bukankah lebih baik Berhusnudzan terhdap orang meskipun orang itu Kafir atau Mukmin, toh tidak berdosa. apalagi orang tua Rasulullah. Justru Jika mereka orang yang Mukmin tapi anda anggap Kafir, Malah Dosa Bagi anda menuduh orang Mukmin Kafir.
dikutip dari Habib Munzir al Musawa.
(Majelis Rasulullah),,
Menurut saya.
Jangan hanya menukil hadis tetapi tidak tahu Ilmu.
26/10/2011 pada 13:05
setelah membaca tulisan ini, hati saya menangis.
kok masih ada ya orang yg tega menyakiti hati nabinya.
mau denger gak tangisan saya ?
huuuu hu huuuu hu. sakit hati
sakit hati. saya gak terima.
beliau pensyafaat kita nanti di akhirat.
jangan kita bahas yg beginian akhiii.
saya takut
saya ngeri
kalo iman saya tercabut sebelum mati,
gara gara ngomongin yg beginian.
huuuuu. hu hu huhuuuu